
Aran menjilat ujung jarinya. Merasakan sisa bumbu ayam bakar yang tersisa. Benar-benar menikmati.
Sementara Xu Liang berwajah masam karena kantung uangnya sudah tidak gembung lagi.
Hari ini benar-benar hari sialnya.
Xu Liang mengingat kembali kejadian pagi tadi.
Flashback On
"Apa kau yakin sarapanku tidak tertukar Xu Liang?" Aran menatap nanar meja dihadapannya.
Sudah satu minggu lamanya Reya pergi entah kemana mencari peramal bunglon itu, sudah satu minggu pula Aran harus menikmati hidangan seperti orang pesakitan.
Satu set menu diet vegetarian tersaji. Sungguh pemandangan neraka. Sayur bening dengan beberapa biji aneh, nasi semangkuk kecil, tahu kukus dengan beberapa butiran wijen serta satu butir telur rebus.
Sama sekali tidak menggugah selera.
Dimana lemak dan glukosanya?! batin Aran menangis pilu.
"Hamba pantas dihukum," hanya itu yang terucap dari bibir Xu Liang. Tentunya dirinya tidak berani mengatakan bahwa hidangan itu semua adalah ide kreatif Ah Ma.
Siapakah dia yang berani menantang sang pengasuh ratu.
Namun, Xu Liang juga merasa bersalah kepada Aran. Tentunya makanan itu tidak cukup layak untuk keturunan sang Ratu. Yang berarti adalah seorang putri.
Ah, sudahlah. Tanpa Xu Liang katakan pun Aran sudah mengetahuinya. Pastilah ini ulah si nenek peyot itu.
Malas untuk melakukan balas dendam (tidak bisa berpikir karena perut berdendang ria sejak tadi), Aran memiliki ide cemerlang lainnya.
"Xu Liang, sudah berapa lama kau bekerja di istana?" tanya Aran dengan senyum jail.
Deg! Xu Liang tiba-tiba merasa tidak nyaman. Apalagi dengan senyuman aneh sang majikan.
"Be... beberapa bulan, nona." jawabnya. Lagi-lagi, rasanya ada yang salah dengan perasaannya.
"Bagus! Kalau begitu ayo ikut aku!" Aran menggamit lengan Xu Liang sebelum gadis itu protes pada ide sesat nonanya. Kabur dari istana.
Dan firasat buruknya terbukti kemudian.
Flashback Off
"Jangan berwajah masam, kelak aku akan menggantinya," hibur Aran lalu bersendawa keras.
Huh! Memangnya nona bisa mendapat uang dari mana? Kerja saja tidak. Wajah Xu Liang masih ditekuk.
Masalahnya, itu adalah uang yang sudah lama dikumpulkannya untuk bibi pengasuh di panti asuhan tempat dirinya dulu tinggal. Sekarang, hanya tertinggal satu batu perak kecil saja disana.
Xu Liang ingin sekali menangis darah saat ini.
"Xu Liang!" panggilan Aran menyentak kesadaran pelayan malang itu. "Cepat bayar!"
"Baik," lirih berujar, Xu Liang dengan wajah menunduk mengeluarkan batu perak terakhirnya.
"Sudah! Sudah! Tidak perlu bayar!" suara pria paruh baya itu menerbitkan senyuman di bibir Xu Liang. Dengan ini batu perak terakhirnya terselamatkan.
"Tidak bisa seperti itu paman Han," protes Aran. Apalagi semua hidangan di meja tandas dan licin.
"Aran, jangan sungkan," balas paman Han ramah. Seolah kegiatan makan rakus Aran sudah menjadi hal biasa baginya.
"Apapun itu kalau untuk putri Phoenix," sambut suara seorang wanita yang juga paruh baya.
"Aish... bibi Han ini bisa saja," Aran dengan tampang malu memukul pelan pundak bibi Han.
Membuat Xu Liang meringis ngilu menyaksikan mulut manis nona majikannya itu.
Entah dari mana kekuatan makan nona majikannya itu. Begitu kabur dari istana, tujuan pertama sang nona adalah manisan tanghulu... sepuluh tusuk.
Setelah itu menuju kios kue, dan yang menjadi favoritnya adalah kue bulan. Selanjutnya adalah kedai mie paling laris di ibu kota. Nona majikannya itu sanggup makan tujuh mangkuk sekaligus.
Menurut nona majikannya, mangkuk mie nya terlalu kecil sehingga belum kenyang kalau tidak sampai tujuh mangkok.
Tak berhenti disana, mereka juga mampir di kedai buah, mencicipi beragam buah serta manisan yang ada lalu membawa pulang beberapa bungkus.
Dan tujuan akhir, selalu restoran keluarga Han yang terletak di pusat kota.
Bebek panggang, pangsit, osengan sayur, ikan bakar bahkan ayam panggang asam manis juga ludes di mulut sang nona.
