
Aku tetap berada di UKS menemain Alan untuk mengobati kakinya yang terluka.
Walaupun hanya terkilir,Alan enggan melepaskan tanganku walaupun hanya sebentar.
Bahkan setelah perawat selesai memberikan perban untuk membalut kakinya dan pergi,ia masih menggenggam erat tanganku.
"Hei bisakah kau melepaskan tanganmu?" Aku berbicara dengan wajah kesal.
"Tidak," jawabnya tanpa ragu dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman senang.
"Aku lelah,bisakah kau melepaskannya?"
Aku tetap berdiri di sampingnya sejak tadi,kakiku sudah mati rasa begitu juga dengan tanganku yang terus berada di dalam genggamannya.
Aku mendengus, Alan tertawa pelan.Kemudian ia menarik tanganku dan mendudukkanku di sebelahnya.
Alan menyandarkan kepalanya di bahuku,"Hei,bisakah kau mengusap rambutku?"tanya Alan tiba-tiba.
"Untuk apa aku melakukan hal itu?"aku balik bertanya.
"Sudah lakukan saja," desak Alan.Tanpa mempedulikan pertanyaan yang aku lontarkan.
Dengan ragu aku meletakkan tanganku di rambut tebal miliknya dan mengusapnya perlahan.
Alan memejamkan matanya,menikmati sentuhan kecil yang ku berikan kepadanya."Lalu bagaimana jawabanmu tentang ajakan kencan yang aku berikan?Asal kau tau saja aku bukanlah orang yang sabaran?"Alan berbicara dengan santai.
Aku hanya diam tak menjawab.
Pintu UKS di buka dengan kasar,membuat kami berdua terperajat kaget.
Sontak aku mendorong Alan agar menjauh dariku lalu berdiri dengan kikuk.
Rafael berdiri diam mematung di ambang pintu,ia kemudian berdehem untuk mencairkan suasana yang canggung itu.
"Ehem...bagaimana keadaanmu Lan?bisa berjalan?" tanya Rafael sembari berjalan mendekat.
Aku tak tau harus berbuat apa di situasi ini,"aku pergi dulu....sampai nanti,"aku pun berjalan cepat menuju pintu dan menghilang dari pandangan Alan yang belum sempat membalas ucapanku.
Alan mendelik ke arah Rafael yang terlihat salah tingkah,"gara-gara kamu sih,"Alan mencebik kesal.
"Sorry....btw bisa jalan?"ulang Rafael.
"Mungkin,"
"Perlu bantuan?" tawar Rafael.
"Thanks,tapi aku masih bisa berjalan dan aku tidak memerlukan bantuan dari seseorang yang menghancurkan suasana."Sindir Alan.
Rafael mendengus,baru kali ini ia disindir oleh seorang Alan hanya karena seorang perempuan.
"Apa aku datang di saat yang tidak tepat?" gumam Rafael pelan.
"Apa yang sedang kau ocehkan?" tanya Alan.
"Tidak ada," sahut Rafael ala kadarnya.
Disisi lain Reindra terus merutuki kebodohannya, "Rein bodoh!Bagaimana kau bisa melakukan hal semacam itu?"
Aku mendengus,dan berjalan keluar dari sekolah menuju gerbang depan.
"Haruskah aku pergi jalan-jalan sebentar?"
Aku menghampiri penjaga gerbang dan meminta tolong untuk di bukakan gerbang,awalnya ia menolak namun aku terus membujuknya dan ia akhirnya mengizinkanku untuk keluar.
Aku menelusuri jalan yang tak terlalu besar,karena sekolah berada di daerah pinggiran yang penduduknya jarang,kami harus berjalan kaki setidaknya sekitar satu jam untuk bisa ke kota.
Menatap area sekitar sekolah yang ditumbuhi oleh semak belukar dan pepohonan serta jalanan curam yang menanjak dan juga licin jika hujan turun.
Aku terus berjalan hingga ke persumoangan jalan dan kemudian melangkahkan kakiku ke arah kiri yang mengarah ke pedalaman hutan yang lebat.
Tidak ada yang tau apakah tempat itu ada hewas buasnya atau tidak,yang jelas aku lebih memilih untuk tidak memusingkan hal itu dan terus saja berjalan.
Di tengah perjalanan aku dari kejauhan aku melihat ada sebuah rumah atau mungkin sebuah villa yang lumayan besar namun tak terurus atau sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Banyak dedaunan kering berserakan,dengan langkah mantap aku berjalan memasuki halaman rumah tersebut dan sedikit menunduk untuk menghindari semak yang bergelantungan di sekitar plafon dan juga di sekitar tiang.
