The Only Time

The Only Time
Delapan



Di dalam gua,Alan berusaha untuk menyalakan api.


Ia mengambil ranting kecil yang berada di dalam gua,dan mengambil pemantik dari sakunya.


Beruntung ia membawanya tadi.


Ia meletakkan senter di mulutnya,sedangkan tangannya sibuk menyalakan api.


Setelah api itu menyala,Alan mendekatkan tubuh Reindra padanya.


Membiarkan gadis yang tertidur itu bersandar di bahunya.


Alan diam-diam melirik kearah Reindra yang tengah tertidur pulas sembari tersenyum kecil.


Ia mengangkat tangannya,dan mengusap lembut pipi Reindra.


Reindra menggeliat,dengan cepat Alan menarik tangannya,takut membangunkan Reindra.


Alan duduk sembari memeluk lututnya,ia menolehkan kepalanya ke mulut gua.


Hujan masih belum reda,sedangkan gadis yang kini tengah berada disampingnya ini membutuhkan pertolongan segera.


Alan hanya bisa mendengus,ia mengalihkan pandangannya dari mulut gua.


Sekilas dari ekor matanya ia menangkap sekelebat


bayangan yang melintas di sekitar mulut gua.


Ia menatap sekitar dengan waspada,ia menolehkan kepalanya menatap cemas ke arah Reindra.


Ia kemudian mengambil batu kecil di dalam gua itu,dan melemparkannya kearah mulut gua.


Suara batu yang di lemparkan menggema di dalam gua,membuat Reindra terbangun.


"Ada apa?" tanya Reindra sembari mengucek matanya.


"Ah,tidak.Bukan apa-apa."Jawab Alan seadanya.


Ia tidak ingin membuat Reindra khawatir,posisi mereka kini benar-benar tidak menguntungkan.


Ia tidak bisa pergi mengecek keadaan di luar dengan kondisi Reindra yang terluka.


Reindra menyipitkan matanya,ia menatap Alan dengan pandangan penuh selidik.


Ia kemudian beringsut menjauh dari Alan.


"Hei,beraninya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan."Hardik Reindra dengan raut wajah tak senang.


Alan melongo,tak percaya Reindra akan mengatakan hal seperti itu setelah ia menyelamatkannya?


"Dengar,aku tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan asal kau tau saja." Ujar Alan membela diri.


Reindra berdecak,lalu mengalihkan pandangannya pada nyala api yang berada di depannya.


Ia mendekat kearah api itu,sembari menahan rasa sakit di kakinya.


Menatap kakinya yang telah terbalut kain yang di koyak dari baju Alan.


"Apa kau yang sudah mengobati ku?"tanyaku ragu.


"Jika bukan aku siapa lagi?"


Aku menundukkan kepalaku, menatap tanah.


"Maaf dan terimakasih."Kataku dengan suara kecil dan hampir tak terdengar.


"Apa?Kau barusan mengatakan apa?"


"Bukan apa-apa,"elak ku.


Alan hanya bisa mendengus kesal,ia kemudian bangkit berdiri.


Dengan cepat aku meraih bajunya,ia menunduk menatap langsung ke mataku.


Di bawah cahaya api yang tidak terlalu besar,aku dapat melihat dengan jelas seberapa tampannya Alan.


Dengan rambut hitam lebat,hidung mancung,dengan mata berwarna gelap segelap langit malam.Dan juga aku menyukai dirinya yang tampak menjulang tinggi di hadapanku.


"Ada apa?" tanyanya.Aku tersentak lantas dengan cepat melepaskan cengkraman tanganku darinya.


"Em,tidak bukan apa-apa,kau akan pergi kemana?" tanyaku dengan nada rendah.


"Aku akan memeriksa apakah hujan sudah reda dan apakah kita bisa segera kembali." Ujarnya seraya berjalan pergi.


"Hei,tunggu dulu!" pekikku,tanpa sadar aku meninggikan suaraku.


Ia berbalik dengan kesal,"Apa lagi?"tanyanya dengan nada ketus.


Aku kemudian mengubah raut wajahku dengan cepat."Bisakah kau tidak pergi?"tanyaku memberanikan diri.


"Hei nona,aku hanya akan mengecek apakah hujan akan reda.Aku tidak akan pergi kemana-mana.Jadi tetaplah disini aku akan kembali."


Belum sempat aku menjawab,Alan sudah berjalan pergi.Aku hanya bisa pasrah.


Sudah sepuluh menit berlalu,namun Alan tak kunjung kembali.


Aku mengecek jam tangan,hari telah semakin larut,dan aku hanya sendirian di sini.


Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk berdiri, menahan rasa sakit yang tak tertahankan di kakiku.


