
Perasaan ganjil itu tidak dipungkiri, dirasakan Reya sejak meninggalkan kota terakhir. Ketidaknyamanan serta insting untuk waspada dikirim oleh semua indra tubuhnya.
Melindungi Aran sejak dirinya berusia muda sudah menjadi keharusan. Baginya, kepekaan terhadap segala situasi mutlak diperlukan.
Dia sudah terbiasa dan terlatih dengan hal ini sejak kecil, jadi Reya tidak mungkin salah.
Sesuatu sedang mengintai dirinya. Atau... mungkin sesuatu itu adalah... seseorang?!
Kuda putih itu meringik tajam saat Reya menarik tali kekang dengan kuat.
Napas Reya sedikit tersengal akibat kelelahan karena seharian ini dia berkuda tanpa istirahat. Mungkin, saatnya mencari tempat beristirahat, pikir Reya. Tapi, setelah dirinya selesai berurusan dengan si stalker.
Reya mengelus perlahan surai si kuda lantas menepuk pelan punggungnya sebagai wujud terima kasihnya karena si kuda putih itu sama sekali tidak rewel selama perjalanan.
"Kamu sama sekali tidak pandai bersembunyi," ujar Reya dengan suara lantang, "Albino!"
Jendral Liu merutuki dirinya sendiri. Berusaha membaur dengan alam sekitar rupanya masih tidak mampu untuk mengelabui wanita itu.
Reya tersenyum mengejek dalam hati. Benar-benar pria yang bodoh. Bersembunyi di balik pohon dengan baju warna terang. Sangat kontras dengan alam sekitar yang cenderung gelap. Apalagi rambut perak yang dibiarkan tergerai bebas ditarikan oleh angin. Tentu saja jadi kamuflase yang gagal total.
Karena sudah ketahuan, Liu memilih keluar dari persembunyiannya. Seharusnya dia mengirim penjaga gelapnya saja untuk mengikuti wanita itu. Kenapa pula dirinya perlu repot-repot pergi menyusul?!
Awalnya memang penjaga gelap yang menguntit. Namun menurut laporan mereka, Reya tidak ada tanda-tanda akan kembali pulang ke istana dalam waktu dekat, karena gadis itu terus memacu Bing Bing ke ujung wilayah paling selatan. Makanya, Liu Bei pergi sendiri untuk melakukan pengintaian.
"Mencuri tentunya adalah tindakan tercela, nona Reya." Liu berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan menyerang wanita berpakaian gelap itu dengan kesalahan yang telah diperbuat.
"Aku tidak mencurinya... hanya meminjamnya." bela Reya. Toh, dia bisa kabur kemana, ujung-ujungnya dirinya masih harus kembali ke ibu kota untuk menemui Aran. Jadi, bisa dikatakan dia hanya setengah mencuri, setengahnya lagi meminjam. Karena Reya memang berniat mengembalikannya begitu pulang ke ibu kota.
"Tetap saja, nona. Mencuri kuda jendral hukumannya berat lho." Ancam Liu Bei tanpa segan.
"Kalau begitu ambil saja kembali kuda obesitasmu ini. Lagi pula, desa tujuanku sudah tidak jauh lagi." Reya lantas mengambil perbekalannya dan memanggulnya seperti ransel. Dia tidak takut ataupun ragu untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Apa?! Liu Bei terhenyak sesaat sebelum memahami kalimat Reya.
Obesitas?! Kata apa itu?!
Namun, apapun itu Liu Bei merasa arti kata tersebut bermakna sesuatu yang buruk.
Beraninya wanita biasa itu menghina Bing Bing ku yang cantik.
Akan protes pada Reya, Liu Bei tidak mendapati sosoknya di samping Bing Bing. Bing Bing ditinggal sendiri begitu saja ditengah jalan.
Mengedarkan pandangan, Liu Bei melihat Reya sudah berjalan menjauh bahkan memangkas jalan utama menuju sesemakan yang rimbun.
"Tunggu! Disana ada..." teriakan Liu Bei terhenti saat gravitasi menarik tubuh Reya menghilang dengan cepat ke bawah.
"Si4lan!" desis Liu Bei sambil menggertakkan gigi.
Tubuhnya segera melayang di udara dengan ilmu meringankan tubuh dan menyusul Reya ke bawah jurang.
Semoga belum terlambat... pikir Liu Bei.
Side Story
Tangan Liu Bei gemetar. Satu tangan di dahan menahan bobot dua tubuh. Sementara tangan lainnya menahan tubuh wanita di bawahnya agar tidak jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam di bawah sana.
Yang membuat Liu Bei jengkel adalah satu tangan Reya mencengkeram sabuk bajunya dan tangan lain menggenggam erat rambutnya, seolah itu adalah tali.
Dan wajah gadis itu meringis puas seolah itu adalah hal yang wajar.
Benar-benar gadis kurang ajar! umpat Liu Bei dalam hati.
Sementara Reya sangat berpuas diri karena akhirnya impian untuk menjambak surai perak Liu Bei terwujud. Balas dendamnya terkabulkan. Oh senangnya.
Namun, melihat wajah albino Liu Bei yang semakin pucat membuat Reya sadar diri.
Sambil tetap tersenyum, Reya berbisik. "Seharusnya aku tidak menjadi beban mu." Reya pun melepas kedua tangannya ke udara dan membiarkan bumi menyambutnya.
Reya sempat melihat kilatan perak di kedua mata abu-abu itu. Namun, Reya keburu memejamkan mata. Bersiap menanggung rasa sakit di punggung.
"Wanita gila!" desis Liu Bei saat Reya melepas tangannya.
Ikut melepas tangan, Liu Bei berusaha menangkap tubuh Reya dengan cepat. Lalu menjatuhkan diri ke semak-semak sambil mendekap erat tubuh kurus Reya.
Setelah merasa aman barulah Liu Bei berani membuka lengannya dan melihat wanita yang ternyata masih gadis kecil itu meringkuk di dalam jubahnya.
Ada yang salah! Gadis ini sama sekali tak membuka mata!
Panik menyergap. Liu Bei segera memeriksa apa ada luka serius di tubuh dan kepala Reya. Meski masih diragukan bahwa gadis itu adalah keturunan sang Ratu, tentunya jangan sampai keselamatannya terancam di negeri yang masih asing bagi sang gadis.
Jika gadis itu mati, urusannya bisa lebih panjang lagi. Utamanya jika berhadapan dengan dewan kerajaan yang sangat membuat Liu Bei malas.
Saat kepanikan belum mereda, telinga Liu Bei menangkap dengkuran halus.
Liu Bei mengepalkan tangan dan ingin menangis tanpa air mata.
Bisa-bisanya gadis itu tertidur di situasi seperti ini!