
"Hm," jawab Deno sekenanya, bersamaan dengan HP-nya yang tiba tiba berdering.
📲: 0821097** calling...
Deno mengernyitkan dahinya saat matanya menatap nomor yang tidak dikenal itu. Padahal hanya orang orang tertentu yang bisa mengetahui nomornya.
"Siapa yang nyebar nomor gue?"
Dimas, Ariz, dan Putra yang sedang mengobrol seketika terdiam, "Bukan gue!" ucap mereka secara bersamaan, membuat Deno langsung menolak panggilan tersebut.
"Sumpah kali ini bukan gue!" ucap Dimas sambil membentuk tanda Peach dengan telunjuk dan jari tengahnya, yang hanya dibalas Deno dengan bergumam.
HP Deno kembali bergetar, yang membuat Dimas melihat layar HP Deno dengan penasaran.
"Angkat aja kali, No. Mana tau kembaran lo nelepon pake nomor baru," usul Dimas, yang membuat Deno berpikir ucapan Dimas mungkin benar.
Deno akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"No, lo marah sama gue?"
Deno merasa kenal dengan si pemilik suara. Ia menoleh ke arah kanan, tempat Dina dan kelompoknya biasa berkumpul.
Benar saja. Di ujung sana Dina tengah menatap Deno dengan HP menempel di telinganya.
"Gak."
"Terus kok tadi buang muka pas ngeliat gue?"
Ternyata lo peka juga, batin Deno.
"Lo dapet nomor gue dari Alya?"
Deno dapat melihat Dina yang duduk di ujung sana tersenyum cengengesan.
"Lebih tepatnya, gue curi. Habis Alya pelit sih! Masak gue minta gak dikasih!"
Deno hanya menaikkan sebelah alisnya. Tidak menyangka bahwa Dina dengan mudahnya jujur tentang caranya mendapatkan nomor ponsel Deno.
"Oh."
"Cuman 'Oh'?"
"Lo buang buang waktu gue"-- tut.
Deno mematikan sambungan telepon mereka, lalu menoleh ke arah teman temannya---yang tercengang.
"Apa?" tanya Deno, bingung melihat teman temannya seperti orang linglung.
"Itu yang barusan ngomong, beneran Denovano?"
"Yang nelepon Audina, bukan gue."
Dimas berdecak kesal, "Ya, gue tau! Maksud gue--sejak kapan lo mau ngomong panjang lebar kaya gitu sama cewek?"
Deno hanya mengedikkan bahunya tak acuh, lalu membuang arah pandangannya. Ia tidak mau membalas lagi tentang percakapan yang dimaksud oleh Dimas.
Baru saja Deno membuang arah pandangannya, di depannya sudah berdiri beberapa cewek yang membuat Dimas bergidik jijik.
"Deno sayang!"
Poppy sudah berdiri di hadapan Deno sambil tersenyum manis.
Bibirnya yang dipoles lip tint semerah mungkin, membuat penampilannya mirip seperti badut kesasar--menurut Dimas sih begitu.
"Nih, buat kamu!"
Ia menyodorkan sebuah kantong plastik, yang membuat Deno teringat seseorang juga menyodorkan kantong plastik yang mirip, yang juga berisi sepatu Hanya saja orang di depan Deno ini tidak punya wajah memelas yang lucu.
Ck! Kenapa gue jadi ingat Dina, coba?
"Dipakai ya, No!" ucap Poppy, lalu memajukan tubuhnya hendak mengecup pipi Deno.
Tetapi dengan sigap Dimas menutup wajah Deno menggunakan tasnya dan tidak sengaja mengenai kepala Poppy, Poppy kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di hadapan Deno dan teman temannya.
"ANJIR," teriak Putra saat melihat Poppy sudah mirip seperti suster ngesot, Membuat murid yang ada di sekitar lapangan tertawa terbahak bahak.
Dina yang tadinya mencibir seketika tertawa melihat Poppy yang terjatuh mengenaskan.
Deno hanya menaikkan alisnya, lalu bangkit dari bangku lapangan dan berjalan masuk ke dalam kelasnya.
Dia tidak mau Miss Ririn menegurnya lagi karena Deno sangat malas jika harus berhadapan dengan Miss Ririn.
"Selamat jadi suster ngesot!" ledek Dimas, lalu berlari saat Poppy melemparnya dengan sepatu yang seharusnya diberikan untuk Deno.
...****************...
SMA PERWIRA digemparkan oleh siswi pindahan dari New York berparas cantik dan Deno sama sekali tida tertarik untuk ingin tahu, apalagi peduli akan hal tersebut.
