
"Gue mau ketemu sama Ketua Kelas IPS-1. Kata murid murid di sini, salah satu di antara kalian ada yang---"
"Gue," potong Putra, yang membuat Gita tersenyum, "Bisa anter gue ke IPS-1?"
"Mau ngapain, Git?"
"Mulai hari ini gue pindah ke kelas kalian."
Sontak Ariz membulatkan kedua bola matanya.
"Yuk gue anter."
Mendengar hal itu Deno mendengus pelan.
...****************...
Denger ya, Deva! Gue udah capek berantem sama Poppy, jadi lo minggir!" ucap Dina yang kesal karena Deva sedari tadi menghalangi jalannya.
"Gue cuma nanya, lo kenapa bisa luka luka kaya gini?" tanya Deva, lalu tangannya terulur untuk menyentuh lengan Dina dan langsung ditepis oleh Alya.
"Deva, lo mau bikin Dina dipanggil sama Mama lagi?" tanya Alya yang sudah berdiri di hadapan Deva.
"Gue cu---"
"Bagusan lo urus mantan lo, tuh! Jangan sampe gue yang urus!" ucap Alya yang melihat Poppy dengan gaya angkuhnya, menatap dirinya dan Dina secara bergantian dengan tajam.
"Deva berdecak kesal mendengar ucapan Alya, "Cepat sembuh ya, Didin!" ucap Deva, lalu mencubit pipi Alya dengan gemas sebelum dirinya mengurus Poppy.
"Makasih ya, Al! Kembaran lo yang satu itu rada aneh, tau!"
"Iya. sifat Deva memang beda sendiri, apalagi kalau dibandingin sama Deno. Beda jauh," ucap Alya sambil merangkul pundak Dina.
Mendengar nama Deno disebut, Dina tersenyum kecil.
"Iya! Kalo Deno dingin dingin gimana, gitu! Gemesin!" ucap Dina, membuat Alya terkikik geli.
"Gemesin kayak giman sih?" tanya Alya sengaja memancing Dina.
"Ya, gemesin gitu. Maksud gue---Lo jangan berpikiran negatif dulu, Al!" sanggah Dina, yang membuat Alya mau tidak mau tertawa terbahak bahak melihat rona merah di pipi Dina.
"Negatif? Apanya yang negatif?"
"Kalau gue?" potong Alya yang sudah tersenyum menyeringai ke arah Dina yang cemberut.
"Gue suka sama Deno!"
"NAH NGAKU, KAN!" teriak Alya dengan histeris, membuat Dina sontak terbelalak kaget.
"Maksud gue bukan kayak gitu!" ucap Dina gelagapan sendiri, yang semakin membuat Alya tertawa terbahak bahak melihat ekspresinya yang begitu lucu.
"Bagusan mulai sekarang lo sadar aja, Din," ucap Alya, membuat Dina mengernyitkan dahinya dengan bingung.
"Gue gak ngerti maksud lo apaan."
"Pokoknya lo harus sadar cepet cepet! karena Deno itu agak sulit---"
"Alya?" potong seseorang yang membuat Alya dan Dina secara bersamaan menoleh.
"Gita?" ucap Alya dengan tidak percaya. Gita hanya tersenyum kecil.
...****************...
Deno membuka kausnya, lalu melompat ke tempat tidur dengan lelah. Akhirnya ia bisa menyentuh kasurnya setelah dua jam bertanding basket melawan sekolah lain.
Lelah? Iya.
Tetapi Deno lebih memikirkan lelah pada batinnya. Deno menghela napas. pikirannya terus memutar kejadian yang terjadi sewaktu pertandingan basket berlangsung. Saat itu mata Deno menangkap sosok Dina yang sedang bersorak sorak dengan Alya dan yang lainnya di bangku penonton. Lalu Deva datang dan mengganggu kelompok itu. Bukan. Lebih tepatnya mengganggu Dina.
Saat itu Deno langsung merasakan desiran aneh yang sangat menganggu konsentrasinya bertanding.
Deno bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Mereka pacaran?
Deva---suka sama Dina?
Deno berdecak kesal. Mengapa Deno seperti ingin tahu tentang Dina dan Deva?
Kenapa gue peduli?
Memikirkan hal tersebut, Deno lagi lagi berdecak kesal dan menarik selimut menutupi tubunya.