
Jessi kala itu hendak pulang ke rumah.
namun saat di depan pagar kos. sebuah mobil jazz warna putih datang.
Jessi pun terkejut melihat itu. dia berfikir bahwa ini hari Minggu. dan tak mungkin pembelian satu unit mobil baru akan semudah membeli sebuah makanan.
Jessi pun menghampiri pegawai dealer itu.
"ini pesanan bapak vino ya."
pegawai dealer "iya mbak. kamarnya sebelah mana ya.?"
Jessi "ini untuk siapa ya.?"
pegawai "maaf mbak kami hanya di suruh mengantar saja."
Poltak "oh bentar pak. mari ikut saya pak."
Jessi juga melihat prilaku aneh dari Poltak penjaga kos.
Poltak "mas.mas eh...maaf mbak, mobilnya sudah datang."
"ini petugasnya menunggu di depan."
nandya pun terkejut melihat bahwa mobilnya datang.
setelah itu nandya Hanay dimintai KTP untuk mengurus surat-suratnya. dia juga sudah di beri kunci mobil barunya.
nandya "ini pembayarannya gimana pak?"
pegawai "terserah mbaknya. nanti mau chas apa kredit."
"mbak nya bisa langsung ke dealer kami besok. kalau hari ini gak bisa mbak, soal nya tutup."
nandya yang tahu hal ini langsung membangunkan Syadam.
"dam bangun. hoy...."
Syadam "apa lagi sih nad.?"
nandya "mobilnya dah Dateng."
Syadam "mobil apa?"
nandya "mobil pesenan kamu."
Syadam "yang pesen mobil siapa ?"
ternyata Syadam tak sadar ketika memesan mobil itu. rasa ngantuk yang berat membuatnya dia memecahkan masalah dengan kekuasaannya.
saat dia benar-benar sadar. dia pun kebingungan. dia melihat hand phone nya untuk melihat siapa yang di telfonnya waktu itu.
Syadam "oh dia vino. dia temen SMA ku."
"sekarang dia kerja di dealer Honda."
nandya "tapi kok bisa semudah ini."
Syadam "dia dipercaya oleh bosnya."
muka bingung terlihat pada Syadam kala itu.
sayadam "mandi dulu ya. entar baru jalan."
setelah Syadam mandi dan siap-siap. akhirnya Syadam mau mengantar nandya untuk berblanja. sebelum blanja Syadam mengajak makan nandya.
nandya membeli banyak perlengkapan dan semua kebutuhannya tak lupa dia juga membelikan beberapa perlengkapan untuk Syadam.
karena tadi nandya sempat membersihkan kamar Syadam, dia jadi tahu alat apa kurang dan perlengkapan apa yang habis.
setelah belanja Syadam membantu mendekor dan menata kosnya nandya. kedekatan mereka akhirnya terbentuk
nandya "boleh gak ya aku ikut gabung pink street. buat nambah temen dam."
Syadam "Anis baik kok orangnya. palingan boleh."
nandya "kayaknya bakal seneng aku hidup di kota ini."
Syadam "kamu senang dan aku menderita kayaknya."
nandya "kok gitu dam.?"
sayadam "bakal terganggu acara istirahatku."
nandya "sabar dam, samapai aku dapet cowok."
pukul 14.00
Syadam "kamu gak beli alat solat. eh kamu pemeluk agama apa?"
nandya "aku muslim dam. hehehe aku jarang banget menunaikan ibadah solat."
Syadam "oh....aku solat dulu ya."
setelah solat nandya dan Syadam melanjutkan mendekor kamar nandya hingga sore.
nandya "selesein besok ya. capek banget aku."
Syadam "jalan yuk. sekalian entar cari makan."
nandya menyetujui permintaan Syadam.
mereka menuju bukit bintang. untuk menikmati senja.
Syadam "ini tempat yang paling aku suka."
nandya "bagus ya. Jogja kala senja."
Syadam "makanya aku suka banget tempat ini."
nandya "dah lama Lo kerja di hotel.?"
Syadam "setahunan."
nandya "eh dam cita-cita mu apa?. jadi karyawan hotel kayak sekarang ?."
Syadam "aku dah gak punya cita-cita."
Syadam "iya. tapi sudah terwujud."
"sebenarnya mimpi ayah ku sih."
"tapi sudah lah. ak sudah lelah untuk menggapai cita-cita."
nandya "oh ya...kalau pacar gimana.?"
Syadam "aku gak punya. aku juga malas untuk melakukan hal semacam itu."
nandya "hahahaha......kemaren Anis juga cerita, kalau kau tak pernah perhubungan dengan gadis mana pun."
"tapi pernah kan?"
Syadam "pernah. dulu karena perbedaan status yang terpaut jauh, aku meninggalkan nya."
"aku takut tak bisa memberi yang terbaik untuk hidupnya."
nandya "tapi dia mau menerima kamu."
Syadam "sangat mau. dia juga berharap bisa hidup dengan ku. namun tidak untuk keluarga besarnya."
nandya "terkadang kita itu salah pilih dam."
"terkadang kita juga harus memilih."
"pilihan hati wanita mungkin terlihat buruk dan salah di mata orang lain."
"namun pilihan itulah yang membuatnya bahagia."
"misal ini dam, aku yang memilih brandalan."
"Dimata teman dan keluarga ku itu buruk."
"namun brandalan itu lah yang bisa membuat hidup ku penuh senyum dan bahagia."
"banyak orang menilai lelaki mapan itu. dilihat dari jumlah rupiah yang mereka dapatkan."
"tanpa melihat dia bisa gak menjadi imam yang baik untuk hidup kita."
Syadam "hidup itu adalah pilihan nad. saat kita tidak menentukan pilihan, kita tidak benar-benar dalam posisi hidup."
"setelah kita memilih, kita harus memperjuangkan pilihan kita."
(kalimat dari bu mariyam.)
nandya "bisa di perjelas."
Syadam "aku memilih untuk meninggal kan Wanda. aku harus siap dengan semua konsekwensinya."
"jadi ketika kita sedih. kita rindu. kita sakit hati."
"kita harus menjalani semua itu."
"aku adalah orang yang tak akan menarik ucapan ku. itulah jalan hidupku."
nandya "hahaha di balik kalemnya diri mu. ada juga ya sifat lelaki sejati."
nandya lalu pergi untuk membeli beberapa minuman. saat itu nandya menabrak seorang lelaki.
lelaki itu dalam keadaan mabuk.
Saiful "woy gadis ******. punya mata gak?"
(bos dari wilayah bukit bintang.)
nandya "maaf..aku aku tak sengaja."
"dia cantik banget bos. hehe.."
ujar salah satu bawahan Saiful.
saat salah satu bawahan Saiful mendekat.
bumb.......
sebuah tendangan keras melesat ke kepalanya.
Saiful "woy..cari gara-gara kau....!!!"
mata tajam melihat saiful kala itu.
salah satu anak buahnya yang lain menyerang pria itu.
namun.....
lagi-lagi...
bumb.....
sebuah pukulan mengahatamnya. dia juga lagi-lagi tergletak.
Saiful "serang dia."
semua anak buah menyerang bersamaan.
dia mundur selangkah sembari menendang. setelah itu dia melakukan pukulan combo.
setelah itu dia berlari sembari memukul satu-satu bawahan Saiful.
hingga yang tersisa Saiful.
Saiful "DK ........"
dia bersujud di depan Syadam.
Syadam "apa seperti ini kelakuan mu sekarang."
Saiful "ampun mas DK."
Syadam pun meninggalkan Saiful dan mengajak nandya pergi dari situ.
bersambung............