"ANJIR CANTIK BET, TRA!" ucap Dimas sambil menjatuhkan tubuhnya di bangku kantin. Mangkuk siomainya diletakkan di atas meja.
"GUE SETUJU!" teriak Putra, sedangkan Ariz hanya diam lalu sesekali melirik Deno.
"Lo gak ikutan sama kita, Riz?" tanya Dimas, yang dijawab Ariz dengan tersenyum kecil. "Enggak deh, gue kali ini no comment kaya Deno."
"Deno mah, kalau dikasih tau Ariana Grande sekolah di SMA PERWIRA juga no comment," ucap Dimas, yang membuat Putra dan Ariz tertawa.
Deno mendengus kesal.
"Kok mau ya dari New York pindah ke indonesia?" tanya Dimas, yang membuat Ariz terkekeh.
"Kok lo ketawa?"
"Gak papa."
"Ye, gaje lu!"
"Kalau menurut info terkini yang gue tau, dia memang aslinya tinggal di Indonesia. Jadi istilahnya, Dia pulang kampung, semacam itu lah!" ucap Putra yang disetujui Dimas dengan mengangguk anggukan kepalanya.
"Namanya siapa tadi?
"Gita Verrena."
"Gita.... Namanya cantik, kaya orangnya," ucap Dimas membuat putra tertawa.
"Lo sama Gita, kan? Gue sama Alya aja, deh."
"Enak aja lo, tai!" ucap Dimas, yang dibalas dengan tawa Putra.
Dimas maupun Putra sedari tadi tidak menyadari perubahan suasana di antara Deno dan Ariz
"De--"
"Gue ketoilet," ucap Deno, lalu bangkit dari bangku kantin. Ariz yang menatap kepergian Deno sambil menghela napas.
Kasian Deno, kayaknya nasih lo udah diatur sama tuhan, No.
Deno mencuci wajahnya di wastafel, membiarkan air mengalir melalui alis matanya yang tebal dan menuju pipinya, lalu terus mengalir hingga butiran air tersebut jatuh secara perlahan lahan ke lantai, menimbulkan suara gemericik air yang mengisi kesunyian toilet.
"ALYA LO DULUAN DEH, GUE MAU PIPIS!"
Deno yang sedang menatap wajahnya di cermin seketika menoleh ke arah pintu toilet saat mendengar suara yang sudah sangat familier ditelinganya, memecahkan kesunyian toilet.
"NTAR LO LANGSUNG BALIK KE KELAS YA? GUE MAU NGAMBIL POWER BANK GUE KETINGGALAN DI KANTIN!" teriak Dina, bersamaan dengan pintu toilet yang ditutup.
Deno kembali beralih menatap pantulan dirinya yang ada di cermin toilet.
Berhenti buat penasaran tentang dia, dalam bentuk apapun, batin Deno, sambil menatap tajam pantulan dirinya di cermin.
Deno keluar dari toilet sambil mengacak acak rambutnya yang basah terkena air. Baru beberapa langkah, teriakan Dina sudah memenuhi toilet perempuan di sebelahnya.
Deno sontak menghentikan langkahnya, pikirannya melayang jauh membayangkan apa yang sedang terjadi dengan Dina di dalam sana.
Hati kecilnya berteriak untuk menyuruh Deno melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Tetapi otaknya terus mengingatkan mantra yang tadi diucapkannya didalam toilet.
Akhirnya, Deno lagi lagi pusing sendiri.
Ck, kok jadi bingung kayak gini?
Akhirnya Deno memutuskan sebuah pilihan. Dia harus melihat apa yang sedang terjadi di dalam toilet tersebut.
Deno berlari memasuki toilet, tidak memedulikan jika itu toilet cewek. Saat Deno masuk, mata Deno langsung menangkap seseorang yang sedang terduduk di lantai sambil menangis.
"Din?" panggil Deno membuat Dina terlonjak kaget menatap Deno yang sudah berjongkok dihadapannya.
Seketika Dina menghapus air matanya, "Deno! Lo kenapa selalu buat gue kaget, sih?" ucap Dina, lalu kembali menangis yang membuat mata Deno beralih memperhatikan luka dibagian lutus, juga siku Dina.
Deno memutar bola matanya. "Kenapa?" tanya Deno sambil menunjuk luka yang cukup parah di tubuh Dina.
LANJUT BESOK YA GUYS. SOALNYA AUTHOR UDAH CAPEK. DAN UDAH MENGANTUK... BESOK AUTHOR JANJI AKAN UP 2 EPISODE.
TINGGALKAN JEJAK Y GUYS... UNTUK SELALU VOTE❤ LIKE👍 AND COMMENT💬
GOOD NIGT?😙😙😙😙