THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 11



"Oh."


"Lo ngapain di sini?"


Yang ditanya hanya diam dan kembali menyesap rokoknya, tidak peduli jika pelayan tersebut masih menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Lo merokok?"


Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Deno malah menatap si pelayan secara bergantian dengan orang yang sedang berdiri tepat dibelakang si pelayan, yang sepertinya sudah siap untuk mengamuk.


Pelayan yang mengerti apa arti dari tatapan Deno tersebut, seketika membalikkan tubuhnya.


"Caca! Kenapa kamu lama sekali?" ternyata sang manajer kafe sudah berdiri di belakang pelayan itu yang hanya bisa tersenyum cengengesan.


"Mama, ih! Marah melulu dari tadi," ucap Caca.


Ternyata manajer kafe itu mamanya sendiri. Wanita itu berdecak kesal.


"Di belakang masih banyak pesanan, pergi sana!"


"Oh, Caca, batin Deno teringat celotehan Alya dulu tentang sahabat sahabatnya.


"Lo tau ga, Bang De? Sahabat gue itu kocak semua loh!"


"Hm...."


"Tapi pada lemot!"


"Hm...."


"Apalagi Audina sama Caca, Lemotnya gak ketolong, deh!"


"Hm...."


"Bang De mah! Kalau gue cerita cuma direspons 'hm', gak ada yang lain gitu"


Deno menggeleng gelengkan kepalanya saat nama Audina melintas lagi dipikirannya.


Ingat, Deno, berhenti peduli!


...****************...


"Bang De!" teriak seseorang bersamaan dengan suara pintu kamarnya digedor dengan keras.


Mendengar hal tersebut Deno seketika menutup wajahnya menggunakan bantal.


"BANG DE LO GAK SEKOLAH?!"


"DENO LO GAK SEKOLAH?"


"BANG DENO INI UDAH JAM SETENGAH 9!"


Saat Deno membuka pintu kamarnya, wajah kesal Alya sudah berada tepat di depan wajahnya. "Gara gara Bang de aku disuruh balik lagi ke rumah sama Mama! Ck!" ucap Alya kesal, membuat Deno beralih melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya.


"Kenapa balik?"


Alya menginjak kaki Deni dengan gemas, sedangkan yang diinjak hanya menaikkan sebelah alisnya, "Bang De kan tau sifat Mama gimana! Gak ada yang boleh absen ke sekolah kecuali ada urusan penting atau sakit!"


"Gue nanya kenapa lo balik, bukan nanya sifat Mama."


Alya menarik napasnya, Lalu membuangnya secara perlahan, butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi sifat Deno yang menjengkelkan seperti ini.


"Aku disuruh jemput Bang De ke sekolah!--- BANG DE GUE KESEL! BAGUSAN LO SIAP SIAP BUAT BERANGKAT KE SEKOLAH!"


...****************...


"Bang De," panggil Alya sambil menatap Deno yang sedang berjalan di sampingnya.


"Hm?"


"Kapan berhenti merokok?!" sembur Alya dengan kesal.


Tadi malam dia mendapat info dari Caca, yang membuat Alya kesal setengah mati melihat kembarannya yang belum juga berhenti menghisap benda beracun itu.


Deno menoleh, matanya menyipit curiga, "Caira ngadu ke lo?"


Alya menyipitkan matanya, otaknya mencerna setiap perkataan Deno, dan akhirnya dia tersadar bahwa ada yang salah.


"Caira?--Astaga Bang De! Caca, bukan Caira!" ucap Alya yang gemas lalu memukul lengan Deno dengan kesal.


"Ngomong sama Bang De bisa buat aqu cepat tua, tau gak!" ucap Alya, lalu pergi meninggalkan Deno yang hanya mengedikkan bahunya tak acuh.


Deno berjalan menuju kantin, karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, yang artinya bel istirahat baru saja berbunyi.


"Denokkkk?! Lo dateng jam segini?! Bagusan lo gak usah dateng!" ucap Dimas yang melihat Deno sudah duduk di sebelah Ariz.


"Kesiangan?" tanya Ariz, yang dijawab dengan gumaman Deno.


"Ngapain aja lo tadi malam?"


"Terkadang Putra terlalu kepo."


"Kan gue cuma nanya, Dim!"


"Permisi," potong seseorang, yang membuat mereka menoleh--kecuali Deno, ke arah cewek yang sedang berdiri di sebelah Deno dengan senyuman manisnya.


"Hai, Gita!" sapa putra, yang dibalas dengan senyuman kecil Gita.


"Kalian IPS-1 ya?"


"Iya, kenapa. Git?"