Aku mendekat ke arah pintu dan perlahan mendorongnya agar terbuka,namun ternyata pintu itu terkunci.Aku mendesah kecewa,kemudian memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Sesampainya di sekolah,aku langsung kembali ke kamarku karena tidak ada jadwal kelas yang harus aku hadiri.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku duduk di kursi dan mengambil buku tulis serta pulpen yang berada di laci yang berada di bawah meja.
Aku menuliskan sesuatu di atasnya dan setelah selesai aku menaruh kembali buku dan pulpen itu di laci dan tak lupa menguncinya karena takut ada orang yang dengan lancang membacanya.
Aku berjalan keluar dari asrama,dan melangkahkan kakiku menuju perpustakaan.
Bagiku waktu berjalan dengan sangat lambat,entah kenapa semuanya mendadak membosankan.
"Tidak ada Kinan....Stella juga tidak ada...bahkan Syakira tidak terlihat beberapa hari ini.Apa dia sengaja menghindariku?"Pikiranku kalut karena terlalu memikirkan sesuatu dengan keras.
Aku menggelengkan kepalaku,"sudahlah Rein,bukankah kau selalu saja di tinggalkan?mengapa kau repot-repot memikirkan hal yang memusingkan?sudah jalani saja hidupmu."
Sesampainya aku di perpustakaan aku mendekati rak tinggi yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku mengambil salah satu buku biologi yang berada di rak kemudian memilih tempat duduk yang berada di pojokan.
Aku membuka halaman pertama dan mulai membacanya dengan serius.
Tak terasa waktu telah berlalu,dan hari semakin larut.
Aku beranjak menaruh buku itu dan keluar dari perpustakaan,sepertinya makan malam kali ini akan di lakukan lebih awal.
Di koridor aku berpas-pasan dengan Alan yang tengah bersenda gurau dengan Rafael dan Angga serta temannya yang satu lagi aku tidak tau siapa namanya.
Alan menegok ke arahku,dengan cepat aku memalingkan wajahku yang entah kenapa membuat pipi ku terasa panas.
Alan menghentikan langkahnya di ikuti dengan temannya,"Apa kau akan ke aula makan Rain?"tanya Alan.
Aku menoleh dan tersenyum canggung,"Y-ya apa kau juga akan pergi ke sana?"Alan tersenyum membuatku gugup tanpa alasan.
"Begitulah,apa kau ingin pergi bersama?" tawarnya.
"Apakah boleh?" tanyaku ragu sembari melihat kearah temannya.
Alan menyikut perut Rafael membuatnya meringis,Alan memberikan kode untuk berbicara,Rafael yang mengerti langsung angkat berbicara."Tentu saja," Rafael menyahut dengan senyum hangat yang tersungging di bibirnya.
Aku mengangguk dan mulai berjalan beriringan bersama mereka menuju aula makan.
"Apa kau kekasihnya Alan?" tanya teman Alan yang memiliki tinggi rata-rata dan memiliki wajah yang lumayan dengan kulit hitam manis.
"T-tentu saja bukan," aku menjawab dengan terburu-buru."Sekarang memang bukan,tapi aku tidak tau dengan nanti,"Alan menambahkan sembari melemparkan pandangannya padaku.
Teman-temannya tertawa,membuat wajahku memanas,"Ah,aku lupa memperkenalkan diri,"ujar teman Alan,ia kemudian mengulurkan tangannya padaku,"Perkenalkan,namaku Amran.Kau bisa memanggilku Ran,"katanya sembari tersenyum.
Saat aku akan menjabat tangannya dengan cepat Alan menepis tangan Amran dan menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Tidak boleh,tidak boleh memegang tangan pria
lain,"protes Alan dengan raut wajah kesal.
"Apa kau cemburu?" tanyaku sembari mengulum senyum.
"Ya,aku cemburu.Tidak boleh berpegangan dengan pria lain,"tanpa sadar aku tertawa dengan ekspresi geli,Alan yang ku kenal bagaimana bisa bersikap kekanak-kanakan begini?Aku memegang perutku yang sakit karena tertawa.
"Apa kau benar-benar Alan yang ku kenal?"langkah kami terhenti karena diriku yang tak bisa menghentikan tawa.
Alan terpaku melihatku yang tertawa lepas,tanpa sadar ia tersenyum manis membuat teman-temannya saling berbisik.
"I-itu Alan baik-baik aja kan?"tanya Rangga dengan cemas.
"Pastinya baik-baik aja,lagipula bukan hal yang aneh jika Alan jatuh cinta."Timpal Rafael.
" Aku benar-benar tidak percaya Alan bisa tersenyum seperti itu,rasanya sudah lama sekali semenjak kita melihatnya tersenyum begitu."Ujar Amran yang diam-diam tersenyum kecil.
Rangga dan juga Rafael mengangguk setuju,setelah tawa Reindra berhenti kami kembali berjalan menuju aula makan dengan Alan yang terus menerus mengganggu Reindra.