
"Lo kenapa berantem mulu sama Deva?" tanya Dina yang membuat Deno menaikkan sebelah alisnya.
"Gak papa."
"Di balik dari kata 'gak papa', pasti ada sesuatu...."
"Itu quote cewek, beda sama cowok," jawab deno, yang membuat Dina menyipitkan matanya.
"Memangnya kalau quote cowok gimana?"
"Gak tau."
"Hm, sudah gue duga," jawab Dina, lalu duduk di bangku. "No," panggilnya. Deno ikut duduk di sebelahnya.
"Hm?"
"Lo percaya sama gue?"
"Gak."
Dina berkacak kesal, "Kan kita udah temenan! Masa gak percaya sih sama gue?" tanya Dina mangut mangut sendiri. Deno memejamkan matanya menikmati angin yang berembus.
"Karena gue belajar dari pengalaman," jawab Deno. Dina menoleh untuk memperhatikan Deno yang sepertinya sangat menikmati angin yang berembus.
"Belajar dari pengalaman?" tanya Dina bingung.
Mata Deno terbuka. "Karena kepercayaan gue udah pernah dibuat hancur, Din. Gue gak bisa semudah itu buat percaya sama lo," jawab Deno, yang membuat Dina menjadi semakin penasaran.
Dina merasa bahwa orang seperti Deno patut untuk dikenal lebih dalam. Ia penasaran dengan tipe cowok seperti Deno.
Cuek, dingin, tidak peduli dengan urusan orang lain, dan jarang berbicara.
Sifat Deno sangat berbeda dengan sifat Alya dan Deva. Selama 2 tahun ini, Dina hanya bisa melihat Deno dari kejauhan, menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Deno yang sangat jauh berbeda daripada cowok cowok kebanyakan.
"Kalau gue boleh tau, siapa orang yang udah menghancurin rasa percaya lo, No?"
Deno yang ditanya hanya diam, tidak berniat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan Dina.
"Kalau kepercayaan lo udah pernah hancur, gue boleh gak, No, ngebuktiin ke lo kalau gue bisa--" Dina menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan, "--ngebuat lo percaya sama gue?"
"Boleh." ucap Deno.
Dina tersenyum lebar saat kata itu terus menerus terputar di dalam kepalanya. Satu kata yang membuat senyumnya tidak dapat menghilang semenjak Deno mengatakan hal tersebut.
Deno membolehkannya berusaha membuatnya mempercayai Dina. membuat rasa percaya yang pernah hancur, perlahan lahan akan kembali menjadi utuh seperti dulu.
"Lah, Dina dari tadi senyum mulu. Gak capek, Din?" tanya Nera yang sedang bersandar di pundak caca.
"Lagi jatuh cinta si Dina," timpal Caca, membuat Dina mencibir.
"Dasar, sok tau!"
"Tumben Alya telat, biasanya kan dia udah ribut pag--eh, itu anaknya! Panjang umur!" ucap Nera heboh saat melihat Alya dengan wajah cemberut berjalan di belakang Deno--dengan wajah datar.
Deno.
Senyum Dina lagi lagi mengembang melihat seorang Deno berjalan dengan mata tajamnya yang seperti biasa, sedang menatap sekeliling lapangan.
Dan saat itu juga, mata Deno bertubrukan dengan mata Dina. kakinya terasa seperti jelly saat Deno menatapnya tepat di kedua matanya.
Anjir, lo buat gue gregetan Denovano! Dalam hitungan detik, Deno mengalihkan pandangannya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Inilah yang disukai Dina.
Setiap pagi selalu begitu, memperhatikan Deno yang selalu datang terlambat.
2 tahun--pun selalu begitu.
Tetapi Deno saja yang tidak menyadarinya, mungkin karena terlalu banyak siswi Perwira yang memperhatikannya, sehingga Deno tidak sadar kalau selama ini Dina selalu memperhatikannya dari kejauhan.
"Iya! Gue kesel sama Bang De!" ucap Alya, yang membuat lamunan Dina seketika buyar.
"Deno kenapa?"
"Ck, makanya jangan ngelamun terus," ledek Caca, yang membuat Dina memutar kedua bola matanya dengan kesal.
"Deno kenapa, Al?"
"Gara gara dia gue telat mulu!" ucap Alya yang sudah mencebik kesal. "Kalau ngebangunin Deno itu harus pake tenaga ekstra, tau gak!"
"Yang penting lo masih dibolehin masuk, Al," ucap Dina, yang membuat Alya mendengus kesal.
"Ya bisalah Din, coba yang punya sekolah bukan mama gue, gue yakin su--"
"Audina," potong seseorang, yang membuat Dina dan teman temannya menoleh, dan seketika Alya mendengus kesal.
"Alya kok gitu sama Bang De!"
"Bang De' cuma buat Deno!" ucap Alya menjulurkan lidahnya ke arah Deva, membuat Deva seketika cemberut.
"Dev, mending pergi sana! Darah gue masih mendidih, nih. kalau Poppy masih mau hidup, bagusan lo pergi aja daripada dia yang gue sikat!"
"Ya udah, sikat aja sana."
"Mantan kurang ajar lo, Deva..." ucap Nera, yang membuat Deva tertawa.
"Audina, line gue kok gak dibalas?"
"Duh, kehapus kali, Dev...."