THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 7



Saat Deno membuka pintu rumahnya, di ruang tengah langsung terdengar suara keributan yang membuat mata Deno menyipit.


Siapa lagi kalau bukan Alya.


"YA AMPUB? MASA SIH?!"


Deno berjalan melewati ruang tengah, matanya melirik Alya yang sedang berbicara dengan semangat di telepon. padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.00


Deno yang merasa bahwa orang yang Dimaksud Alya adalah dirinya, hanya menaikkan sebelah alisnya dan berjalan menaiki tangga.


"Hebat ya lo pulang jam segini," ucap seseorang secara tiba tiba, yang tidak dipedulikan Deno.


Deno sedang malas bertengkar


"Mama nyariin anak kesayangannya, ternyata anaknya keluyuran."


Deno tetap Diam.


"Balapan lagi? Pasti kalah, ya?"


Alya yang tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, memutuskan komunikasi teleponnya.


Baru saja Deno menginjak anak tangga terakhir, Deva kembali bersuara, "Lo memang anak yang gak tau diri."


Deno berhenti melangkah, lalu membalikkan tubuhnya.


Matanya menatap tajam Deva yang sudah melipat kedua tangganya di bawah tangga. "Berhenti urusin hidup gue."


Deva tertawa, "Siapa yang mau ngurusin hidup lo, coba?"


"Gue lagi gak niat buat ribut."


"Gue lagi niat, gimana?"


Deno menarik napasnya, lalu membuangbya secara perlahan dan menaiki tangga terakhir. Tetapi dua kata yang ia dengar kemudian membuat Deno berlari menuruni anak tangga, dan satu pukulan pub melayang tepat di wajah Deva.


"Anak buangan."


Kalimat tersebut terus berputar putar di dalam kepala Deno layaknya kaset rusak, yang membuat Deno semakin mencengkeram erat kaus Deva.


"Ini yang gak niat buat ribut?"


"DENO! DEVA!" suara teriakan membuat Deno melepaskan kerah kaos Deva secara kasar. Papa mereka.


"Ada apa ini?"


"Deno, kapan kamu pulang?" tanya Mama yang sedang menyanggul rambutnya, membuat Deno seketika membuang muka.


"Ada masalah apa lagi?" tanya Papa, yang dijawab Deno dengan mendengus kesal.


"Anak Papa yang satu ini, balapan lagi."


"Lo jangab ngalihin pembicaraan, bukannya lo bilang barusan kalau gue itu cuma anak buangan?" tanya Deno sambil menatap Deva dengan tajam. Seketika wajah Papa dan mama berubah sedih dan tampak menyesal.


"Deno ke atas," pamit Deno, lalu berlari menaiki tangga dan menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Ma, Pa, kenapa Bang De dibilang anak buangan?" tanya Alya, yang membuat Mama dan Papa seketika bungkam, kecuali Deva yang terkekeh kecil.


"Lo mau---"


"Alya, udah malam, Nak. Ayo tidur," ucap Papa tegas, yang dijawab Alya dengan mengangguk, lalu menaiki tangga.


Sebelumnya, Alya melirik Deva yang membuang menghindari tatapannya saat mata mereka bertemu.


"Good night, semua."


Deni berjalan melewati lapangan. Seperti biasa, matanya menatap ke sekeliling lapangan dengan wajah datar.


Tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya menangkap mata seseorang yang sedari tadi menatapnya


Deno memutuskan aksi tatapan mereka, lalu berjalan menuju Dimas dan yang lainnya. Tadi malam Deno sudah bertekad untuk tetap menjadi dirinya yang sekarang.


Tetap menjadi Deni dengan pribadi yang tertutup


"Denok!" teriak Dimas seperti biasanya. Deno melonggarkan dasinya merasa gerah.


"Gue gak sabar mau ditraktir sama Denok!" ucap Dimas yang mengingat bahwa tadi malam, Deno kembali menang dalam pertandingan balap mobil.


"Shhhh, Deno lagu jelek mood-nya!" ucap Ariz yang mengerti bahwa Deno---temannya sejak SD---sedang bad mood.


Deno tidak menanggapi sapaan Dimas maupun ucapan Ariz, Ia hanya diam, Lalu memejamkan matanya meresapi angin pagi.


"Tumben Deno gak telat," celetuk Putra, yang membuat Dimas dan Ariz kembali menoleh ke arah Deno yang masih memejamkan matanya.


"Lo berantem lagi sama Deva ya, No?"


Lagi lagi, tebakan Ariz benar.


MAAF BARU UP, DILANJUT NANTI LAGI YA


SOALNYA AUTHOR MAU MASAK DULU


SEE YOU😘


TINGGALKAN LIKE👍 COMEN 💬 AND VOTE ❤ YA


jangan lupa follow ig author


@LAELA_NOVIA YA GUYS