THE FEELINGS

THE FEELINGS
EPISODE 3



Pagi ini Deno dan teman teman kembali duduk di bangku lapangan sambil bercerita mengenai berita ter-update---yang menurut Deno hal tersebut sama sekali tidak menarik baginya.


"Gue lihat Poppy semalam, najis mau muntah," ucap Putra, yang membuat Dimas seketika tertawa.


"Memangnya kenapa?" tanya Ariz yang penasaran, sedangkan Deno hanya mendengarkan.


"Kemarin dia nembak Deno, kan? Nah, semalam dia nembak Deva, terus hari ini dia nembak siapa lagi, coba?"


"Hari ini, palingan lo yang jadi sasarannya, Tra!" ucap Ariz, yang membuat Dimas seketika tertawa terbahak bahak.


"Anjir, lihat muka dia aja gue udah enek. Make up nya kurang tebel!" kata Dimas


"Dasar lo, Dim. naksir bilang!" ucap Putra, yang membuat Dimas bergidik takut.


"Ya ampun jangan sampe, jangan sampe!" ucap Dimas sambil menokok kepalanya secara bergantian dengan bangku lapangan.


"Bagusan temen temennya Alya, ya gak, Tra?"


"Iya! Cantik cantik, lagi!"


Mendengar kata teman teman Alya', mau tidak mau Deno mengingat kejadian yang membuatnya tidak habis pikir. Suaranya yang mampu membuat kedua telinga Deno terasa begitu panas serta wajah merah padamnya yang menahan malu, membuat kedua ujung sudut bibir Deno terangkat. Deno tersenyum kecil.


"Deno?! Lo gak kerasukan setan Perwira kan?!" tanya Dimas sambil menepuk nepuk pundak Deno, yang membuat Deno seketika menaikkan sebelah alisnya, "Lo kok senyum senyum gitu, terus melamun pula!" ucap Dimas lagi.


"Gue kira lo kayak Hekal, kerasukan setan karena pipis sembarangan!"


Plak!


"Mulut lo itu, Dim. Bocornya gak nahan!" tegur Ariz.


Yang ditegur malah meringis sambil mencibir, "Kan yang gue bilang memang fakta!"


"Ya, tapi dijaga kek. ntar lo yang ketularan sentannya Hekal, baru tau rasa!"


"Goblok, omongan itu doa!"


Deno yang pusing mendengar ocehan mereka hanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan, tanpa ada niat untuk ikut nimbrung ocehan mereka yang masih terus berlanjut


Jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Seharusnya sekarang para murid sudah mengikuti waktu pembelajaran. Tetapi masih banyak murid yang berkeliaran disekitar lapangan, seperti Deno dan teman temannya.


Lalu mata Deno secara tidak sengaja melihat murid murid IPS-5 yang mulai berbaris di lapangan tidak jauh dari tempat gerombolan Deno berkumpul. IPS-5 adalah kelas Alya.


"YA AMPUN DINA, KENAPA KAMU GAK PAKE SEPATU?!" teriak Mr. Yohan, guru olahraga IPS-5."


Dina? Namanya terdengar familier.


Orang yang dipanggil pun berjalan mendekati Mr. Yohan dengan wajah letih, "Sepatu saya ada yang nyembunyiin, sir!" ucap Dina yang sudah mencibik kesal, membuat teman teman sekelasnya tertawa gemas melihat eskpresinya.


Begitu juga Deno yang sedang menahan tawanya.


"Kamu tidak bisa menggambil nilai ujian praktek kalau begitu!" ucap Mr. Yohan. Dina mendengus kesal. Lalu matanya tidak sengaja menatap sepasang mata yang sedari tadi telah mengawasinya.


Mata tajam yang mampu membuat jantung Dina berdetak tidak karuan.


Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya karena si pemilik mata tersebut masih menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti artinya.


"Ada alternatif yang lain gak, Sir?"


"Pinjem sepatu siswa yang lain, saya beri kamu waktu 5 menit!"


Dina sontak terbelalak. tapi kemudian matanya beralih menatap mata yang sedari tadi memperhatikannya disudut lapangan.


"Dina!" bisik Alya membuatnya menoleh, "Pinjem sama temen temennya Deno aja! pasti dikasih!"


Dina menautkan jari jarinya dengan bingung.