Sembari berpegangan pada dinding gua,aku berjalan tertatih-tatih menuju mulut gua.


"Alan?A-la-n."Suaraku menggema di dalam gua.


Aku semakin tidak tenang lantaran Alan tidak menyahut.


Aku mencoba mempercepat langkahku sembari menahan sakit yang luar biasa.


Sesampainya aku di mulut gua,hanya ada kegelapan.Alan tidak berada disini.


Hujan masih turun,namun tidak sederas tadi.


Aku kembali memanggil-manggil Alan.


Namun,hanya ada suara hembusan angin dan hujan yang terdengar.


Sangat gelap,aku tidak dapat melihat apapun.


Sebuah pikiran buruk terus menghantui ku.


"Bagaimana jika ia telah terbunuh karena berusaha menolongku?"monologku dengan raut wajah panik.


Aku menggigit jariku,gugup.


Dari kegelapan malam, suara hujan dan angin dingin berhembus.


Membuat suasana semakin mencekam.


" Te-Tenanglah Reindra,kau bisa menghadapi masalah ini.Tenanglah."Aku berkata sembari mengangguk untuk tetap tenang dan berfikir jernih.


Dari dalam hutan terdengar suara gemericik semak-semak,aku terlonjak kaget sembari menutup mulutku.


Terlihat sebuah cahaya yang redup berjalan dengan cepat menuju ke arah ku.


Aku menahan napas, sembari melihat ke kiri dan kanan untuk mencari tempat bersembunyi.


Saat aku mencoba untuk bergerak,sebuah tangan kasar mencengkeram tanganku.


"Aaa!!!!Lepaskan!" teriakku histeris sembari mengayunkan tanganku akan lepas dari cengkraman nya.


"Tenanglah,ini aku."


Perlahan aku mengintip dari balik bahu,cahaya senter menyorot ke dinding gua dan samar-samar aku melihat Alan yang berada di belakangku.


Alan kemudian melepaskan cengkramannya,dan aku menghembuskan napas dengan kasar.


"Kau membuatku takut,"ujarku dengan raut wajah kusut.


"Ada apa?Apa kau terluka lagi?" tanyanya dengan nada yang terdengar khawatir.


"Bukan itu,kau pergi terlalu lama sehingga aku berpikir mungkin saja kau sudah mati."Kataku dengan nada ketus.


Ia menatapku dengan bingung," mengapa aku mati?"ia bertanya dengan tampang bodoh,membuatku menyesali kata yang baru saja keluar dari mulutku.


"Sudahlah,jangan membahasnya lagi,"kataku menyudahi." Lalu kemana kau pergi?"sambungku.


"Aku hanya memeriksa di sekitar,agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi." Jawabnya singkat.


"Apa maksudnya itu?"


"Bukan apa-apa."


"Sepertinya kita akan terjebak disini semalaman,jalanan di tempat ini sangat licin,hingga sangat beresiko bagi mereka untuk mencari kita di tengah cuaca buruk seperti ini." Jelasnya panjang lebar.


"Hah menyebalkan," dengusku sembari berjalan perlahan memasuki gua.


Baru selangkah aku berjalan,dengan cepat Alan mengendongku.


"Hei,apa-apaan ini?Turunkan aku!" aku berkata sembari berusaha turun dari gendongannya.


"Patuhlah,jika tidak kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."


Akhirnya aku hanya diam sementara ia membawaku memasuki gua,samar-sama cahaya api mulai terlihat,walaupun sudah hampir padam.


Alan meletakkanku di dekat api unggun,kemudian ua menolehkan kepalanya kebelakang.


Aku mengikuti arah pandangnya.


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Bukan apa-apa." Jawabnya sembari menjaga suaranya tetap tenang.


Aku ingin bertanya lagi,namun aku urungkan.


Lalu aku membaringkan diriku di tanah,menatao langit-langit gua yang lumayan tinggi.


"Apa kau tau?Sebuah keberuntungan bagiku masih hidup di saat ini.Aku pikir aku akan mati tadi." Aku berkata sembari tersenyum kecut.


Alan mendudukkan dirinya di sampingku,tanpa mengatakan apa-apa.


Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Sudahlah tidak ada gunanya berbicara denganmu."


Aku berkata dengan nada kesal,perlahan aku menutup mataku mencoba untuk tidur walaupun itu benar-benar tidak nyaman tidur di tempat yang kotor dan dingin.


Alan kemudian mengangkat kepalaku dan meletakkannya di pangkuannya.


"Tidurlah,aku akan memastikan bahwa kita akan baik-baik saja."


Kata-kata membuatku merasa agak tenang,aku terlelap tak lama kemudian.