
Dina yang memperhatikan Deno cukup lama akhirnya menaiki kasur Deno, yang membuat mata Deni seketika terbuka.
"Turun," suruh Deno yang melihat Dina sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum cengengesan.
Dina menggeleng, "Gue bakalan turun kalau lo udah jawab semua pertanyaan gue!"
"Gue mau tidur."
"Ihh! Jawab dulu, No!" ucap Dina sambil mengguncang tubuh Deno, saat melihat mata Deno yang kembali terpejam.
"Deno berdecak kesal, "Ya udah nanya, gue dengar," gumam Deno, yang membuat senyum Dina kembali mengembang.
"Kenapa semalam lo gak ngejawab telepon gue?"
Deno menaikkan sebelah alisnya, tetapi matanya masih tetap terpejam.
"Deno!" panggil Dina saat melihat Deno tidak memberi respons sedikit pun.
"Memangnya, ada ya?"
Yang ditanya hanya diam menatap wajah Deno yang terlihat begitu tenang dan begitu errrr---tampan. Membuat Dina menjadi gemas sendiri.
"Din," panggil Deno, karena ia tidak mendengar jawaban apa pun dari Dina
Orang yang dipanggil pun tetap diam, matanya malah menelusuri alis mata Deno yang begitu tebal, lalu beralih menatap hidung dan rahang Deno yang begitu tegas.
Apalagi melihat bibir Deno yang berwarna pink muda cerah seperti memakai lip tint. Memikirkan hal tersebut, Dina terkikik geli.
Seketika mata Deno terbuka dan langsung bertubrukan dengan mata Dina.
Dina tersenyum geli, "Kalau lagi ngomong sama orang itu, tatap matanya! Gak sopan tau gue ngomong lo kacangin kaya tadi," ucap Dina, membuat Deno tersenyum kecil lalu menatap lurus ke dalam mata Dina.
"Gue tanya lagi, kenapa lo gak ngangkat telepon gue?"
"Lo nelepon gue?"
"Ck! Lupain! Pertanyaan yang Kedua, sejak kapan lo merokok?"
"Kelas sepuluh."
"Kenapa?"
"Kenapa lo nanya kayak gitu?" tanya Deno balik dengan kening yang berkerut"Gue cuma penasaran tentang lo, Salah?" tanya Dina balik dengan matanya yang sudah melotot ke arah Deno.
"Salah," jawab Deno dengan tenang, tetapi mampu membuat hati Dina mencelos.
"Kenapa salah?"
"Karena gue tipe orang yang tertutup, Din. Gue gak semudah itu buat percaya sama orang lain, apalagi percaya sama orang yang cuma penasaran sama cerita hidup gue," ucap Deno, yang membuat Dina seketika tercengang mendengar pertanyaan Deno.
Dina cemberut. Ia merasa tersindir.
"Kalau lo tertutup, kenapa lo masih mau bicara sama gue?"
Deno menghela napasnya,
"Gue sendiri juga gak tau kenapa gue masih mau bicara sama lo. Lo selalu berhasil ngebuat gue harus ngeluarin beberapa kalimat buat ngejawab pertanyaan lo, yang terkadang aneh," jawab Deno, yang membuat tangan Dina terulur menarik hidung Deno, hingga Deno sulit untuk bernapas.
Dina tertawa terbahak bahak saat Deno menahan lengannya yang ingin menarik hidung Deno lagi.
Deno, kenal Gita gak?"
"Gak."
Dina terdiam Matanya menatap mata Deno untuk mencari sebuah kebohongan.
Deno hanya mendengus kesal.
"Kan tadi gue sama Alya ketemu sama Gita, terus dia kaya sok kenal sok ceket gitu sama Alya. Yang lebih parahnya, No! Si Gita..." teriak Dina yang semakin mencubit lengan Deno dengan keras, yang membuat Deno seketika meringis, "Eh? Sorry, No!"
"Habisnya gue kesel sama si Gita! Masa gue dilihatin dari atas sampai bawah, berulang ulang kali! Ngeselin, Kan!"
"Denooo! Jawab dong!
"Gue gak kenal."
"Mata Dina menyipit curiga, "Okey...."
"Keluar," usir Deno lagi, yang dijawab Dina dengan gelengan.
"Siapa bilang gue udah gak mau nanya lagi?"
"Ya udah, tanya."
"Gue boleh gak temenan sama lo?"
Seketika Deno menaikkan sebelah alisnya, membuat Dina meringis sambil menatap wajah Deno yang terlihat bingung.
"Boleh gak, No?"
"Gak."
"Deno mah pelit orangnya!" ucap Dina hendak bersandar di dinding, karena tempat tidur Deno yang terletak di sudut kamar.
Ternyata, jarak tubuh Dina dengan dinding kamar Deno masih jauh, sehingga saat ia bersandar alhasil kepalanya duluan yang membentur dinding, bukan punggungnya.
Bunyi DUG! terdengar keras, membuat Deno seketika bangkit dari tidurnya.
"KEPALA GUE!" teriak Dina dengan mata terpejam, lalu meringis karena kepalanya terbentur dinding cukup keras.
Deno menarik tubuh Dina secara perlahan sehingga ia kembali ke posisi duduk.
"Pusing...." ucap Dina sambil mengusap usap pelan bagian kepalanya yang teruntuk dinding bercat hitam-putih tersebut.
Deno menahan tangan Dina yang masih sibuk mengusap usap kepalanya. "Biar gue liat," ucap Deno, lalu mengecek bagian kepala Dina yang terbentur.
"Gimana, No? Benjol, ya?" tanya Dina penasaran, saat merasakan tangan Deno yang mengusap usap kepalanya dengan lembut dan terkesan hati hati.
Seketika pipi Dina merona karena Deno memperlakukannya seperti ini.
Deno menggeleng, lalu menyentil dahi Dina hingga meringis. "Makanya jangan lasak," omel Deno, yang membuat Dina seketika cemberut.
Baru aja ngeblush! batin Dina.
"Lo sih gak bilang kalau jarak gue sama dinding masih jauh!"
"Lo yang ceroboh," ucap Deno yang kini bersandar di kepala tempat tidur sambil memperhatikan wajah Dina yang cemberut.
"CEROBOH LO BILA--"
"Dina, lo ngapain disini?" potong seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kamar Denobyang sedari tadi terbuka, membuat Deno seketika membuang arah pandangannya.
"Eh? Hai, Deva!" sapa Audina yang sambil tersenyum cengengesan.
Seketika Audina merasakan aura yang tidak bagus di sekitarnya.
"Mati gue, bakalan ada perang dunia, nih, batin Audina yang melihat Deno dan Deva yang paling tajam.
LANJUT BESOK YA.. SOALNYA AUTHOR SEHARIAN INI BELUM ISTIRAHAT...