
Liburan sekolah baru saja usai.Di luar jendela rumah,matahari baru saja menampakkan diri dari ufuk timur.
Esok aku tidak lagi bangun di kamar yang tidak asing dengan langit-langit kamar berwarna biru,serta kicauan burung gereja di pagi hari.
Esok semuanya akan berbeda.Aku akan kembali ke sekolah.Kembali ke Bhayangkara High Scholl.
Koperku diisi dengan berbagai macam keperluan, serta hadiah yang dengan lembut Kakakku paksakan padaku.
Aku tidak menginginkan apapun,namun ia terus bersikeras.Dan begitulah,terlepas dari seragam sekolah dan buku-buku teks serta pakaian olahragaku,barang-barangku juga berisi kamera baru serta peralatan lainnya.
Seolah-olah ia berusaha untuk menembus rasa sakit yang ada di tahun baru tanpa kehadiran orang tua kami.Ayah dan ibuku mengalami kecelakaan lalu lintas saat berkendara.
Aku menyayangi mereka,seorang ayah dan juga ibu yang amat memanjakanku.Kini mereka telah pergi.Dan kakak laki-laki ku berusaha untuk melindungi serta menjaga ku dari rasa kehilangan.
Baginya mungkin hal itu akan membuatku terpuruk,atas apa yang menimpa orang tua kami.
Namun, teman-teman serta sekolahku mengubah ku.
Aku tidak kesepian,tidak juga merasa sedih atas apa yang telah terjadi kepada orang tua kami.
Aku lebih berani dan percaya diri sekarang. Bhayangkara High Scholl telah mengajariku tentang rahasia serta bahaya yang tidak pernah ku duga.
Bhayangkara telah mengajariku tentang rasa sakit dari kehilangan.
Pemakaman ayah dan ibuku di laksanakan beberapa hari sebelum tahun baru,di sebuah pemakaman umum.
Aku tak menangis.Aku hanya lebih pendiam dan aku merasa seolah-olah aku tidak lagi berpijak di bumi.
Kemudian,ketika orang-orang sudah pergi dengan mengumamkan kata-kata simpati serta belasungkawa,kakakku menghembuskan napas dan menyeka mata merahnya berpura-pura kuat,seperti seorang jendral yang keras dan berkata,
"Maaf,Rein,hal ini mengingatkan ku tentang Rena dan semua kenangan tentangnya...maaf..."
Kakakku sedang mengingat tentang saudari kembar ku,tujuh tahun yang lalu.Aku mengingat dengan sangat jelas tentang hari itu, ketika ia berusia sepuluh tahun saat ia meninggal karena penyakit yang dideritanya.
Aku ingat bahwa aku menangis hingga dehidrasi karena kesedihan yang amat sangat dalam.
Maaf,kata kakakku,aku benar-benar minta maaf,dan ia terus berusaha untuk melindungiku serta memanjakanku di saat yang sama.
Kemudian hari-hari berlalu dengan sangat cepat,hingga tiba waktuku untuk kembali ke sekolah dan sekali lagi meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi tempat dimana aku tumbuh.
Saat ini barang-barangku sudah di kemas dan siap,dan liburan telah usai.Aku akan kembali.
Kulihat sekilas jam yang mengantung di dinding kamar.Hari baru saja di mulai,namun aku dapat mendengar kakakku sudah bangun.Bersiap untuk memulai perjalanan panjang menuju Jakarta.
Sudah waktunya bagiku untuk bangun,meski dengan enggan pula untuk turun dari ranjang.Setelah membasuh wajah dan menyikat gigi ku,
Kupakai celana panjang dan kaos panjang pula,berjalan menuju ruang makan.
Lalu mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada.
"Kau bangun,apa tidurmu nyenyak?" tanya kakakku.
Lalu ia kembali sibuk menyiapkan sarapan untukku.
"Ya,begitulah," sahutku seraya menyandarkan tubuhku kebelakang dan memejamkan mata ku sejenak.
"Bagaimana masakkanku?" tanyanya sembari duduk di kursi di sampingku dengan secangkir kopi yang ia letakan di atas meja.
Aku melirik ke arahnya sekilas,"Tidak buruk." komentar ku sembari menghabiskan sarapanku.
"Apa kau baik-baik saja dengan itu?" tanya ku setelah menghabiskan sarapanku dan meminum segelas susu hangat.
Ia mengernyit bingung,"Apa maksudmu?" tanyanya sembari menatapku.
"Ah,maksudku apa kau akan baik-baik saja dengan secangkir kopi tanpa sarapan?" jawabku terburu-buru.
Ia hanya tertawa mendengar jawaban ku,aku mengembungkan pipi kesal.
Kemudian beranjak dari kursi dan berjalan menuju wastafel seraya mencuci peralatan makanku.
"Ini sangat aneh Rein,tahukah kau bahwa kau sangat tidak cocok untuk bertanya tentang hal itu? Sedangkan kau tahu bahwa aku benar-benar tidak terbiasa yg untuk sarapan,karena pekerjaanku yang mengharuskan ku untuk selalu siap."jawabnya sembari menghentikan tawanya.
Aku hanya bisa menghembuskan napas kesal, sembari meletakkan peralatan makan di rak.
Kemudian membalikkan tubuhku menatap kakak laki-laki ku yang masih duduk di kursi meja makan dengan kesal.
Kakak laki-lakiku bekerja sebagai detektif swasta, baru-baru ini ia di berikan sebuah kasus baru yang mengharuskan nya untuk segera kembali bekerja walaupun itu di hari liburnya.
"Baiklah,maafkan aku karena menggodamu.Aku hanya mencoba untuk menghiburmu."ujarnya sembari menunduk.
Aku tersentak,dan kemudian merasa bersalah.
Aku lalu berjalan menghampiri nya dan mengalungkan tangan ku di lehernya dari belakang.
"Maafkan aku,"kataku sembari memeluk erat kakakku dari belakang dengan perasaan bersalah.
"Jangan meminta maaf,Rein kau tidak salah."
ujarnya sembari menenangkan ku.
"Sebaiknya kau segera bersiap,aku akan mengantarkanmu menuju stasiun."seru nya mengingatkan.
Aku kemudian melepaskan tanganku darinya,dan mengangguk mengerti.
"Apa kau hanya akan mengantarkanku sampai stasiun?" tanyaku padanya sebelum aku berjalan menuju kamarku.
"Ya,kali ini aku tidak bisa mengantarkan mu hingga gerbang sekolah,maafkan aku." ujarnya sembari beranjak dari kursi.
"Hm,tidak apa-apa. Aku sudah dewasa jadi kakak bisa mengandalkanku." aku berkata sembari menepuk-nepuk dadaku sembari tersenyum lebar.
Ia hanya menggeleng kepala melihatku,lalu mengusap pelan kepalaku.
"Kau benar-benar telah dewasa,namun tidak apa bersikap kekanak-kanakan sesekali." tuturnya dengan suara lembut.
Aku hanya menanggapinya dengan senyum,lalu berjalan menuju kamarku dan bersiap.
...