
Setelah makan siang,aku berjalan menghampiri Syakira dan menyeretnya keluar dari aula makan menuju aula musik yang berada tak jauh dari lokasi kami.
Setelah menutup pintu aula musik,Syakira berdiri di depanku sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Aku menaikkan sebelah alisku keheranan,"katakan padaku apa yang sudah terjadi selama aku tidak masuk kelas."Pinta ku.
Ia mendengus"aku tidak bisa memberikanmu Informasi yang kau minta,setidaknya tidak sampai-"
pembicaraan kami terpotong kala terdengar suara jeritan histeris yang terdengar dari arah luar.
Aku dan Syakira saling pandang,kemudian dengan cepat kami berlari keluar menuju asal suara itu.
Kami menghentikan lari ketika sudah berada di belakang kerumunan.
Aku dengan tergesa-gesa menerobos kerumunan itu untuk melihat lebih dekat apa yang sudah terjadi.
Aku membelalakkan mata dan segera mendekati tubuh Kinan yang tergeletak bersimbah darah di tengah-tengah halaman sekolah."A-Apa yang terjadi?Kinan,kinan..."aku terus memanggil-manggil namanya sembari memangku kepalanya.
Kinan tersenyum,ia kemudian memberi isyarat untuk mendekat.
"Hati-hati,me-mereka mengincarmu."Bisik Kinan dengan susah payah.
Aku tidak menghiraukan perkataan Kinan,aku sibuk menutupi luka menganga yang berada di perutnya dengan sapu tangan yang miliki.
Seragam sekolahku basah karena darah yang terus merembes keluar dari luka Kinan.
"Kau harus berhati-hati,orang itu mengincarmu."
Lirih Kinan.Kinan menitikkan air mata sembari menahan rasa sakit yang tak tertahankan akibat luka yang menganga.
"Kumohon bertahanlah,"lirihku sembari terisak.
"Dokter!Aku butuh dokter!Tolong panggilkan ambulans!" teriakku dengan lantang.
Perlahan-lahan tubuh Kinan mulai mendingin, "Tidak,tidak,tidak....Kau harus bertahan...kumohon bertahanlah...."
Aku terus berusaha menghentikan pendarahan Kinan dengan sapu tanganku.
"Kau harus berhati-hati...dengan begitu aku tidak akan pergi dengan sia-sia karena sudah memperingatkanmu..."
Tangan Kinan berusaha menggapai ku,aku menggenggam tangannya dengan erat.
"Kumohon....tolong bertahanlah..."
Aku terus menangis,tak lama kemudian suara ambulans terdengar dari kejauhan.
Beberapa orang yang memakai pakaian perawat berlari kearahku dengan terburu-buru dan mengambil alih tubuh Kinan yang sekarat.
Tubuhku masih bergetar hebat,aku bahkan tak mampu berdiri.Aku masih terduduk di lantai semen dengan seragam sekolah yang basah karena darah.
Aku berusaha menenangkan diriku,Syakira berjalan kearahku dengan raut wajah cemas.
Para murid mulai di bubarkan oleh petugas polisi yang datang bersamaan dengan ambulans.
"Rein,apa kau terluka?"tanya Syakira sembari memeriksa tubuhku.
"Aku baik-baik saja..." kataku dengan bibir yang masih bergetar hebat.
"Syukurlah..." ujar Syakira sembari memelukku erat.
"Tenanglah,Kinan akan baik-baik saja."Sambungnya.
Aku mengangguk,para polisi masih sibuk menyelidiki TKP.
Syakira membimbing ku menuju pinggir halaman,dan mendudukkanku di salah satu kursi panjang yang berada di bawah pohon.
Aku merasa seolah-olah waktu terhenti kala itu,aku mengigit jari tanganku untuk menenangkan diri,namun hal itu tidak berhasil.
Yang ada hanya rasa gugup dan rasa takut yang bertambah.
Syakira menatapku dengan iba,ia kemudian melepaskan blazernya dan memberikannya padaku.
"Tenanglah,Kinan akan baik-baik saja."
Syakira terus menenangkanku,namun aku seolah tak mendengar ucapannya.
Suara di sekelilingku seakan-akan menghilang,tiba-tiba saja aku merasakan rasa sesak yang tak tertahankan.
Napasku menjadi berat dan memburu."Rein kau baik-baik saja?Tunggu disini aku akan segera kembali."Melihat kondisiku yang seperti itu,Syakira segera berlari meminta pertolongan.
Rasa sesak terus menjalari tubuhku,aku memukul dadaku dengan keras,berharap rasa sesak ini berhenti detik itu juga.
Aku kemudian jatuh berlutut di tanah,beberapa murid yang masih berada di sekitar lokasi itu berlari menghampiriku dan membawaku menuju UKS.
'Mereka mengincarmu....'
'Berhati-hatilah....'
Suara Kinan terus terngiang-ngiang di otakku,sesampainya di UKS,beberapa murid di minta untuk memegangiku dan perawat memberikanku obat penenang.
Perlahan aku mulai merasa lelah,pandangan mataku mengabur,tak lama setelahnya aku jatuh tertidur.
Saat aku terbangun hari sudah gelap,aku bangkit dan turun dari ranjang.
Ruang UKS itu tampak sepi dan sunyi.
Tidak ada siapa pun di tempat itu selain diriku.
Aku berjalan dengan langkah gontai keluar dari ruangan itu,bayang-bayang tubuh Kinan yang bersimbah darah masih ku ingat dengan jelas.
Aku mengangkat kepalaku,menatap lurus ke depan.
Koridor yang lenggang terlihat sedikit menakutkan.
Cahaya lampu yang menerangi nya tak mampu menyembunyikan betapa menyeramkannya tempat itu.
Di tengah koridor aku menghentikan langkahku,aku tidak lagi menangis,hanya diam dengan ekspresi dingin dan tatapan kosong.
Aku menoleh ke arah kiri,di ujung lorong sesosok berjubah hitam terlihat sedang berdiri sembari mengamati ku.
Aku tak bergeming,"Apa kau yang menyebabkan Kinan terluka?"suaraku yang lumayan keras menggema di sekitar tempat itu.
"Itu bukan aku," suaranya yang berat dan menyeramkan terdengar dari sosok itu.
Spontan aku melangkah mundur,tak menyangka jika sosok itu dapat berbicara.
"Aku akan memberitahumu sebuah rahasia." Ujarnya,aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya yang tertutup tudung jubah namun aku sangat yakin bahwa sosok itu adalah seorang pria.
"Apa itu?" aku bertanya sembari bersikap waspada.
"PIN,PIN itu akan membuatmu menemukan siapa pelaku di balik semua kejadian yang terjadi di tempat ini."
"Namun,satu hal yang harus kau tau.Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini,kau akan membayar mahal atas semua yang telah kau lakukan." Katanya memperingatkan.
Aku meneguk saliva ku dengan kasar,tak lama sosok itu kemudian menghilang di kegelapan yang menyelimuti lorong itu,aku berniat untuk mengejarnya namun dari arah belakangku terdengar suara Syakira yang terus memanggilku.
Aku mengurungkan niatku untuk mengejarnya,dan berbalik menuju asal suara Syakira yang memanggilku.