
Dina semakin menangis. Bahkan, wajahnya semakin merah padam saat Deno menanyakan hal tersebut, "Nginjek tali sepatu, terus jatuh," ucapnya, lalu menunduk malu karena kecerobohannya kembali terungkap di hadapan Denovano.
Deno seketika berdecak kesal mendengar jawaban Dina, "Bisa jalan?"
Mendengar hal tersebut seketika Dina langsung terdiam. Matanya menyipit tidak suka menatap Deno, "Lo pikir karena gue jatuh, gue jadi lumpuh, No?!"
Deno yang tadinya kesal melihat kecerobohan Dina seketika menahan tawanya melihat wajah kesal cewek itu.
"Oh, yq udah," ucap Deno, lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Dina yang masih terduduk di lantai.
"DENO!!" rengek Dina, membuat Deno menghentikan langkahnya dan menoleh, "Iya, gue gak bisa jalan! Peka sikit, gitu!" ucap Dina, yang membuat Deno tersenyum kecil.
Deno membalikkan tubuhnya, lalu menatap tubuh mungil Dina, "Lo gue seret aja ya? Kayaknya lo berat,"
Dina yang mendengar hal tersebut lantas menggeram kesal. "Denger ya, No! Cewek itu gak suka dibilang gendut, apalagi sama co--" ucapan Dina terhenti saat Deno mengangkat tubuhnya perlahan lahan.
"Sakit?" tanya Deno sambil menoleh ke arah Dina yang sudah berada di dalam dekapannya.
Dina meneguk ludahnya menatap wajah Deno yang berjarak tidak jauh dari wajahnya. "Sakit?" tanya Deno lagi. Dina menggeleng kaku.
Deno membawa Dina keluar dari toilet. Di depan pintu, kakinya yang terluka ditabrak oleh seseorang yang membuat Dina menekik, "Aduh! Aduh, No!" ringis Dina, yang membuat Deno langsung melihat siapa yang sudah menabraknya.
Mata Deno bertubrukan dengan mata orang yang telah Menabrak kaki Dina.
Awalnya Deno terkejut, tetapi ia bisa menetralkannya dengan menatap tajam cewek berwajah tirus, dengan make-up tipis dipoles di wajah pucatnya.
"Aduh! Sorry banget! Gue gak tau!" ucap cewek itu, tetapi matanya menatap Deno yang sekarang sudah membuang arah pandangannya.
Dina yang mungkin sudah terbawa emosi hanya menjawab dengan bergumam, lalu beralih menatap Deno, mengisyaratkannya untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju UKS.
Lo... beda, No.
...****************...
Deno lagi lagi menghela napasnya, lalu mengacak acak rambutnya dengan kesal. Lagi lagi hati dan pikirannya berperang, membuat Deno menjadi pusing sendiri.
Deno tidak habis pikir.
Pribadinya yang bisa dibilang sangat tertutup, mau pedulo dengan cewek yang sekarang tertidur di ruang UKS dengan napas teratur. Wajah polosnya terlihat damai.
Hanya dengan pertemuan mereka yang tidak terduga di parkiran sebuah mal. Sekarang Deno malah semakin peduli dengan Dina.
Menyebut namanya saja membuat Deno merasakan desiran aneh di hatinya.
Sesuatu yang membuat pikirannya juga berteriak untuk berhenti peduli, ataupun ingin tau tentang segala hal tentang Dina.
Tetapi Deno malah mengikuti kemauan hatinya. Hatinya menyuruh Deno untuk melakukan hal yang paling Deno benci, yaitu peduli dengan orang lain.
Seperti tadi, Deno mengikuti kata hatinya untuk melihat Dina yang ternyata sudah menangis karena terjatuh oleh ulahnya sendiri.
Padahal Deno sangat membenci kecerobohan.
Dan seperti tadi, saat Dina memanggil namanya, Deno malah menghentikan langkahnya, menunggu apa yang akan dikatakan Dina selanjutnya dan malah membawa ke UKS.
Sekarang Deno mengetahui suatu hal, Dina adalah pribadi yang susah ditebak.
Dan sekarang, lagi lagi Deno mengikuti kata hatinya.
Tadi Deno menyaksikan secara langsung Dina yang berteriak histeris saat lukanya sedang diobati. Sekarang cewek itu malah tertidur.
Tetapi sebelum tidur, Dina berpesan agar Deno mau menungguinya sampai ia bangun.
"No, gue bobo bentar ya. Bentar aja kok! Lo tungguin gue ya, No?"
Baru saja Deno ingin menolak, Dina sudah tertidur.
Dan di sinilah Deno, menunggu Dina bangun dari tidurnya.
Deno memperhatikan wajah polos Dina. Napasnya teratur. Wajahnya yang biasanya terlihat kesal kini tampak tenang dan polos. Deno tersenyum miris.
Ini terakhir kalinya gue peduli sama lo, Din.
...****************...
"Kak Deni pacaran sama Kak Dina?"
"Kayaknya sih, iya! Lo lihat sendiri kan Kak Deno tadi ngapain sama Kak Dina?"
"Ya elah! Kan Kak Dina cuma digendong, Kali!"
"Tapi lo harus lihat wajah khwatirnya Kak Deno!"