The Only Time

The Only Time
Tiga



Meja tinggi para guru duduk di sebuah podium di bagian atas ruangan.


Tempat itu perlahan di penuhi dengan para siswa-siswi yang mengenakan seragam merah-hitam-biru yang sama.


Kuamati mereka sekilas,kemudian berjalan menyeberang ke tempat dimana teman-teman ku duduk berdampingan.


"Hei,"sapa ku,kemudian mendudukkan diri di salah satu kursi kayu yang kosong di samping Syakira.


"Bagaimana dengan liburan kalian?" tanyaku


"Ya,itu kurasa berjalan dengan baik." sahut Kinan menimbang-nimbang.


"Ah,liburan sangat singkat," keluh Stella


"Kurasa itu tidak terlalu menyenangkan,karena tidak ada dirimu Rein." ujar Syakira sembari melirik kearahku.


Aku hanya tersenyum menanggapi, mendengar cerita mereka membuatku merasa sedang baik-baik saja,setidaknya untuk saat ini.


"Apa kalian juga mencari informasi tentang hal yang aku bicarakan di akhir semester lalu?"


"Ya,aku mencarinya.Dan menemukan beberapa informasi yang berguna."


"Kau tidak berfikir bahwa kau saja yang mendapatkan nya bukan?aku juga mencarinya di saat senggang dan menemukan beberapa."


"Well,tidak banyak informasi yang aku temukan.Mungkin saja aku hanya menemukan informasi dasar yang telah kalian ketahui."


"Hei,aku tidak menyuruh kalian mencari Informasi seakan-akan kalian bertanding,astaga!"protes ku sembari menggelengkan kepalaku.


Ke-tiganya menatapku dengan tatapan penasaran, aku meneguk salivaku dengan kasar karena tatapan itu.


"Lalu bagaimana dengan mu?"tanya mereka dengan kompak.


"Ya...Aku akan memberitahukan kepada kalian nanti,temui aku di ruang klub." aku menjawab sembari mengalihkan pandangan ku kearah lain.


"Tidak adil!" protes Stella dengan wajah cemberut.


Sedangkan Kinan dan juga Syakira hanya diam tak menanggapi.


Aku hanya bisa melarikan diri untuk saat ini,karena saat liburan aku hanya bersenang-senang dan hampir lupa untuk mencari hal yang sangat di perlukan oleh kami.


Kami pun membahas hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan informasi yang kami butuhkan.


Lalu bel yang lain berbunyi,para siswa-siswi melompat berdiri ketika para guru masuk dan mengambil tempat mereka.


Miss Hilda Amalia, yang bertanggungjawab atas para murid yang lebih tua,berdiri di depan seluruh penghuni sekolah dan menyampaikan doa serta pidato singkat.


Aku hanya mendengarkan dengan baik, aku cukup mengaguminya,aku bahkan tidak tahu mengapa aku menyukainya.


Tidak ada alasan,aku berkata kepada diriku sendiri.


Aku menghela nafas pendek dan menghembuskan nya perlahan.


Pidatonya berakhir, kami pun kembali duduk di kursi.


Terdengar gesekan meja-meja serta bangku-bangku serta suara desakan para murid.


"Sebelum kita mulai makan,ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada kalian.Pertama-tama aku ingin menyambut kembalinya kalian kesekolah ini," ujar Miss Hilda dengan suara lantang.


"Lalu,aku berharap dikemudian hari bahwa kalian akan menjadi siswa-siswi teladan,yang membanggakan.Dan yang terakhir aku juga berharap bahwa tidak ada perkelahian diantara murid sekalian dan kalian akan menjaga kerukunan antar sesama."


Saat Miss Hilda berkata demikian,sontak aku langsung melirik kearah teman-temanku yang ternyata juga sedang melirik ke arahku dengan tatapan mata elang.


Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari mereka,dalam hati aku bergidik mengingat hal yang aku lakukan di awal semester,ketika aku tersesat di antara bangunan sekolah yang luas,dan membuat keributan dengan seorang senior.


Teman-temanku berusaha untuk menenangkan ku kala itu,namun aku terus bersikeras untuk membalas senior itu.Alhasil, kami berdua di hukum untuk membersihkan pekarangan sekolah yang luas selama seminggu.


'Aku tidak akan pernah terlibat dengan hal semacam itu lagi,tidak akan.'Batinku dalam hati,mencoba untuk meyakinkan diri sendiri.


"Silahkan nikmati makan malam kalian.Sesudah itu bel malam akan berbunyi lebih awal,karena ini adalah hari pertama kalian kembali kesekolah dan kalian pasti kelelahan karena perjalanan kalian.Untuk itu beristirahatlah lebih awal."


Kemudian piring-piring mulai di keluarkan dari dapur oleh para pekerja,piringan-piringan besar makanan di tempatkan di setiap meja dan para murid melayani diri mereka sendiri.


