
"Masa, sih? Tapi gak papa, deh! Gue tetep suka sama Kak Deno. Muka gue juga gak kalah cantik daripada Kak Dina!"
Deno yang mendengar dirinya dibicarakan seperti itu hanya diam biasa. Tidak mau menanggapi, atau pun peduli.
Apalagi mencampuri.
"DENOK!" teriak Dimas bersamaan dengan Deno yang membuka pintu lokernya. Dalam hitungan detik, Denok berdacak pelan.
Puluhan cokelat dan surat lagi lagi luruh ke lantai.
"No! No!" panggil Dimas sambil mengguncang tubuh Deno dengan rasa penasaran yang begitu dalam. "Katanya lo yang ngebawa Audina ke UKS, ya?!"
Deno melirik Dimas, lalu kembali menyusun buku bukunya yang sudah berantakan. Salah satu karya dari penggemarnya: mengeledah loker miliknya dan membuat isi loker Deno berantakan dalam waktu sekejap.
"Hm."
"Serius?" tanya Ariz dan Putra bersamaan.
"Hm!"
"Sekarang Audina di mana?"
Deno hanya diam.
"Lo tinggal dia sendirian, No?!"
"Ada Alya."
"Ok, ok! Gue ke UKS!" ucap Dimas. Ia langsung berlari menuju UKS saat nama Alya disebutkan.
Putra lantas mendengus pelan, "Yah, udah kalah start!"
"Tapi kemarin lo bilang kalau lo sukanya sama Nera, Tra?" tanya Ariz yang sudah berjalan beriringan bersama Putra dan Deno.
Mendengar Ariz bertanya seperti itu, Putra malah terkekeh, "Kalau gue bisa dapetin Alya, ngapain juga ngejar Nera?"
Ariz memukul kepala Putra, "Ada kembarannya, noh?" ucap Ariz, yang membuat Putra beralih menatap Deno yang hanya memasang wajah datarnya.
"Deno gak marah kok--eh, ada Gita!" seru Putra saat matanya melihat Gita sedang berjalan dari arah berlawanan, yang membuat Ariz seketika juga ikut menoleh.
Kecuali Deno yang hanya menatap lurus, seolah olah tidak ada orang yang sedang berdiri dihadapannya.
"Hai Gita!" sapa Putra, yang dibalas Gita dengan tersenyum kecil.
"Hai," sapanya, tetapi matanya menatap wajah Deno yang terlihat datar.
"Gue duluan," pamit Deno, yang lalu berjalan melewati Gita tanpa tersenyum maupun menyapa.
Memang seperti itulah sifat Deno.
Deno melangkah masuk ke sebuah kafe. Matanya memandang berkeliling dan akhirnya menangkap sebuah papan bertuliskan 'Smoking Area'. Ia berjalan menuju salah meja di dekatnya. Ia masih memakai seragam sekolahnya.
Deno duduk di kursi tersebut. Tangan Deno merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemantik.
Deno menghela napasnya, kebiasaan buruknya yang satu ini tidak pernah hilang. Sepercik api keluar dari pemantik. Deno mendekatkan rokoknya ke arah pemantik tersebut.
Deno mengisapnya, lalu membuang asapnya secara perlahan.
Asap rokok Deno sudah mengepul di udara, bersatu dengan asap rokok dari beberapa pengunjung yang datang.
Dulu Deno sangat membenci rokok.
Menyentuhnya saja ia tidak mau.
Tetapi semenjak kejadian dua tahun yang lalu, semuanya berubah.
Deno yang dulu mempunyai pribadi yang terbuka dan humoris, sekarang menjadi pribadi yang sangat tertutup.
Bahkan Deno mengikuti balap mobil.
Semenjak kejadian dua tahun yang lalu, Deno mencoba segala hal yang menurutnya menantang.
Bukan dalam hal itu saja, sifat Deno yang dulunya penyayang dan peduli kepada orang lain, juga sudah hilang layaknya dibawa angin.
Deno seperti bola lampu yang kekurangan arus listrik. Dulu terang, kini meredup.
Seketika Deno berdecak malas saat nomor asing kembali meneleponnya.
Deno tahu betul siapa yang sedang berusaha menghubunginya.
Pada waktu bersamaan pesanan Deno datang, tapi mata Deno masih saja menatap layar HP-nya yang masih menunjukkan nomor asing.
"Ada pesanan tambahan?"
Deno menjawab dengan menggeleng.
"Lo Denovano, bukan?"
Deno yang sedang menatap layar HP-nya beralih menatap pelayan itu.
Deno menaikkan sebelah alisnya, bingung karena pelayan tersebut bisa mengetahui namanya.
"Lo gak kenal gue?" tanya pelayan itu lagi.
Deno hanya diam. Wajah orang itu terasa familier, tetapi Deno lupa namanya. Deno mendengus kesal, salah satu kebiasaan buruknya muncul. Tidak mengetahui nama seseorang yang sering dilihatnya, bahkan kalau orang itu sering berkunjung ke rumahnya.
"Gue temen kembaran lo yang sering main ke rumah lo, masa gak kenal, sih?!" ucap pelayan tersebut dengan kesal yang melihat Deno seperti tidak peduli dengan apa yang diucapkannya.