
Reya mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha membiasakan diri dengan lingkungan sangat asing di depannya.
Benar-benar aneh. Reya merasa ini bukan baik di Negeri Tian maupun jaman millenialnya.
Tempat apa ini?!
Udara di sekelilingnya terasa sesak. Mencekik. Seolah-olah tidak ada oksigen. Membuat Reya kesulitan bernapas.
Semuanya serba hitam dan gelap.
Tanah yang dipijaknya terasa kering serta legam, sama sekali tak ada kehidupan. Rerumputan serta pepohonan semuanya hangus. Menyisakan batang serta akar yang menghitam seperti arang.
Langit gelap dan pekat dengan mendung tebal yang menggelayut rendah. Namun anehnya, hujan sama sekali tak turun. Hanya ada ribuan petir berwarna perak serta guntur yang menggelegar bersahutan. Meremangkan kulit serta memekakkan telinga.
Bau anyir darah serta daging yang sudah gosong membuat Reya mengernyit jijik. Benar-benar membuat mual.
Sebenarnya, dimana ini?!
Dan dimana Aran?!
Reya mencoba menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan namun suara gemerincing menghentikannya.
Kepala Reya menunduk menatap sepasang rantai besi yang sudah berkarat membelenggu masing-masing pergelangan kakinya yang kurus.
Reya tahu dirinya, namun dia tidak mengenali tubuh ini. Dia tidak kenal dengan baju compang-camping ini. Dan pula dirinya sama sekali tidak ingat tentang kejadian ini.
Tubuh ini bukan miliknya. Namun, dia mengenali jiwa yang ada di dalamnya. Dirinya.
Apa yang terjadi?!
Reya mencoba berjalan lagi. Rasanya sangat menyakitkan. Reya merasa sekujur tubuhnya nyeri, pedih dan perih. Rasanya seluruh tulangnya luluh lantak, seperti telah menerima beragam pukulan dan tendangan.
Namun, dengan kekuatan tersisa, Reya mencoba menarik bersama belenggu di kakinya untuk bergerak dan berpindah. Melihat sekeliling, mencari kehidupan.
Tapi, Nihil. Hanya ada potongan-potongan sisa kehidupan.
Benar-benar tempat mati.
Hawa panas serta pengap semakin dirasakan Reya saat mulai mendaki bukit. Kedua tangan ringkihnya bergetar hebat, berusaha menggapai apapun sebagai pegangan untuk bisa naik ke puncak. Bau bangkai dimana-mana, semakin membuat perut Reya bergolak. Namun, mati-matian di tahannya.
Apa dia sedang bermimpi?! lagi-lagi benak Reya bertanya.
Jika ini mimpi, kenapa terasa begitu nyata?!
Reya tidak pernah merasa selemah ini. Tidak pernah! Meski dalam mimpi sekali pun.
Jeritan melengking yang menyayat itu terdengar sangat pilu di telinga Reya. Membuat gadis itu mati-matian berusaha menarik tubuhnya untuk segera ke puncak bukit yang sudah mati.
Masih ada kehidupan! pikir Reya penuh dengan harapan. Dia tidak sendirian!
Reya memicingkan mata menatap seberang dimana sedikit keramaian yang mengerikan terjadi.
Satu tangannya menutup hidung dan mulut. Menghindari pekatnya asap hasil kebakaran. Debu-debu saling bertubrukan dihempaskan angin yang terasa kering dan sedikit panas.
Beberapa makhluk aneh berwajah buruk rupa serta ganas sedang mengelilingi sebuah panggung eksekusi.
Semuanya saling bersorak kegirangan saat dua dari mereka menggiring seorang wanita ringkih yang sekujur tubuhnya sudah babak belur ke atas panggung eksekusi.
Mata Reya mendelik saat mengenali wanita malang itu.
Aran?!
Reya melihatnya! Reya melihat Aran! Dia ada disana! Di Atas panggung eksekusi!
Aran! sekuat tenaga Reya menjerit. Namun, sama sekali tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya.
Aran! Aran! Aran!
Namun, hanya suara decitan dari leher yang seolah tercekik yang mampu dikeluarkan Reya.
"Pancung! Pancung! Pancung!" teriak makhluk-makhluk mengerikan itu dengan suara parau yang menjijikkan.
Tidak! Tidak! Tidak!
Reya menggeleng keras saat dua makhluk aneh itu masing masing memegang pundak Aran dan menjatuhkan kepala Aran dia atas sebuah meja kecil yang sudah berlumuran darah dengan beraneka rupa kepala manusia terpenggal di bawahnya.
