THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 13



Mata deno terpejam. kamarnya begitu sunyi. hanya suara detik jam terdengar mengisi heningnya suasana kamar Deno.


Tetapi inilah yang disukai Deno.


Dulu Deno membenci keheningan dan kesepian, tapi sekarang Deno malah menyukainya.


Walaupun di luar sana banyak orang di sekelilingnya, Deno tetap merasa sendirian.


Keadaanlah yang membuatnya berubah menjadi seperti ini.


TOK! TOK!


"Denooo!"


Seketika mata Deno terbuka, matanya menyipit mendengar suara seseorang yang terdengar familier di telinganya.


Suara yang membuat telinga Deno terasa panas.


"Denovano!"


Deno menutup wajahnya menggunakan bantal, berusaha meredam suara yang terdengar seperti suara petasan yang dihidupkan saat tahun baru.


"Ini beneran kamar Deno gak, sih?"


Deno mendengus kesal.


"Denoooo!" teriaknya lagi, yang membuat Deno lagi lagi mendengus kesal.


Mengapa orang itu ada disini?


Yang terpenting lagi, mengapa ia bisa mengetahui kamar Deno?


Padahal di rumah ini ada 35 kamar tidur. Tapi memang hanya kamar Denolah yang memiliki pintu dengan warna yang berbeda.


"Gue yakin kalau ini memang kamarnya. Soalnya kata Alya, pintu kamar Deno itu yang warnanya hitam," gumam Dina memandangi pintu kamar Deno dengan dahi yang berkerut bingung.


Isi rumah Deno serba berwarna putih, tetapi hanya kamar Deno dan isinya yang mempunyai warna yang berbeda.


"Denoo! Hello there! Dina di sini!" teriak Dina lagi, yang membuat kedua ujung sudut bibir Deno sedikit terangkat.


"Deno tidur, ya? Gue buka aja, Deh."


Seketika, Deno langsung melihat kenop pintu kamarnya yang tidak terkunci.


Deno jadi panik sendiri.


Deno seketika bangkit dari tidurnya, dan secara bersamaan pintu kamarnya sudah terbuka dengan lebar.


"De--- AAAAAA!" Dina berteriakk histeris saat matanya menatap dada telanjang Deno.


Tapi bukannya menutup mata, Dina malah berteriak dan terus memperhatikan tubuh Deno yang tegap secara detail.


Deno berdecak kesal. "Keluar sana," usir Deno, membuat Dina yang tadinya berteriak seketika terdiam.


"Lo berisik, gue gak suka."


Dina yang diusir merasa tidak peduli, kakinya malah melangkah masuk ke dalam kamar Deno, lalu berkacak pinggang menatap perabotan yang ada di dalam kamar Deno.


"Ternyata semua cowok sama aja! Gak ada yang rapi!" ucap Dina, yang membuat Deno kembali menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Gak jauh beda sama kamar cewek."


"Ya beda, lah! Kalau kamar gue itu bersih, rapi lagi," ucap Dina sambil tersenyum cengengesan.


Deno menaikkan sebelah alisnya. "Gak yakin."


"Apanya yang gak yakin?" tanya Dina yang sedang memperhatikan foto foto yang tertempel dengan rapi di dinding kamar Deno.


"Gak yakin kalau kamar lo rapi, kaya kamar cewek lainnya."


Dina yang masih memperhatikan foto Deno, Deva, dan Alya sewaktu kecil, seketika membalikkan tubuhnya untuk menatap Deno yang sedang menatap langit langit kamarnya.


"Memangnya lo pernah main ke kamar gue? Gak usah sok tau ya Denovano."


Deno hanya bergumam menanggapi ucapannya.


"Lo beneran kembar sama Deva?"


Deno hanya diam, tidak menanggapi.


"Kok muka lo sama Deva gak mirip, sih?"


"Gak mirip gimana?"


"Lo ganteng, Deva enggak."


Deno yang mendengar jawaban Dina hanya terkekeh kecil, yang membuat senyum Dina seketika mengembang.


"No, itu badan lo kok bisa bagus? Sering olahraga ya?"


"Hm."


"Cowok yang badannya kaya lo itu tipe cowok idaman para cewek loh, No," ucap Dina, yang membuat Deno teringat akan suatu hal.


Deno rajin olahraga karena seseorang.


Cowok yang tubuhnya tegap itu baru tipe cowok gue!


"Oh."


"Gue ngode loh, No! Lo--"


"Lo mau apa ke kamar gue?" potong Deno sambil memejamkan kedua matanya.