
"Ah,Rein!Akhirnya aku menemukanmu." Ujar Syakira sembari berlari dan memelukku.
"Maaf,saat aku bangun aku tidak mendapati siapapun.Jadi aku keluar untuk menghirup udara segar." Dalihku.
"Lalu apakah sudah ada kabar dari rumah sakit?Apa yang mereka katakan?" tanya ku bertubi-tubi.
Syakira menatap lama ke arahku dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan.
Aku mencengkeram lengannya,dan menatap langsung ke matanya yang tampak kelabu di bawah cahaya lampu.
"Rein,bisakah kau berjanji satu hal sebelum itu?" tanyanya penuh harap.
"Apa itu?"tanyaku dengan raut wajah bingung.
"Berjanjilah padaku bahwa akan selalu baik-baik saja,tidak peduli apapun yang terjadi kedepannya." Syakira mengatakan hal itu sembari menatap mataku dengan sendu.
Aku tak mengerti akan apa yang ia katakan,aku hanya bisa menyetujui begitu saja.
"Kinan tidak akan kembali." Katanya sembari menjaga suaranya tetap lancar.
Seketika raut wajahku menjadi dingin,"Apa maksudmu?Mengapa Kinan tidak kembali?"aku bertanya dengan nada gusar,berbagai pemikiran buruk menghantuiku.
Aku mengoyangkan lengan Syakira sembari menatapnya dengan tanda tanya besar.
"Tolong beritahu aku."Lirihku memohon.
Aku memerosotkan diriku ke lantai yang dingin,Syakira masih tak bergeming,sekuat tenaga ia menahan air mata yang hendak keluar.
"Kinan..." seru Syakira dengan bibir bergetar.
"Kinan tidak akan kembali,dia sudah pergi...." tangisnya pecah,Syakira menangis dengan tubuh bergetar hebat.
Aku mencengkeram kuat rok yang ku kenakan,berusaha untuk tidak menangis,sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berteriak.
Aku kemudian berdiri dengan bersusah payah dan menuntun Syakira menuju kursi panjang yang berada tak jauh dari kami dan mendudukkannya di sana.
Aku menyandarkan kepala Syakira di bahuku,membiarkannya menangis.
Tatapan mataku kosong seketika,lidahku kelu.
Aku hanya duduk diam tak bergeming,tangisan Syakira masih bisa ku dengar,aku tidak bisa menenangkannya.
'Aku pasti akan mencari dalang di balik Kematian Kinan,pasti!''Batinku dengan penuh tekad.
Setelah Syakira merasa tenang,aku membawanya kembali menuju asrama,karena kamar asrama kami berbeda setelah mengantar Syakira yang berkata baik-baik saja.Aku berjalan dengan langkah pelan,melangkahkan kakiku menuju anak tangga yang menjulang.
Sunyi.
Mungkin karena sudah hampir jam malam.
Aku terus berjalan dengan pikiranku yang kalut.
Aku mengigit kuku jempol jariku sembari berfikir dengan keras.
"Aku benci mengakui bahwa aku tidak memiliki petunjuk apapun untuk menemukan pelakunya." Kataku dengan kesal.
Tangga panjang yang memutar dan menjulang ini tak pernah berhenti membuatku merasa seakan-akan ada sesuatu yang mengawasi ku dari kegelapan.
Aku berhenti di tengah-tengah koridor,lalu menatap area di sekelilingku dengan liar.
Aku merogoh saku rok ku dan menemukan sebuah pulpen yang berisikan pisau kecil di dalamnya.
Aku mengeluarkannya dari saku ku,dan menganti isi pulpen itu dengan pisau yang lumayan tajam.
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju kamar asrama sembari menggenggam erat pisau kecil itu dan menyembunyikannya dengan baik di balik lengan seragamku yang panjang.
Aku berjalan dengan cepat sembari mewaspadai area di sekitarku,Kinan mengatakan bahwa mereka mengincar ku sudah bisa di pastikan mereka akan segera menargetkan diriku.
Setelah sampai di kamar asrama aku segera menutup pintu dengan keras,membuat perhatian
teman sekamarku tertuju padaku.