Reya menyeret kakinya sekuat tenaga, berusaha untuk berlari ke arah Aran. Namun, rantai besi itu terasa semakin berat di pergelangan kaki.
Reya menangis di tempat tanpa suara karena tenggorokannya tercekat. Seolah ada yang menyumpal suaranya.
Dan saat dirinya kembali menatap wanita yang diyakininya sebagai Aran, Reya melihat wanita itu tersenyum dan menatapnya.
Bibir pucatnya sedikit terbuka, lalu seolah mengatakan sesuatu.
Reya menyipitkan mata dan kata-kata yang terbaca...
Pergi!... Larilah!... Jangan melihat ke belakang!
Tidak!
Reya menjerit tanpa suara saat sebuah pedang panjang teracung tinggi lalu menebas ke bawah. Memutus napas terakhir dari wajah tersenyum itu.
Terseok, Reya menarik kakinya yang semakin berat. Wajahnya sudah basah oleh air mata. jiwa Reya ingin sekali mendekati meja eksekusi dan memeluk tubuh kaku Aran.
Namun, sepersekian detik kemudian...
Jleb!
Mata Reya mendelik saat menatap sebilah pedang panjang menembus dadanya tepat di tengah. Ujung pedangnya yang runcing bermandikan darah segar. Darah miliknya.
Seluruh sel tubuhnya seolah dikoyak dan dicabik hingga habis ke sumsumnya.
Tak berapa lama, mulut Reya memuntahkan darah merah kehitaman.
Kedua lutut kakinya seketika jatuh lunglai. Disusul tubuh lemahnya yang ambruk miring.
Di sisa-sisa kesadarannya, Reya merasakan guncangan hebat di tanah. Gempa bumi yang meluluh lantakkan kegersangan nan hitam di bawahnya. Disusul retakan mengerikan yang mengoyak bumi. Guncangan maha dahsyat membuat perut bumi memuntahkan lahar berapi.
Lengkingan mengerikan disusul semburan hawa panas mencuat dari kerak bumi.
Sosok maha agung itu menatap nanar sinar terakhir kehidupan di kedua mata Reya.
Deg... Deg...... Deg......... Deg............... Deg...........
Hingga denyut kehidupan Reya yang terakhir berakhir sudah.
Raungan yang memekakkan terdengar hingga ke ujung langit. Saat itulah, dalam sekejap, ibu bumi luluh lantak tak bersisa.
*****
"Aaakh!"
Tiba-tiba Reya terbangun dengan menjerit. Napasnya tersengal-sengal bahkan terlihat ngos-ngosan. Seolah habis bermaraton.
Kedua tangannya mengepal di dada. Lalu me...raba bekas tusukan pedang yang rasanya masih menyakitkan. Meskipun bekas luka itu sama sekali tidak ada.
Anehnya, rasa sakit itu seolah masih tertinggal.
Keringat dingin jelas membasahi seluruh pakaiannya. Kulitnya jelas masih meremang tegang.
Apa yang barusan terjadi?! pikir Reya masih dengan kesadaran yang kacau.
Dan dimana ini?! Reya mengamati seluruh isi gua. Dan berakhir pada jubah abu-abu berpola rumit yang menyelimuti sebagian tubuhnya.
Namun, aroma sedikit hangus mengambil segala perhatian. Reya menatap heran dengan api unggun yang menyala terang di tengah-tengah gua.
Lalu netra Reya menangkap satu objek aneh.
Apakah kelinci itu hampir gosong?! pikir Reya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story
Reya memicingkan mata. Berusaha mengenali sesuatu yang sedari tadi menempel di telapak tangannya.
Panjang, tipis, serta berkilat. Halus namun kuat.
Reya akhirnya mengenali benda itu. Hasil jambakan tangannya yang usil.
Memori otaknya memutar kembali adegan bergelantungan itu. Membuat senyum puas terbit lagi di bibir Reya.
Dendam kesumat itu terbayarkan.
Namun satu hal yang membuat kening Reya berkerut.
Meski hanya beberapa helai, namun surai perak itu terasa halus serta lembut di telapak tangan. Membuat Reya ketagihan mengelus serta membelainya.
Tapi, tunggu dulu!
Reya menghentikan aktivitas mengelusnya. Kedua netranya berkedip beberapa kali.
Melihat kulit pucatnya yang terawat baik, serta rambut sehalus sutra ini.
Jangan-jangan...
Pria albino itu, melakukan perawatan kecantikan?!
Ada kemungkinan...
Dia seorang transgender!
Tiba-tiba, Reya merasa tubuhnya merinding tidak jelas saat memikirkan kemungkinan itu.
Monggo disimak, Monggo dibaca, Monggo di like, Monggo di komen 🤓