The Only Time

The Only Time
Sepuluh



Aku membuka mataku perlahan,dengan malas aku meraba-raba meja nakas yang berada di dekat ranjang.


Mencari-cari ponselku,sedetik kemudian aku tersadar,lalu aku hanya bisa bangun dengan perasaan jengkel.


"Hah,menyebalkan,kemana hilangnya ponsel itu?" gerutuku pelan.


Di luar langit sudah mulai beranjak senja,ternyata aku tidur seharian.


Aku bangkit berdiri sembari menopang tubuh ku pada tongkat,lalu berjalan perlahan kamar mandi yang berada di luar asrama.


Lorong asrama masih sepi,mungkin para murid masih di berada di sekolah.


Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk turun ke lantai dasar,aku hanya bisa berjalan-jalan di lorong tanpa tujuan.


Di ujung lorong,terdapat sebuah balkon yang lumayan besar,aku berjalan mendekat pada pembatas balkon,lalu menurunkan pandanganku pada rerumputan hijau yang berada di pekarangan.


Membiarkan semilir angin dingin menerpa wajahku,hutan yang berada di balik tembok terlihat begitu menyeramkan di bawah cahaya matahari yang redup.


Dan hanya menyisakan sebagian besar bayangan,dari arah belakang terdengar suara gaduh.


Aku memutar setengah tubuhku menghadap ke belakang.


Namun aneh,bagaimana tidak lorong itu kosong,tidak ada siapapun di sana.


"Aneh,apa itu hanya perasaanku saja?"


Aku menelan ludah,lalu memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu.


Di lantai asramaku terdapat sebuah ruang baca yang penuh dengan buku.


Aku biasanya mampir ke tempat itu hanya untuk beristirahat atau hanya untuk menghabiskan waktu.


Aku memilih untuk pergi ketempat itu,aku masih tidak ingin kembali ke kamar.


Di ruang baca aku berjalan mendekat pada rak yang tak jauh dari tempatku berdiri.


Setelah mengambil buku,aku mendudukkan diri di sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu.


Aku terus membaca,hingga samar-samar cahaya matahari senja menerobos masuk melalui celah-celah jendela.


Aku mendongakkan kepalaku dari buku dan melihat ke arah jendela,matahari sudah mulai terbenam,setelah mengembalikan buku pada rak nya aku bergegas keluar dari ruang baca.


"Rein....akhirnya kami menemukanmu," Kinan dan Syakira berlari mendekat."Apa kau baik-baik saja?ini sudah larut,aku terkejut karena tidak melihatmu berada di asrama."


Lalu Kinan menuntunku kembali ke kamar asrama.


"Aku baru saja kembali dari kelas dan menyadari kau tidak berada di kamar," katanya.


"Kami sangat panik karenanya," seru Syakira."Jangan pergi tanpa memberitahu lain kali,"pesan Kinan.


"Maafkan aku,aku kehilangan ponselku saat jatuh,dan aku juga tidak bisa turun ke bawah untuk sementara waktu," aku berkata sembari mengangkat kakiku yang terbalut gips.


Keduanya hanya bisa menghela napas,"Baiklah,kau mungkin lapar,aku akan turun kebawah untuk mengambil makanan.Tunggulah sebentar."


Kemudian Syakira berjalan dengan cepat keluar dari kamar,dan hanya menyisakan aku dan Kinan.


Kinan menatap pintu yang tertutup perlahan,lalu mengalihkan perhatiannya padaku.


Aku hanya bisa duduk dengan kikuk di ranjang,tak berani menatap matanya.


"Apa kau sudah mendengar rumornya?" tanya Kinan dengan serius.


"Hm,apa itu tentang diriku lagi?Bukankah itu sudah sering terjadi?Lagipula aku tidak terlalu peduli dengan reputasi ku,biarkan saja,"


"Ini bukan hanya tentangmu,"


"Apa maksudnya itu?"


"Bukankah kau di bawa kembali oleh Alan?"


"Ya,aku memang kembali dengannya dari hutan,tapi apa hubungannya tentang aku dan Alan dengan rumor yang beredar?"


Kinan menatapku dengan geram,"Rumor itu mengatakan bahwa kau sengaja menjatuhkan diri dan juga agar kau di bawa kembali oleh Alan,saat kami memutuskan untuk kembali ke sekolah karena tidak bisa mencarimu,Alan diam-diam menyelinap pergi,dan keesokkan harinya ia kembali bersama denganmu.Anak-anak yang lain juga mengatakan bahwa kau menggunakan pelet atau semacamnya,"


"Apa kau tak ingin memberikan klarifikasi jika itu hanyalah sebuah berita bohong?"