Xu Liang dengan bodohnya selalu mempertanyakan hal ini. Sebesar apa perut nona majikannya itu bisa menampung semua makanan itu?! Apa dia tidak sakit perut?!
Nyatanya tidak, bahkan nona majikannya terlihat santai saja. Dan yang paling membuat Xu Liang bingung, sebanyak apapun nona majikannya makan, perutnya tetap langsing.
Selain makanan, satu hal lagi yang selalu membuat kepala Xu Liang puyeng.
Dan hal itu terjadi kemudian.
Xu Liang menunduk lesu dan menghela napas dengan lelah.
Paman Han tertawa lalu menepuk pundak Xu Liang untuk memberi semangat pelayan malang itu.
"Putri Phoenix adalah orang yang sangat menarik. Meski suka berbuat semaunya, tapi bagiku dia adalah orang yang jujur. Bersabarlah padanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story
"Bagaimana jendral Ryu?" senyum di wajah Aran sumringah. "Kau mau kan jadi kekasihku?" kepedean Aran benar-benar setinggi menara Eiffel.
Eneg. Perasaan itulah yang terlihat di wajah jendral Ryu.
"Siapa pula yang ingin menjadi kekasih wanita terkutuk." desis sang jendral dengan mimik muak.
"Eits, meski dikutuk, aku tetap cantik, imut dan menggemaskan lho, jendral Ryu." Aran menggetarkan bulu-bulu matanya, berusaha tampak menarik.
Seketika, asam lambung sang jendral naik level. Siap untuk dimuntahkan.
Meski sebenarnya Aran adalah wanita yang menarik, namun entah mengapa sama sekali tidak melelehkan gunung es di hati jendral Ryu.
Hal ini semakin membuat Aran penasaran. Seperti sedang menyelesaikan rumus matematika atau teka-teki. Rumit dan menantang. Aran sangat menyukai itu.
Jendral Ryu segera mengendalikan kekang kudanya ke samping. Menghindari gadis keras kepala di depannya.
"Ming! Kita kembali ke barak!" perintah jendral Ryu pada Ming Ge, sang letnan.
Ming Ge sudah tidak terkejut lagi dengan tingkah Aran yang bisa dikatakan jauh dari normal. Namun, dia juga hafal watak besi sang jendral, tidak menerima pertentangan. Dirinya masih menyayangi gaji bulan depannya. Jadi, tanpa pikir panjang, Ming Ge memutar kudanya kembali ke barak.
"Woi! Jendral tampan! Jadi apa jawabanmu?!" teriak Aran tanpa rasa malu.
Namun, orang-orang di ibu kota seolah tidak ambil pusing dengan hal itu. Bahkan mereka menganggap kegilaan Aran pada jendral Ryu sebagai tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Jauh lebih menarik dari pertunjukkan boneka yang populer di ibu kota saat ini.
"Nona! Apa yang anda lakukan?!" desis Xu Liang lantas menarik tubuh Aran untuk ke tepi. "Itu sangat memalukan!"
"Aku hanya menyatakan cinta, dimana letak memalukannya?" Aran bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Xu Liang menepuk keningnya berkali-kali. Selain memang sedang mumet juga tidak habis pikir dengan otak nona majikannya.
"Di Tian ini, mengungkapkan perasaan adalah hal yang tabu, nona. Itu dilarang!" jelas Xu Liang.
"Jika seseorang itu menyukai satu sama lain, maka mereka akan mengirim mahar untuk meminang. Dan di Tian ini wanita lah yang mengirim mahar untuk si pria. Jumlah mahar pun besarnya harus sesuai dengan tingkatan sosial si pria."
"Apa anda mendengarku nona? Nona?! Nona?!" Xu Liang memutar kepalanya berkali-kali mencari sosok Aran yang sudah raib dari sisinya.
Si Aran ternyata sudah berlari tergesa-gesa ke arah istana.
"Nona! Anda mau kemana?!" teriak Xu Liang sambil berlari menyusul.
"Menyiapkan lamaran untuk jendral Ryu!" balas Aran terus berlari meninggalkan Xu Liang yang tiba-tiba membatu.
Xu Liang! Dasar bodoh kau ini! Kau malah memberi ide aneh lagi pada nona Aran! Xu Liang mengutuki dirinya sendiri. Khususnya mulutnya.
"Nona! Tunggu saya!" teriak Xu Liang yang semakin tertinggal jauh. Baru Xu Liang sadari, Nona majikannya adalah pelari yang cepat.
"Tidak mau!" balas Aran dari kejauhan, tanpa menoleh serta berbelas kasih.
"Paling tidak bersihkan dulu mimisan di hidung anda!" teriak Xu Liang sia-sia, karena Aran sudah berbelok di tikungan kecil yang menuju jalan rahasia untuk masuk ke dalam istana.
"Benar-benar pelayan yang malang," bisik paman dan bibi Han dengan prihatin saat melihat Xu Liang dari lantai atas restorannya.