Para murid terbiasa melakukan sesuai yang diperintahkan.Bhayangkara menekan keras tentang Sopan santun dan rasa disiplin yang tinggi.


Aku mengambil sendok dan garpu,lalu mulai memakan makan malamku dengan tenang.


Begitu juga dengan teman-teman ku yang lain.


Seraya mengambil makananku,aku memandang sekeliling.Alan berada meja makan yang berseberangan denganku.Telihat ia tengah menikmati makanannya sembari berbincang dengan Angga dan teman-temannya yang lain.


Aku mengalihkan perhatian ku darinya.Tak lama setelahnya makan malam pun berakhir.


Setelah pembacaan doa sebentar,guru-guru mulai beranjak keluar,di ikuti barisan para murid.


Aku menghentikan langkahku, Syakira yang menyadari hal itu juga berhenti,dan membalikkan badan berjalan menghampiriku.


"Ada apa?"tanyanya.


"Bukan apa-apa,aku hanya sedang tenggelam dalam pikiranku saja." Aku berkata sembari tersenyum simpul.


Syakira hanya menghembuskan nafas panjang, ia kemudian menarik tanganku dan menyeretku menuju asrama.


"Baiklah,aku tidak akan bertanya lebih banyak jika kau tidak ingin memberitahuku."


Aku hanya tersenyum mendengarnya, Syakira adalah gadis yang sangat baik.Ia tidak pernah memaksaku untuk mengatakan apapun yang di pikiran ku.


Aku menoleh kebelakang,di tengah-tengah kegelapan aku seperti melihat sesosok yang mengenakan jubah hitam.


Sosok itu hanya diam berdiri di dekat tiang pilar,tidak bergerak sedikit pun.


Aku kemudian mengalihkan pandanganku darinya.


Aku berjalan berdampingan dengan Syakira menuju asrama kami.


....


Aku merebahkan diriku di ranjang,setelah menganti seragamku dengan baju tidur.Aku menatap langit-langit kamar yang berwarna biru pucat,di sinari oleh cahaya bulan yang terang.


Perlahan aku mulai memejamkan mataku dan tak lama setelahnya aku pun tertidur.


Aku terjaga tiba-tiba dari tidurku.Dan langsung terduduk di ranjang ku karena rasa terkejut.


Aku menoleh ke arah jendela kamar,di sana sosok berjubah hitam yang aku temui di aula makan tengah berdiri,tidak lebih tepatnya melayang di dekat jendela kamar.


Sosok itu terus menggedor-gedor jendela dengan sangat keras,dan itu terdengar sangat berisik.


Aku menutupi kedua telinga ku menggunakan tanganku,aku melirik ketempat Syakira dan juga Vera yang tengah terlelap di ranjang sampingku.


Aku bergidik ketakutan,'apa mereka tidak mendengarnya?'tanyaku dalam hati.


Aku kemudian menutupi seluruh tubuhku dengan selimut,mencoba untuk kembali tidur.


Tanpa sadar aku mulai tertidur di tengah ketakutan yang aku rasakan.


....


Pagi harinya,aku terbangun oleh Syakira yang mengguncang tubuhku perlahan.


Aku mengedipkan mataku,menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar.


Kembali mengingat kejadian semalam,aku menolehkan pandanganku ke jendela.


Tidak ada apapun di sana.


Aku pun menghembuskan napas lega.


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Syakira sembari menolehkan pandangannya ke jendela.


"Bukan apa-apa."Sahutku cepat,aku mendongakkan kepalaku dan mendapati Syakira yang telah siap dengan seragamnya.


Syakira hanya bisa pasrah,ia tidak menanyakan apapun lagi kepadaku.


"Cepatlah bersiap,bel akan segera berbunyi.Kau tidak ingin terlambat ke ruang kelas di hari pertamamu kembali bukan?" ujar Syakira sembari berjalan menuju pintu keluar.


"Aku akan pergi duluan,sampai bertemu di ruang kelas Rein." Setelah berkata demikian Syakira membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.


Aku menatap punggung yang telah menjauh,dan kemudian beranjak dari ranjang ku.


Bersiap untuk pergi kekelas.


Setelah mandi,dan mengenakan seragamku.


Aku berjalan dengan terburu-buru menuju ruang kelas yang berada di bangunan yang berbeda dengan asrama kami.


Di koridor yang mengarah ke bangunan selatan,terlihat banyak murid tengah berkerumun di sekitaran.


Aku memandang mereka dengan rasa penasaran, aku kemudian berjalan menghampiri mereka.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya ku pada salah satu dari mereka.


"Seseorang sepertinya terbunuh tadi malam,dan mayatnya di biarkan tergeletak di atas meja ruang kimia,dalam keadaan yang tidak bisa di jelaskan." jawab salah satu murid perempuan bernama tag Lisa.