"Ada apa Rein?" tanya Cia dengan nada lembut.
"Bukan apa-apa,"Sahutku sembari memaksakan senyum.
"Kau yakin?" tanyanya lagi.
"Yeah." Kataku dengan riang.
"Sudahlah Cia,ia mengatakan dirinya baik-baik saja.Jadi tidak perlu membuang waktu untuk bertanya."
Terdengar suara Viona dari arah ranjang atas.
Aku dan Cia langsung melihat ke asal suara,dan mendapati Viona yang tengah sibuk membenarkan masker wajahnya.
"Apa?Bukankah karena kau disini sudah seharusnya kau baik-baik saja?Jika tidak mengapa kau tidak menginap saja di UKS." Ketus Viona dengan nada tak bersahabat.
Aku mengabaikan apa yang ia katakan dan berjalan menuju ranjang ku,"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan ku Cia,tapi aku benar-benar baik-baik saja."Kataku bersungguh-sungguh.
"Tetapi bukankah Kin-"sontak Cia segera menutup mulutnya dan melihatku dengan rasa bersalah.
"Ma-Maaf...aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang hal itu." Cicit Cia dengan wajah tertunduk.
"Kau tidak perlu meminta maaf.Aku sungguh baik-baik saja." Tuturku lembut.
Cia menyunggingkan senyum canggung,lalu membaringkan dirinya di ranjang.
Aku mengambil handuk dan mengambil baju ganti lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak di luar kamar asrama.
Di luar satu-persatu lampu mulai di matikan,aku berjalan sembari menghidupkan senter kecil yang ku bawa.
Aku berjalan menyusuri koridor yang lenggang,dengan perasaan was-was.
Aku bergegas menuju kamar mandi,setelah mandi dan berganti pakaian dengan waktu yang singkat aku segera keluar dan berjalan kembali menuju kamar asrama.
Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang berasal dari arah lorong yang berada di sebelah kiri.
Sembari memegang pisau kecil dengan tangan kanan,aku berusaha untuk tidak menyebabkan suara sekecil apapun dan berjalan perlahan menuju lemari besar yang berisikan jubah dan masuk kedalam.
Langkah kaki itu kian mendekat,aku bahkan sampai menahan napasku karena rasa takut yang menjalari dirikusecara tiba-tiba.
"Apa kau yakin anak itu tinggal di lantai ini?" terdengar suara seorang wanita dengan nada mendesis.
Aku tidak dapat melihat wajah wanita itu,dan tidak mengenali suaranya,namun ia terdengar gusar.
"Tentu saja,aku sudah menghabiskan sebagian besar waktuku untuk memata-matainya.Dan asal kau tau saja itu bukanlah perkara yang mudah." Terdengar suara lain yang berbicara di sampingnya.
Dua orang wanita yang berjalan dengan jubah panjang dengan tudung serta membawa sebuah lentera.Aku mengintai di balik celah dengan rasa penasaran yang bergejolak.
'Apa mereka sedang membicarakanku?'batinku dalam hati.
"Lalu dimana anak itu?Kita sudah membuang terlalu banyak waktu karenanya.Kita harus mendapatkan benda itu kembali,akan sangat berbahaya jika ada yang mengetahui isi didalamnya."
"Tenanglah,semuanya akan berjalan sesuai dengan yang sudah di rencanakan. Kita hanya perlu membawa kembali benda itu,dan akan sangat beresiko jika kita menggunakan kekerasan."
Suara langkah kaki keduanya kemudian terdengar semakin menjauh,setelah merasa aman perlahan aku keluar dari dalam lemari.
Lututku lemas,"Apa mereka ada kaitannya dengan kematian Kinan dan murid-murid lain?"aku bertanya pada diri sendiri sembari melihat ke arah yang baru saja mereka lewati.
Aku berniat untuk mengikuti mereka diam-diam, namun karena minimnya informasi yang kupunya aku mengurungkan niatku dan berjalan kembali menuju kamar asrama.
Sesampainya di kamar,aku segera membaringkan tubuhku sembari menatap langit-langit kamar.
Mendengar suara dengkuran Viona dan bagaimana Cia mengubah posisi tidurnya.
