
Deno mengeraskan volume musik saat lagu Everglow dari coldplay terputar di Hp-nya.
Ia sedang duduk di atas atap SMA PERWIRA yang merupakan tempat favoritnya. Tempat Deno mencurahkan isi hatinya dan tempat ia menikmati angin membawa keluh resah hatinya hingga kepalanya terasa ringan dan beban di pundaknya pun tidak terlalu berat. Disana adalah tempat Deno bisa menjadi dirinya sendiri
Mata deno menatap hambaran kota kelahirannya dengan tidak bersemangat.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Sudah setengah jam Deno duduk diatas atap sendirian. Hanya lagu yang terputar di earphone-nya yang membuat Deno lumayan terhibur.
setidaknya membuat mood Deno menjadi lebih baik.
Nada dering line sempat membuat lagu di earphone Deno mengecil, membuat tangan Deno terulur untuk mengambil Hp-nya.
Deno melihat pop-up notification line dilayar Hp-nya.
➡️📱: Audinas12 "Deno, lagi di mana?"
Otak Deno mengatakan bahwa pesan Audina itu tidak penting untuk di balas, karena memang Deno tidak pernah mau menanggapi atau peduli dengan media sosial.
Tetapi hati Deno berkata lain. Hati kecilnya mengatakan bahwa pesan dari Audina tersebut penting dan Deno harus membalasnya.
Deno akhirnya pusing sendiri.
Deno mengabaikan pesan dari Audina dan kembali ke pemandangan kota di hadapannya.
Selang beberapa detik, dering line kembali terdengar.
Deno menghela napas.
➡️📱: Audina12 "Denovano, lo lagi di mana?"
Akhirnya Deno menyerah.
➡️📱: Denovano "Sklh?"
➡️📱: Audina12 "Gue udah nyari lo sampe ke ujung dunia, tapi kok gak ketemu, ya?"
➡️📱: Denovano " Bntr?"
Deno mengambil tasnya, Lalu turun dari atap untuk hal yang sebenarnya Deno tidak tahu. Ia sendiri tidak tahu mengapa mau menemui Dina.
...****************...
Deno duduk di atas balkon yang terletak di depan kelas IPS-1. Entah mengapa ia yakin Dina akan melewati kelasnya.
Benar saja, selang beberapa menit seorang cewek bertubuh mungil berjalan sambil membawa sebuah bungkusan dan melihat lihat ke dalam kelas IPS-1.
Ia tidak menyadari Deno telah memperhatikannya sedari tadi.
Yang dipanggil pun terlonjak kaget. Tubuh mungilnya langsung berbalik menatap cowok yang sedang duduk di atas balkon dengan wajah datarnya.
"Deno! Lo buat gue kaget!" pekik Dina dengan napas yang tersengal sengal. "Dicari gak ketemu, gak di caro malah ketemu, dasar aneh!" Dina mendumel, membuat Deno menatap wajah kesal Dina yang menggemaskan dengan kedua sudut ujung bibir yang berkedut menahan tawa.
Dia lucu
"Nih" ucap Dina sambil menyodorkan kantong plastik ke arah Deno, yang sudah menaikkan sebelah alisnya.
"Sepatu. Gue merasa gak enak udah make sepatu lo, terus gak bisa ngejaga barang lo," ucap Dina seraya meraih tangan Deno untuk mengambil kantong plastik yang berisi sepatu, mirip dengan punya Deno yang terbuang di tempat sampah. Sepatu Deno tidak dapat diselamatkan karena tong sampah itu langsung dibersihkan oleh penjaga sekolah mereka.
Deno kembali meraih tangan Dina dan mengembalikan kantong plastik tersebut, "Makasih, tapi gue gak perlu."
"Oh iya, sepatu lo udah banyak, ya?"
"Hm."
"Ini gue belinya susah payah loh, No. Yakin gak mau?" tanya Dina dengan wajah memelas, yang membuat Deno seketika bangkit dari balkon dan berjalan mendekat ke arahnya.
Deno berhenti mendekat saat dirinya sudah berhadapan tepat di depan wajah Dina dengan jarak hanya sekitar 10 cm.
Deno menatap lurus mata Dina yang terlihat takut. "Lo takut sama gue?"
Dina menggeleng. jarinya saling menaut. Ia merasa gugup. Deno menaikan sebeleh alisnya, lalu berbalik, "Gue pulang." ucap Deno.
Sebelum Deno melangkah, lengannya ditahan oleh Audina. "No, gue beli sepatu buat lo naik ojek sendirian, malem malem, lagi. Lo beneran gak mau nerima sepatu dari gue?"
"Hubungan ojek sama sepatu, apa?" tanya Deno, yang membuat Dina menggeram kesal.
"Hargain kek perjuangan gue! Atau lo takut gue beli sepatu KW?" tanya Dina, yang membuat Deno menyipitkan matanya.
"kw?" ulang Deno yang membuat Dina kesal.
"Ck! Maksud gue bukan barang asli! Susah ya ngomong sama lo!" ucap Dina menghela napas, menatap Deno dengan jengkel.
Kedua sudut ujung bibir Deno kembali terangkat, "Lo ternyata bawel ya," ucap Deno, lalu merampas kantong plastik tersebut dan berjalan meninggalkan Dina yang mencibir.
"Makasih ya, Deno!" ucap Dina dengan kesal, yang membuat Deno menoleh.
"Sama sama," jawabnya.
Senyum Dina seketika mengembang menatap punggung Deno yang berjalan sambil menenteng plastik berisi sepatu pemberiannya.
Ternyata, lo gak sedingin yang gue kira, No