Aku pun mengangguk pelan,dan berjalan mendekat ke ruang kimia yang di kerumuni oleh para murid.Namun seseorang menarik kerah bajuku dari belakang dengan cepat,hingga aku terhuyung ke belakang.


Aku menoleh ke belakang,melihat siapa yang telah menarik ku.


Seorang pemuda dengan seragam yang sama denganku,tengah menatapku sembari tersenyum.


Dengan kesal,aku menepis tangannya yang menarik kerah bajuku,dan merapikan seragamku.


"Apa yang kau lakukan?" tanya ku dengan ketus seraya menatapnya.


"Hanya sedang membuang-buang waktu saja." sahutnya dengan senyuman yang lebar.


Aku melihatnya dengan sinis,kemudian berjalan menjauhinya.Namun dengan cepat ia menarik lenganku hingga aku menubruk tubuhnya.


Tubuhnya yang tinggi serta dadanya yang bidang untuk sekejap membuatku terkesiap.


Aku kemudian mendorongnya dengan kasar.


"Berhentilah menggangguku,Alan!" aku berkata dengan suara keras hingga membuat perhatian para murid yang lain teralihkan kepadaku.


Sedangkan Alan hanya bisa menahan tawanya,melihat ekspresi kesal di wajahku.


Karena perhatian para murid di sekitarku membuatku tak nyaman,aku kemudian berlari dengan cepat menerobos kerumunan para murid menuju ruang kelas matematika yang terletak sekitar delapan ratus meter dari ruangan kimia.


....


Sesaat setelah berada di ruang kelas matematika,aku mencoba mengatur deru napasku yang terengah-engah.


Di dalam kelas,Kinan yang melihatku berada di ambang pintu melambaikan tangannya mengisyaratkaku untuk mengambil tempat duduk di sampingnya.


Aku kemudian berjalan mendekat kearahnya,dan mendudukkan diri di sebelahnya.


Meletakkan kepalaku di atas meja sembari menahan rasa kesal yang masih tersisa.


"Apa kau sudah mendengarnya?"


"Tentang apa?"


"Tentang mayat seorang murid yang tergeletak di ruang kimia?"


"Ya,aku sudah mendengarnya.Namun aku tidak mengetahui detailnya."


"Aku sudah mencoba masuk ke ruang kimia,tapi pria itu mengganggu.Hingga aku memilih untuk kesini dan melupakan tentang mayat itu."Aku berkata sembari mendengus.


"Polisi masih belum datang,dan sepertinya Miss Hera akan terlambat untuk mengajar." Ujar Kinan sembari meletakkan beberapa buku di atas meja.


"Sebaiknya kita membahas tentang hal itu nanti,temui aku di ruang klub." Pesanku pada pada Kinan.


Ia hanya mengangguk setuju lalu mengeluarkan ponselnya dari saku,dan mengetikan sesuatu di atas keyboard.


Ia kemudian kembali memasukan ponselnya ke dalam saku,dan menoleh ke arahku.


"Aku sudah mengirimkan pesan Syakira dan juga Stella."Ujar Kinan memberitahu.


Aku kemudian menegakkan tubuh,dan memfokuskan pandanganku ke arah papan tulis putih besar kosong yang berada di belakang meja guru.


Kemudian mengalihkan pandanganku kearah pintu,Miss Hera berjalan masuk sembari membawa beberapa buku yang lumayan tebal di tangannya dan berjalan menuju meja guru.


Ruang kelas yang awalnya bising,mendadak sunyi kala ia memasuki ruang kelas.


Pelajaran matematika berjalan dengan lancar.Aku menyelesaikan tugas yang di berikan padaku dengan cepat.


Menuliskan semua tentang rumus-rumus rumit,dan berbelit-belit dengan tergesa-gesa.Seolah-olah aku sedang lari maraton.Segera setelah menyelesaikannya aku mengangkat tanganku.


"Bisakah aku keluar?"


"Kau menyelesaikannya dengan cepat,Reindra."kata Miss Hera dengan dingin."Kerja bagus."


Aku berjalan dengan langkah lebar di koridor sekolah,beberapa siswa-siswi terlihat tengah berlalu lalang di koridor,dan membentuk kelompok kecil,lalu bergosip.


Aku berjalan menuju taman yang berada tak jauh dari ruang kelas yang baru saja aku tinggalkan,dan mendudukkan diri di salah satu kursi taman.


Mengeluarkan ponselku dari saku,dan membuka aplikasi WhatsApp dan memeriksa apakah ada pesan yang masuk.


Karena tidak ada pesan yang begitu penting,aku pun keluar dari aplikasi itu dan membuka YouTube.


Dan memutar video musik.