The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
15. Satu Ranjang



Reya mematung.


Kedua bola matanya mengerjap bingung. Otaknya yang masih sakit akibat peristiwa tadi masih berusaha keras mencerna apa yang barusan dikatakan sang ibu penolong.


"Aku tahu kalian adalah pasangan berbeda kasta yang melarikan diri karena ingin menikah."


What?


Sejak kapan otak wanita itu penuh drama?


"Kami bukan..."


"Anda pengertian sekali nyonya."


Suara berat dan jernih itu memotong kalimat Reya disertai rema.san sepuluh jari di kedua pundaknya.


Bola mata Reya membulat lebar, menatap tak percaya atas sandiwara dadakan si albino.


Sejak kapan kita berperan menjadi pasangan yang hendak kawin lari hah?!


Dan adegan selanjutnya adalah keduanya dimasukkan ke dalam sebuah kamar dengan satu kasur.


"Jangan sungkan! Jangan sungkan! Istirahatlah dengan baik."


Ibu pembawa kayu bakar itu tersenyum sumringah lantas menutup pintu tepat di depan muka Reya. Sama sekali tidak memberi peluang Reya untuk membela diri.


Hembusan napas berat keluar dari rongga dada Reya. Memijit pelan pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.


Berbalik badan, Reya mendapati si albino sudah anteng di atas kasur.


"Tubuhku kurang sehat, jadi aku akan tidur disini." Liu Bei dengan telaten nya menata rapi rambut peraknya sebelum akhirnya berbaring sambil terus mengelus rambut nya.


Kedua alis Reya terangkat tinggi.


Salah satu sudut bibir Reya berkedut. Bibirnya lantas mengeluarkan satu decakan nada sebal.


Benar-benar tidak mau mengalah!


Meski Reya sama sekali tidak masalah tidur di lantai, tapi mengingat perbuatan si albino tadi membuatnya juga meninggikan ego.


Melangkah percaya diri, Reya lantas naik kasur dan merebahkan diri.


"Kasur ini cukup luas. Muat untuk dua orang." setelah itu Reya memejamkan mata meninggalkan Liu Bei dengan bola mata melotot.


"Tapi... ruangan ini cukup luas. Kau bisa...."


"Apa kau takut aku akan memperkosamu, albino?"


Reya sudah memiringkan badannya dengan satu tangan menyangga kepala. Bola mata coklatnya menatap intens netra abu-abu didepannya.


Tanpa sadar Liu Bei menelan salivanya dan memundurkan badannya. Tiba-tiba tubuhnya merinding tidak jelas.


Entah mengapa aura gadis di depannya itu terasa sangat mengintimidasi. Membuatnya sesak napas tiba-tiba.


"Mungkin seharusnya dirimulah yang berhati-hati." Liu Bei memberanikan nyalinya untuk bersuara. "Karena mungkin saja aku yang akan..."


"Nyalimu kecil. Kau tak akan berani, albino." potong Reya sambil tersenyum percaya diri.


Bola mata Liu Bei kembali melotot.


Kurang ajar!


"Karena aku bukanlah wanita seleramu." lanjut Reya dengan tenang. Satu tangannya menepuk-nepuk bantal di bawah pipinya agar nyaman.


Gadis kecil ini cerewet sekali!


"Tenanglah, karena kau juga bukan pria seleraku."


Percaya diri sekali! Tapi, "Baguslah kalau begitu." Liu Bei kembali berbaring dan mulai memejamkan mata.


"Karena orang pucat biasanya berumur pendek." pungkas Reya.


What?!


Beraninya anak kecil itu mengataiku pucat dan menyumpahiku cepat mati?!


Sontak mata Liu Bei membelalak. Dia bergerak bangun dan bersiap menatap tajam makhluk bermulut buruk di sampingnya itu dengan tangan terkepal.


Namun gadis itu sudah tidur dengan nyenyak. Tidak perduli lagi dengan sekitar.


Liu Bei hanya bisa menelan kembali kemarahannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Side Story


"Menurutmu apa mereka melakukannya pak?" tanya sang istri. Berdiri dengan telinganya didekatkan ke pintu kamar tamu.


"Haiiyyyaa... tentu saja. Jika mereka sudah melangkah sampai tahap ini, tentunya mereka akan melakukannya." balas sang suami sambil setengah berbisik. Satu telinganya juga sudah menempel di dinding pintu.


"Tapi, kenapa tidak ada jeritan?" lanjut si istri. "Biasanya akan sakit sekali saat pertama kalinya."


"Sssttt! Kau ini jangan keras-keras!" hardik sang suami membuat si istri buru-buru membekap mulutnya.


"Kulihat sang pria adalah bangsawan yang tenang. Kurasa dia akan memperlakukan gadis petani itu dengan penuh kelembutan dan tidak terburu-buru."


"Ah... benar. Pasti begitu." Pekik si istri dengan wajah sumringah.


"Haaiiyyaaa... semoga dewa naga bumi memberkati cinta mereka berdua seperti memberkati kita."


Sang suami mengangguk setuju atas doa sang istri.


Jika saja Reya dan Liu Bei mendengar obrolan penuh drama suami istri itu, mereka pasti muntah darah di tempat.