
Beberapa hari setelahnya,aku disibukkan dengan banyaknya tugas dan juga kegiatan lain.
Hingga penyelidikan kami terpaksa harus di tunda.
Kami sepakat untuk memulai pencarian,dan memulainya dari perpustakaan.
Aku tengah membuka buku yang telihat kuno yang ku ambil dari rak perpustakaan,kala dari luar seorang murid membuat kegaduhan di dalam perpustakaan.
Aku pun berhenti membolak-balikkan halaman buku,lalu berjalan menghampiri mereka.
"Aku melihatnya!Aku benar-benar melihatnya!" pekik gadis itu dengan tubuh gemetar.
"Hei,tenanglah.Apa yang kau lihat?" tanya temannya sembari menenangkannya.
Gadis itu berusia sekitar kurang lebih tiga belas tahun,dengan rambut pirang ikal serta kulit kuning langsat.
Ia terus saja mengoceh tentang 'aku melihatnya'.
Aku pun mendekat kearahnya dan membungkukkan badanku sedikit agar sejajar dengannya.
"Apa kau bisa memberitahuku apa yang kau lihat?" tanya ku dengan nada lembut.
Gadis itu menatap kearahku dengan pupil mata yang membesar."Apa kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa aku baru saja melihat seorang berjubah hitam baru saja membuang seseorang ke dalam sumur?"ia berkata dengan takut-takut sembari menyembunyikan tubuhnya di balik temannya.
Aku membelalakkan mataku, dan segera berlari menuju sumur yang berada di hutan belakang sekolah.
"Ya tuhan!Apa lagi ini?"gumamku,pikiranku kini di penuhi oleh tanda tanya besar yang belum menemukan jawabannya.
Dan sekarang,seseorang akan mati lagi.
Ini bahkan belum lewat satu hari sejak mayat seseorang di temukan di ruang kimia.
Aku menelan salivaku dengan kasar,berharap orang itu masih bisa di selamatkan.
Sesampainya aku di sana,para murid sudah mulai berkerumun di dekat sumur.
Aku berhenti berlari dan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
Lalu berjalan mendekat ke sumur itu.
Di dalam sumur terdapat tubuh seorang pria,kemungkinan berusia sekitar sembilan belas tahun,tubuhnya sudah mulai memucat dan terlihat memar di area sekitar lehernya.
Aku hanya bisa melihatnya sebentar.
Karena tak lama setelah itu,tempat itu sudah di beri garis polisi,dan polisi langsung mengamankan tubuh pria itu.
Aku berjalan pergi sembari memikirkan berbagai teori,serta alasan mengapa orang berjubah hitam itu melakukan hal-hal seperti ini?
Dan lagi entah siapa sasaran berikutnya.
Aku tidak lagi memiliki waktu untuk menyelidiki rumor yang ada di sekolah ini.
Aku lebih memfokuskan tentang siapa yang berada di dalam bayangan,dan melakukan hal ini.
Aku berjalan di sepanjang koridor,kebingungan sendiri karena tidak memiliki petunjuk yang memungkinkan.
Sebuah ide terlintas di benak ku,aku berjalan cepat menuju ruang kimia,yang mana disana telah di pasangi garis polisi.
Aku memerhatikan area di sekelilingku,memastikan bahwa tidak ada orang.
Perlahan aku berjalan melewati garis polisi itu,dan mendekati tempat dimana korban pertama berada.
Tidak ada lagi mayat di ruangan itu,aku berjalan mendekat kearah meja tempat mayat itu di temukan.Sembari memelankan suara langkah kakiku.
Aku memperhatikan dengan seksama, tidak ada yang istimewa disini.Jejak darah yang ditinggalkan juga telah membeku.
Sepertinya belum ada yang memasuki tempat ini,terkecuali aku.
Tanpa sengaja kakiku menginjak sesuatu.
Aku menundukkan kepalaku,dan mengambil sesuatu yang baru saja aku injak.
Sebuah pin?
Sebuah pin seukuran koin dengan ukiran bunga lavender di tengahnya menarik perhatianku.
Aku membalikkan pin itu,tapi tidak menemukan apapun yang menarik.Aku pun memasukkannya kedalam saku seragamku.
Tak jauh dari tempatku berada,terdengar decitan pintu yang di dorong.
Dengan panik aku mencari tempat untuk bersembunyi.
Namun tidak ada apapun disini,aku lalu memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja dan menahan napas ku.
Menunggu dengan cemas,apa aku ketahuan?
Suara pintu yang di dorong terbuka terdengar jelas,terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahku,semakin menambah rasa cemasku.
"Apa kau yakin menjatuhkannya disini?"
Aku menutup mulutku dengan cepat,aku mengenali suara ini.
Stella!Apa yang dia lakukan di tempat ini?
"Sudah ku katakan,aku hanya menduganya saja."
'Bukankah itu suara Vera?Apa yang dia lakukan disini?Dan Stella?Mengapa ia bersamanya?'batinku tak habis pikir.
Ada yang aneh disini,aku harus menyelidikinya.
Stella memang bertingkah aneh belakangan ini,ia bahkan seperti menjauhi kami.
"Cepatlah temukan benda itu," desak Stella dengan nada memaksa.
"Aku juga tengah mencarinya!Berhentilah mendesakku." Ketus Vera dengan nada tak senang.
'Apa yang mereka cari?'tanyaku dalam hati.
"Tidak ada,lupakan saja tentang mencari benda itu." Sungut Vera terdengar kesal.
"Apa kau bodoh?!Kau ingin orang lain tau tentang kita?Bagaiman jika semua hal yang telah kita lakukan akhirnya sia-sia?" kata Stella dengan marah.
'Apa maksudnya itu?'pikirku.
"Aku juga tidak ingin orang lain tau!Tapi,aku benar-benar tidak bisa menemukannya!Salahkan dirimu yang terlalu ceroboh sehingga membuat benda itu hilang."
"Sudahlah,mari kita berhenti disini."Kata Stella mengalah.
"Ayo pergi." Ajaknya.
"Hm."
Keduanya berjalan dengan cepat menuju pintu keluar,tak lama setelahnya terdengar suara pintu tertutup.
Aku menunggu.
Hening.
Tidak ada suara lain yang ku dengar selain auara deru napasku dan detak jantungku yang berpacu dengan cepat.
Aku kemudian keluar dari bawah meja,dan merapikan seragamku yang kusut.
Kemudian aku memeriksa arloji yang berada di tanganku.
Pukul lima setengah,bel peringatan akan segera berbunyi, aku kemudian bergegas keluar dari ruang kimia,sembari memastikan tidak ada orang di sekitar.
Dengan cepat aku menutup pintu,dan berlari menuju asrama.
Di balik tiang pilar, Alan tersenyum penuh arti sembari memasukkan ponselnya kedalam saku,dan berjalan kembali menuju asramanya.