The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
9. Hwang Ro



Aran menggembungkan kedua pipinya di atas salah satu meja makan paman Han. Wajah imutnya ditekuk.


Gadis enam belas tahun lebih itu merengut lucu.


Entah sudah berapa kali Aran menghela napas berat. Seolah beban hidup sudah tak sanggup dia pikul.


Semangat yang membara, berharap menemukan titik terang tentang kakek buyutnya langsung terhempaskan begitu saja.


"Putri, apa kau yakin dengan nama kakek buyutmu itu?" paman Han bertanya hati-hati dengan suara lirih. Takut ada orang lain yang mendengar.


Karena ini adalah hal yang sangat sensi tif sekali. Mengingat tidak satu dua orang saja yang mengincar kedudukan sebagai pendamping ratu Tian.


Aran mengangguk lemah. Sepertinya lebih mudah menemukan jarum di tumpukan jerami daripada menemukan kakeknya.


Paman Han dan istrinya saling melirik. Juga bingung harus bagaimana lagi membantu gadis di depannya itu.


Hwang Ro.


Nama yang segera dibawa paman Han menuju balai pencatatan penduduk di ibu kota untuk ditanyakan.


Namun nihil. Tidak ditemukan satupun keluarga ber marga Hwang di Tian ini.


Bahkan paman Han menyogok sang petugas dengan beberapa batu perak untuk mengecek sekali lagi nama itu di arsip balai.


Tetap tidak ada.


"Sudah... sudah... Putri jangan terlalu keras pada diri sendiri," bibi Han segera menengahi suasana yang suram itu. "Besok, kita akan coba mencarinya lagi di balai pemerintahan lainnya."


Aran mengangguk. Namun masih dengan wajah lesu.


Bibi Han lantas mengambil beberapa bakpao untuk membuat mood Aran sedikit ceria.


Mendapati makanan hangat tersaji, tentu saja perlahan namun pasti senyum terbit di bibir merah jambu Aran.


Benar! Sebaiknya mengisi energi dulu, pikir Aran pendek.


Itu lapar apa rakus? Bisik Xu Liang melihat dua tangan majikannya memegang bakpao daging yang masih mengepul. Sementara pipi Aran gembung oleh kunyahan roti bakpao.


Paman dan bibi Han benar-benar pandai mengambil hati majikannya, salut Xu Liang penuh hormat.


Xu Liang pun mengambil satu untuk dirinya. Tidak menyadari dua pasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka. Keduanya lantas berdiri dan berjalan menjauh lalu keluar dari restoran.


Sudut mata Aran bergerak mengikuti. Dirinya sudah bisa memprediksi hal ini. Akan ada banyak pihak yang diam-diam berusaha menghalangi pencariannya atas kakek buyut.


Banyak pihak tentunya sangat ingin mengisi posisi sebagai pendamping neneknya. Karena itu adalah posisi puncak di Tian.


Siapapun yang bisa mendamping sang Ratu, darah keturunannya lah yang akan memimpin Tian selanjutnya.


Fyuuuhh... untung aku sudah merencanakannya, bisik Aran sambil mengusap peluh di dahi akibat uap bakpao daging di tangan.


Tapi, tunggu dulu! Seolah teringat sesuatu, Aran tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja.


"Aku baru ingat! Aku seharusnya pergi melamar jendral Ryu ku tercinta!"


Oh tidak! Jangan ini lagi!


Jiwa Xu Liang menjerit kencang.


Aku masih belum menggigit bakpao ku...


Kali ini perut Xu Liang yang menangis, karena Aran keburu menggeret tubuh Xu Liang pergi menuju barak militer jendral Ryu.


Side Story


"Memangnya mahar apa yang sudah nona siapkan untuk jendral Ryu?" tanya Xu Liang dengan malas. Satu kakinya menyepak kerikil-kerikil kecil tak bersalah ke sembarang arah.


"Tentu saja... hatiku." Aran memekik girang sambil membentuk tanda hati dengan kedua tangannya.


Semoga berhasil, nona! batin Xu Liang dengan muka datar tanpa ekspresi yang sangat yakin sekali seratus persen bahwa hal itu akan gagal.


"Tapi, kenapa sejak tadi pintu barak belum dibuka." Aran baru menyadarinya.


Sementara itu di dalam tenda barak...


Ming Ge berjalan mondar mandir di depan tenda jendral Ryu dengan perasaan galau.


Ingin masuk, namun takut dengan sesuatu di dalam sana. Tidak masuk, malah membuat yang lain menunggu terlalu lama di luar.


Sungguh perasaan yang serba salah.


"Ming Ge!" suara berat itu seketika meremangkan kulit Ming Ge. Mengejutkan jantung serta lambungnya.


Entah bagaimana, jendral Ryu selalu tahu siapa saja yang berdiri di luar tendanya.


Kadang membuat Ming Ge selalu bergidik ngeri.


"Ming Ge melapor pada jendral!" mau tak mau Ming Ge memilih masuk tenda.


"Hm" jawab jendral Ryu sambil berkonsentrasi pada kuas di tangan serta kaligrafi di atas meja. Dengan ringan serta lembut, jari dengan kuas itu meliuk-liuk membentuk satu tulisan kaligrafi China yang agak rumit namun indah.


Ming Ge menelan ludah sebelum berkata, "Putri Phoenix ada di luar gerbang meminta ijin untuk bertemu dengan jendral."


Gerakan kuas jendral Ryu terhenti, kali ini tatapan tajam yang diterima Ming Ge. Jelas membuat jantung Ming Ge mau copot saking kerasnya debaran.


"Katakan padanya aku sibuk!" jendral Ryu kembali menggerakkan kuasnya ke kanfas.


"Tapi jendral... ini sudah keenam kalinya anda beralasan sama." Tentunya Ming Ge sendiri juga kasihan pada Aran yang hampir setiap hari mengunjungi barak militer.


Meski Ming Ge menganggap Aran tidak waras karena tindakan konyolnya, namun sisi manusiawinya juga merasa kasihan. Apalagi gadis itu sudah berdiri agak lama di depan gerbang.


Jendral Ryu mendengus. "Tanyakan saja apa keperluannya." putus jendral Ryu sambil terus menggoreskan kuasnya. Tetap tak perduli.


"Hamba melapor pada jendral," jawab Ming Ge kemudian. "Putri Phoenix berkata bahwa dia ingin melamar jendral."


Ujung kuas jendral Ryu segera meluncur keluar jalur dan membuat kaligrafi China nya menjadi rusak dan hilang keindahannya.


Begitupun juga mood jendral Ryu.


Aura menekan yang kental segera menyeruak di dalam tenda, membuat Ming Ge berkeringat dingin.


Salahkah dia berbicara?! tanya Ming Ge dalam hati.


#Maafkeun kalau episode ini rasanya garing 🤭


Biarpun garing, yang penting renyah 😁


Selamat membaca 🤓