THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 15



Maaf ya guys baru update... soalnya kemarin author baru aja keluar dari rumah sakit...


"Kayaknya gak baik kalo cewek masuk kamar cowok, apalagi kalian cuma berdua di sini," ucap Deva dengan nada yang terdengar dingin.


"Gak baik, ya?" tanya Deno dengan tatapan merendahkan ke arah Deva yang sudah mengepalkan kedua tangannya.


"Okay, gue keluar du--" ucapan Dina terpotong saat ia ingin turun dari tempat tidur, tetapi dengan cepat Deno menarik lengannya, yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. "Kenapa, No?"


Deno mendekat ke arah Dina, hingga sekarang wajah Deno berada tepat di sampingnya. "Keluar dari kamar gue, lo harus langsung pulang," ucap Deno membuat Deva yang berdiri di depan pintu seketika menggebrak pintu kamar Deno.


"Bagusan sekarang lo pulang, Din," ujar Deva dengan sinis.


Dina akhirnya mengerti mengapa Deno menyuruhnya untuk pulang.


Ada sebagian hati kecilnya yang mengatakan, bahwa dia harus tetap disini.


"Gu---gue mau disini, No"


"Lo pulang, gue terima permintaan lo," ucap Deno, yang membuat Dina akhirnya mengangguk dengan ragu.


"Jadi sekarang kita temenan, kan?" tanya Dina sebelum ia benar benar turun dari kasur Deno.


Deno mengangguk.


Dina turun dari kasur dengan kepala yang menunduk, tidak berani untuk menatap Deva yang menatapnya dengan tajam.


"Gue pulang ya, Deno."


...****************...


Deno turun dari mobilnya dengan tidak bersemangat. seperti hari hari sebelumnya, ia harus tetap bersekolah. Padahal keadaanya sedang tidak baik. Disekitar tulang pipinya terdapat luka memar, bibirnya pun sedikit terkoyak.


Deno menyampirkan tas sekolahnya di bahu kananya. Siswi yang memperhatikan Deno mulai menatap iba melihat wajah Deno yang begitu tidak enak untuk dipandang.


Mereka yakin Deno pasti bertengkar lagi dengan Deva. Seperti biasa, Deno berjalan tanpa repot repot untuk melihat mereka yang tengah membicarakan dirinya.


"Deno? Muka lo kok kayak ban botak gitu?" tanya Ariz yang datang dari arah berlawanan, membuat Deno mendengus kesal.


"Ribut sama Deva?"


"Gak usah ditanya lagi lah, Riz! Jawabannya ya, pasti!" sambung Dimas yang sudah ikut berjalan bersama Ariz dan Deno.


"Hm."


"Sabar, No. Deva kan memang kayak gitu, dia cuma iri aja sama lo," ucap Putra, yang membuat ingatan Deno jatuh saat pertengkaran mereka terjadi.


Deno yang sedang ditahan oleh Alya, menghapus darah segar yang mengalir di bibirnya, "Lo gak berhak buat ngatur gue."


"Seharusnya lo sadar! Lo itu gak pantes buat Dina!" Deno mendecih, "Terserah lo."


"Gue suka sama Audina, No!"


Deno memejamkan matanya saat merasa napasnya terasa begitu sesak mengingat perkataan Deva.


"Deno? Muka lo! Muka lo kenapa?!" teriak seseorang, yang membuat Deno dan teman temanya menoleh ke arah cewek yang sedang berlari ke arah mereka.


Dina menatap wajah Deno dengan mata yang berkaca kaca. "Pasti karena gue ya, No?" tanya Dina sambil menunduk, yang membuat Dimas dan yang lainnya terbelalak serentak mendengar pengakuannya.


"Bukan salah lo."


"Gimana bukan salah gue! Kalau gue gak ma---" ucapan Dina terpotong saat Deno menarik lengannya pergi menjauh dari lingkaran ketiga sahabatnya.


Dimas, Ariz, dan Putra saling bertukar pandang. "Jadi mereka berantem karena... Audina?"


...****************...


Deno terus menarik lengan Dina tanpa memperdulikan berbagai pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Para siswi yang melihat kejadian tersebut menggeram kesal karena Dina lagi lagi bisa berdekatan seperti itu dengan Deno.


"Coba aja Audina bukan ketua geng! Udah gue lindes tuh mukanya!"


"Setuju! Dari kemarib cari muka mulu si Audina!"


tinggalkan jejak likešŸ‘ komenšŸ’¬ and voteā¤


tetap patuhi protokol kesehatan y guys


see youā¤ā¤