Aku memejamkan mataku mencoba untuk tidur,namun sekilas ingatan terbesit begitu saja di kepalaku.
Aku bangkit dari ranjang dan mengambil buku catatan kecil yang di berikan Kinan beberapa hari yang lalu dari dalam laci yang berada di samping ranjang.
Lalu sembari mengendap-endap aku berjalan keluar sembari memegang sepatuku dan memasukkan catatan kecil itu ke dalam saku celana.
Aku berjalan bagaikan hantu melewati koridor,karena terlalu sering melewati jalan ini aku bahkan sampai hapal di mana letak tangga dan ruangan yang lain.
Aku berjalan sembari meraba di sekitar dinding,aku tidak ingin membuat keributan karena sengaja menyelinap keluar.
Perlahan aku menuruni tangga,dan bergegas menuju pintu belakang.Membuka pintu dengan perlahan,setelah mengenakan sepatu aku berjalan menuju jalan setapak yang akan membawaku menuju paviliun tua yang berada di belakang asrama.
Tempat yang di kelilingi oleh semak rambat dan tidak terurus.
Sebuah tempat yang tanpa sengaja kami temukan saat mencari kelinci peliharaan yang kabur,dan akhirnya kami menjadikannya tempat penelitian rahasia.
Aku menghidupkan senter dan berjalan melewati semak rambat dengan hati-hati.
Aku mengibas rambut dan bajuku yang terkena debu dan perlahan melangkahkan kakiku memasuki paviliun itu.
Aku berjalan ke arah perapian dan menghidupkan lilin yang berada di atasnya dengan pemantik dan membawa lilin itu menuju meja tua yang berada di tengah ruangan.
Aku mendudukkan diriku di sofa lapuk dan mendekatkan catatan itu ke arah nyala lilin.
Aku membuka halaman pertama dari catatan itu dan mulai membaca.Tulisan tangan Kinan yang rapi membuat dadaku sesak sejenak saat menyadari bahwa dirinya tidak lagi bersama kami.
12 Desember 2019
Di kutip dari:
William Shakespeare:
Ketika kekasihku bersumpah bahwa hatinya tulus, aku mempercayainya, meskipun aku tahu ia berbohong.
25 Desember 2019
Malam Natal yang sangat indah,sayang sekali aku hanya bisa menikmatinya sendiri jika saja di perbolehkan aku akan mengajakmu mereka merayakan Natal bersama denganku.
Angin malam yang sejuk membuatku merinding,setelah berjalan-jalan di sekitar taman aku memutuskan untuk kembali.
08 Januari 2020
Akhirnya liburan telah usai!Tunggu aku semuanya!
Aku tersenyum membacanya,lalu membalikkan halamannya.
13 Januari 2020
Aku bergidik ketakutan,untuk pertama kalinya dalam hidup aku melihat sesosok tergeletak tak bernyawa di ruang kimia.
Aku menutup mulutku dan berjalan menjauh dari tempat itu.
Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan.
Dan lagi itu terjadi dua hari setelah kami kembali ke sekolah?!bukankah itu mengerikan?!
Aku mengangguk menyetujui,aku kemudian kembali membaca halaman yang berada di bawahnya.
18 Januari 2020
Lagi-lagi ada orang lain yang mati.
Tapi mengapa?
Apa itu ada kaitannya dengan misteri sekolah yang sedang kami selidiki?
Apa karena kami juga mereka kehilangan nyawanya?
Saat membaca garis terakhir dari halaman itu aku tertegun,aku bahkan tidak pernah memikirkannya.
Aku kemudian menutup buku itu dan mematikan lilin.
Aku bangkit berdiri di tengah kegelapan yang mendominasi.
Aku menaruh buku itu kedalam saku dan mengambil pisau kecil yang segaja aku bawa untuk sekedar berjaga-jaga.
Aku mendengar dengan seksama area di sekelilingku,menatap dengan liar di tengah kegelapan.
Hanya berbekalan insting aku berjongkok dan menunggu,dari arah luar terlihat cahaya temaram yang mendekat,aku kemudian bersembunyi di belakang sofa dengan rasa panik yang menjalari.