THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 16



Dina yang mendengarkan gosip mereka menoleh secara tiba tiba, dan seketika para siswi tersebut terdiam. Matanya menatap tajam gerombolan itu.


"Lo pada anak IPA gue tunggu dilapangan, pulang sekolah!" teriak Dina dengan kesal, membuat para siswi tersebut menunduk takut.


"Gak usah sok jadi preman," ucap Deno, membuat Dina mendengus kesal.


"Gimana preman gue gak keluar! Mulut mereka itu, No! Rasanya pengen gue jadiin rujak!"


Deno hanya diam tidak menanggapi. Masih menarik lengan Dina, Deno membuka sebuah pintu yang terlihat kusam.


Deno menuntun Dina menaiki sebuah tangga yang selama ini tidak pernah ia lihat selama bersekolah di perwira.


"No, lo mau culik gue, ya? Gak papa deh, asal gue jangan lo bunuh, No. kan kasihan gue udah jomblo terus lo bunuh pula! Entar gak ada yang nge---" ucapan Dina terpotong saat pintu yang terletak di atas tangga, berhasil dibuka oleh Deno. Deno memanjat ke atas pintu tersebut, yang membuat Deno seketika tercengang.


"Gue baru tau kalau ada pintu yang letaknya di atas tangga?!" teriak Dina, lalu Deno mengulurkan tangannya ke bawah.


"Ihh! Gue pake rok, No! Entar kalau lo ngelihat-- gue kan malu..." ucap Dina, lalu menunduk malu yang membuat Deno berdecak kesal.


"Gak bakalan gue lihat," ucap Deno yang masih mengulurkan tangannya ke arah Dina.


"Okay .... Terus, cara naiknya gimana?" tanya Dina yang sudah mendongak untuk menatap Deno. Deno yang terpapar sinar matahari Deno yang sedang mengulurkan tangannya.


"Ternyata lo lebih ganteng kalau dilihat dari bawah, No!" ucap Dina sambil nyengir. Deno menghela napasnya dengan lelah


Dina menerima uluran tangan Deno. "Terus gimana?" tanya Dina, yang membuat Deno melirik pegangan tangga yang ada di sebelah Dina.


Dina yang mengerti, melirik Deno dengan ragu, "Gue harus naik ke atas pegangan tangga?" tanya Dina, yang dijawab dengan anggukan Deno.


"Gak bakalan jatuh, ada gue," ucap Deno, yang membuat Dina menaiki pegangan tangga dengan hatu hati. Bahkan, kakinya bergetar saat berhasil menaiki sela sela pegangan tangga tersebut.


"Terus?" tanya Dina. seketika Deno melepas satu tangan Dina dan memeluk pinggangnya untuk menariknya ke atas.


Berhasil.


Dina yang sudah berada di atas memperhatikan pemandangan yang ada di sekelilingnya. Sedangkan Deno terus menatap wajahnya yang terlihat bingung.


Menunggu respons Dina selanjutnya.


"Pemandangannya cantik, No!" ucap Dina, lalu bangkit dan berjalan ke arah balkon untuk melihat hamparan kota kelahirannya. "GUE BARU TAU PERWIRA PUNYA ROOF TOP!" teriaknya dengan semangat, membuat Deno mendengus geli


Angin yang cukup kencang, membuat beberapa helaian rambut Dina tersibak angin, membuat Deno tertegun melihat wajah bersemangatnya yang sangat mendominasi keadaan.


Dina menoleh saat Deno juga ikut melihat hamparan pemandangan yang ada di hadapan mereka. "Lo sering kesini ya, No?" tanya Dina yang memperhatikan rambut Deno yang juga ikut melambai terbawa angin.


Yang tentu saja menambah ketampanannya secara drastis.


"Hm."


"Kok baru sekarang sih ngajak gue ke tempat bagus kayak gini?"


"Kita kan baru temenan," jawab Deno dengan kalem, yang membuat senyum Dina seketika mengembang, lalu tangannya terulur menjawil pipi Deno.


"Deno mah unyu kalau kayak gini!"


seperti biasa, Deno yang diganggu hanya bisa mendengus kesal.


"Deno, maaf ya," ucap Dina yang masih terus menjawili pipi Deno menggunakan jari telunjuknya.


Deno menahan lengan Dina sehingga keisengannya terhenti.


"Lo suka sama Deva?"


Seketika keadaan menjadi hening. Suara angin yang berembus kencang pun terdengar seolah olah menjadi musik luar.


Dina mengerjap ngerjapkan matanya menatap Deno yang tengah menatapnya dengan serius. "Ya, enggak lah!"


"Gak mamanya, gak anaknya, sama aja!" ucap Dina yang sudah cemberut menatap Deno karena menuduhnya menyukai Deva.


"Deno menoleh, "Yang lo maksud itu, gue?"


"Ya iyalah, Deno!" ucap Dina, lalu mencubit lengan Deno dengan gemas. "Masak semua orang pada ngira kalau gue suka sama Deva! Gue kan berantem sama Poppy bukan karena Deva!"


"Terus?"


"Ya, karena gue gak suka aja dituduh kalau gue perusak hubungan mereka," jawab Dina, lalu menatap Deno yang sedang menopang dagunya di dinding balkon.