Aku melipat kedua tanganku di dada sembari tersenyum miring dan melemparkan pandangan kepada Kinan yang berdiri di sebelah ku.


"Mereka hanya akan membuang waktuku,aku tidak peduli,"kataku sembari mengibaskan tangan dengan acuh.


Kinan kemudian duduk di kursi belajar yang berada di seberang ruangan,ia duduk dengan kursi yang menghadap ke arahku.


"Kau benar-benar,"Kinan memijit pelipisnya frustasi," Sudahlah,"katanya dengan wajah cemberut.


Aku terkekeh pelan,sembari tersenyum.


Tak lama setelahnya pintu kamar terbuka,dan Syakira datang dengan mapan yang berisi makanan,dan meletakkannya di atas nakas samping ranjang.


"Makanlah," suruh Syakira dengan nada lembut.


Aku mengambil piring dan mulai memakannya,Syakira duduk di sebelah ku sembari memainkan ponselnya,begitu juga dengan Kinan.


"Ngomong-ngomong di mana Stella?Aku tidak melihatnya sedari pagi?" tanyaku di sela-sela makanku.


Syakira dan juga Kinan sontak langsung terdiam,dan saling melemparkan pandangan gugup.


Aku memerhatikan diam-diam,mereka tak menjawab hingga aku selesai menghabiskan makananku dan meminum segelas air.


"Baiklah sekarang katakan padaku apa yang sudah terjadi saat aku menghilang?" tanyaku dengan nada mengintimidasi sembari meletakkan gelas yang ku pegang ke mapan.


"Itu..." Syakira mengalihkan pandangannya dariku dan menatap Kinan dengan ekspresi gugup.


"Ayolah katakan padaku,apa yang sebenarnya terjadi?" desakku.


"Stella keluar dari sekolah...."kata Kinan dengan raut wajah masam.


Aku menatapnya dengan tatapan mata tak percaya,sontak aku langsung menutup mulutku dengan tangan.


"A-Apa maksudnya itu?" tanyaku dengan suara bergetar,aku meremas pelan sprei dengan kepala menunduk menatap lantai.


"Seperti yang dengar,Stella keluar dari sekolah, lebih tepatnya di keluarkan mungkin," sahut Syakira sembari berfikir.


"Tapi apa alasannya?Dan mengapa?"


"Apa kau ingat saat ada murid yang mati dan mayatnya tergeletak di lab?" tanya Kinan dengan ekspresi wajah yang sulit di baca.


Aku mengangguk,lalu melemparkan pandangan pada Kinan,"tapi apa hubungannya hal itu dengan Stella? "kataku bertanya-tanya.


Syakira menarik napas panjang sebelum berbicara," dia terlibat dengan insiden itu,setidaknya itulah yang kudengar."Jelas Syakira.


"Jangan bercanda!" bentakku dengan suara keras. "Tidak mungkin Stella terlibat dengan insiden itu!" sembari menjaga suaranya tetap lancar.


Aku berbicara dengan bibir yang bergetar hebat,antara ingin percaya atau tidak.


Aku memijat pelipisku dengan frustasi,ruangan itu tiba-tiba hening.


Tak satu pun dari kami bertiga membuka suara,dan hanya diam dengan berbagai pikiran yang bermunculan.


Beberapa waktu telah berlalu,dan matahari sudah terbenam.


Kinan bangkit dari duduknya,berjalan mencari saklar lampu.


"Su-Sudah larut,sebaiknya kau istirahat Rein,kami akan pergi ke kelas malam," pamit Kinan dengan gugup sembari menyeret Syakira.


Aku hanya diam tak menjawab,hingga akhirnya punggung keduanya menghilang di balik pintu.


Aku kemudian membuka salah satu laci meja,dan meraba-raba,tanganku menyentuh sesuatu yang dingin,aku kemudian menarik benda itu keluar.


"Apa semuanya saling berkaitan?" gumamku sembari mengamati pin yang aku temukan beberapa waktu lalu dengan perasaan campur aduk.


"Hah,sudahlah aku tidak ingin memikirkannya," putusku akhirnya.


Aku menyimpan kembali pun itu kedalam laci,dan tak lupa menutupnya.


karena aktivitas yang bisa ku lakukan tak banyak,aku meraih sebuah buku novel dari atas nakas dan bersandar di ranjang sembari membuka buku itu untuk di baca.