Awas aja yang ketahuan ngambil sepatu olahraga gue dari loker, gue makan hidup hidup tuh orang! batinnya mendengus pelan.


Dina akhirnya berjalan mendekatu Deno dan teman temanya. Bukannya mengalihkan pandangannya saat mata mereka kembali bertemu, Deno justru malah menatapnya dengan intens.


Dan hal ini cukup membuat kaki Dina gemetar.


"No, pinjem sepatu dong!"


Dimas, Ariz, dan Putra baru kali ini melihat Dina dan Deno saling berbicara. Itu membuat mereke terkejut bukan main.


"Buat apa?"


Dina menggeram kesal, sudah tau ia memakai seragam olahraga dan Deno masih bertanya?


Bahkan dari nada bicaranya, Deno seperti memberikan pernyataan, bukan pertanyaan.


"Gue pinjem dua jam aja!"


"Gue nanya buat apa, bukan berapa lama."


Dina sontak mengatupkan bibirnya rapat rapat, jari jari tangannya meremas seragam olahraganya dengan gemas.


"Sepatu gue hilang! Boleh, ya?"


"Gue nanya buat apa, bukan nanya sepatu lo ada dimana."


Cukup kesabaran Dina habis.


Dengan kesal ia menarik sepatu Deno yang masih terpasang di kedua kakinya, yang seketika membuat Deno menatapnya heran sambil menaikkan sebelah alisnya.


Bahkan, aksi Dina sedari tadi telah menjadi tontonan gratis para siswi yang sudah gigit jari melihatnya begitu dengan Deno.


Setelah berhasil, Dina memakai sepatu Deno sambil tersenyum cengengesan. "Makasih ya, No!" ucapnya sambil berlari kembali ke barisan. Rambutnya yang diikat di belakang bergoyang ke kanan dan kiri.


"Hm," jawab Deno, lantas membuat Dimas, Ariz, dan Putra terbelalak tidak percaya.


"Deno! Lo lagi gak kerasukan ya?!" tanya Dimas, lalu mengguncang tubuh Deno yang membuat deno menaikkan sebelah alisnya.


"Tadi itu beneran lo yang ngomong, No?!" tanya Putra. Tanganya terulur menyentuh dahi Deno, "Normal kok!"


Alya menatap Dina dengan tatapan tidak percaya, "Lo tau gak, din. Deno itu---aduh, gue masih gak nyangka tau, gak!" ucap Alya, yang membuat Dina seketika mengernyit bingung.


"Memangnya kenapa?"


"Lo tau sendiri gimana kembaran gue yang satu itu, kan?"


Dina mengganguk.


"Terus lo gak gempar gity seorang Deno mau minjemin sepatunya cuma cuma, terus bicara dalam kalimat yang menurut gue itu udah panjang, banget."


Bukan gempar lagi, Al. Bahkan gue terguncang!


Dina seketika berhenti berjalan, lalu matanya menatal Alya dengan tatapan polos. Dan dalam sepersekian detik, matanya sukses membulat, "ASTAGA AL, GUE KOK JADI PANAS DINGIN BEGINI?!" teriak Dina seketika, yang membuat Alya tertawa melihat sahabatnya yang baru saja tersadar.


"Gue unyu ya pake sepatu punya Deno yang terlihat kebesaren di kedua kakinya. lalu ia melompat lompat seperti anak kecil sambil tertawa geli.


Melihat hal tersebut, lantas Alya mendengus pelan,


"Astaga, Din...."


...****************...


"Kak Deno, mau pake sepatu aku, gak?"


"Kak Deno kok gak pake sepatu? Entar kakinya kegores, loh!"


"Gue juga buka sepatu, ah! Biar samaan kayak kak Deno!"


"Ya ampun Deno, sepatu lo kemana?"


Deno hanya diam, ia tidak menanggapi ataupun menjawab pertanyaan dari beberapa siswi yang melihatnya hanya menggunakan kaos kaki tanpa sepatu.


"Kak Deno! Kak Deno! Mau gak pake sepatu akyu?" tanya Dimas yang sengaja menirukan suara mereka. Putra dan Ariz tertawa.


"Tai," jawab Deno, yang membuat mereka bertiga lagi lagi tertawa mendengar respons Deno yang tidak terduga.


"Kok lo bisa deket gitu sama Audina, No?" tanya Putra. sedangkan yang ditanya hanya menaikkan sebelah alisnya.