
"Jika bukan nenek yang memanggil kami kemari, lantas siapa?" tanya Aran sambil duduk bersila dihadapan Ratu Sou Ra. Kedua tangannya bersilang di dada.
Wajah Ratu Sou Ra berubah serius. Tanda juga sedang berpikir keras. Mengenai takdir Phoenix dan Qirin, Aran serta Reya juga mengetahuinya berdasarkan sejarah keluarga. Namun, keduanya tidak menyangka bahwa merekalah yang menanggung takdir kuno itu. Bisa dibilang, apes.lr
"Nenek... nenek... beraninya memanggil Yang Mulia dengan perkataan tidak sopan seperti itu!" suara Ah Ma bergema, menyuarakan protesnya. Benar-benar merusak momen serius mereka.
"Hei... wanita renta bau tanah! Kau beruntung sekali dirimu adalah pengasuh nenek buyutku, jika tidak, sudah kucabuti satu per satu ubanmu sejak tadi!" balas Aran tak mau kalah.
"..."
"Siapa pula yang ingin datang ke duniamu yang abnormal ini!" Reya mendengar suara Aran, membalas umpatan Ah Ma. Dan wanita renta itu pun tak kalah gesit dalam membalas kata-kata Aran.
Sementara Ratu Sou Ra dengan kikuknya berusaha melerai. Namun sepertinya sia-sia.
Haaaa... sepertinya, hanya dirinyalah satu-satunya yang harus berpikiran dingin disini.
Helaan napas panjang Reya membuat sudut bibir jendral Liu tertarik. Entah mengapa dia menyukai wajah kesusahan wanita itu. Sangat unik dan tak mudah untuk dipalingkan.
"Nenek," panggil Reya. "Maafkan aku kalau sudah bersikap tidak sopan, tapi, bolehkah aku tahu berapa usiamu sekarang?"
"Anak kurang ajar!" kali ini kekesalan Ah Ma berpindah tempat. Reya kena getahnya. "Berani-beraninya kau menanyakan usi..."
"Hentikan Ah Ma!" nada wibawa Ratu Sou Ra menggema. Menghentikan kebisingan seketika. "Jika pertanyaan itu bisa membantu mereka, aku dengan senang hati akan menjawabnya."
Diam-diam Reya mengucap syukur. Karena sejatinya dia sangat malas sekali meladeni nenek bau mayat itu. Berbeda dengan Aran yang lebih suka melakukan serangan frontal, dirinya lebih menyukai ketenangan. Ketenangan yang menenggelamkan.
"Awal musim semi ini, aku telah genap berusia lima belas tahun." Ratu Sou Ra melanjutkan.
Lima belas tahun?!
Aran segera menghentikan olah raga mulutnya bersama Ah Ma dan kembali duduk tenang di samping Reya.
Aran dan Reya saling tatap. Pikiran keduanya menuju ke arah hal yang sama.
Ratu Sou Ra merasakan perasaan tak nyaman saat tatapan kedua orang yang katanya adalah keturunannya itu terlihat intens.
"Jika bukan nenek yang memanggil kami kesini, mungkin kakek yang melakukannya." terang Reya.
Kakek?! Mimik wajah Ratu Sou Ra berubah aneh. Bingung sekaligus heran.
"Bisakah nenek memanggilkan kakek buyut? Kami ingin bertemu?" lanjut Reya.
"Kakek... buyut?!" nada suara Ratu Sou Ra terdengar agak canggung.
"Aduh nenek, lebih jelasnya... tidak mungkin kan kami lahir hanya dari telur cerimu saja, diperlukan gabungan gen kecambah terbaik dari kakek untuk bisa menghasilkan keturunan seperti kami yang manis dan rupawan ini." suara cempreng Aran seketika menurunkan suhu ruangan.
Ah Ma adalah orang pertama yang memberikan reaksi.
"Dasar anak otak cabul! beraninya kau mengotori telinga sang Ratu yang suci dan murni ini dengan perkataanmu yang kotor itu!"
"Dasar nenek udik!" balas Aran tak mau kalah. "Kami adalah manusia jaman milenial, tentu saja hal ini bukan lagi hal tabu dan sudah diajarkan sejak dini (dengan tahapan sesuai usia tentunya). Ini namanya biologi! Biologi!"
Reya menutup wajah dengan telapak tangan. Urat malunya sudah lama putus akibat tindakan konyol Aran.
"Nenek!" panggil Aran pada Ratu Sou Ra. "Sekarang panggilkan kakek!"
"..."
Ratu Sou Ra meremas ujung saosannya. Menunduk dengan pipi sedikit merona. "Aku... belum menikah."
Kali ini Aran dan Reya yang mematung.
Belum menikah?!
"Tidak mungkin!" desis Aran masih dalam mode shock.
"Karena berdasarkan sejarah, nenek menikah dengan kakek saat berusia lima belas tahun." jelas Aran sambil mondar-mandir di depan sang Ratu, sama sekali lupa dengan tata krama yang diajarkan Xu Liang tadi.
"Meski itu sangat menyalahi peraturan undang-undang dalam hal perlindungan anak di bawah umur, karena dianggap pemerkosaan, tapi karena ini kakek yang memberikan gen terbaiknya sehingga kami bisa lahir, tentu saja aku memaafkannya."
Wajah ratu Sou Ra dan yang hadir sudah seperti ikan Lohan, menganga dan tidak paham dengan yang dicerocoskan makhluk asing bernama Aran itu.
"Aran!" Reya memperingatkan. "Ini tidak ada hubungannya."
"Tentu saja ada!" balas Aran. "Bisa-bisanya kakek tidak ada di samping nenek saat ini! Usia lima belas tahun nenek adalah jaman dimana negara Tian banyak mengalami kekacauan dan...mm...ng....mm..." tangan Reya buru-buru membekap mulut ember Aran begitu menyadari wajah pucat sang Ratu.
"Itu sudah diluar jalur Aran." bisik Reya gemas.
"Mungkin nenek tahu orang yang paham situasi kami ini?" tanya Reya sesopan mungkin.
Ratu Sou Ra mati-matian berusaha mengembalikan air mukanya. Ada keterkejutan saat mendengar Aran mengatakan bahwa jamannya adalah masa dimana kekacauan dimana-mana. Tapi, itu dikesampingkannya dulu. Dia bisa menanyakan hal itu pada Aran nanti.
"Kurasa peramal tua istana tahu." kata Ratu Sou Ra.
*****
"Hm..." Pria kurus keriput dan berjanggut putih itu memejamkan mata sambil ujung jarinya memegang telapak tangan Aran dan Reya.
"Bagaimana Da Lao?" tanya ratu Sou Ra.
Lelaki renta yang nampak bijak itu memutar tubuh, menghadap Ratu lalu membungkuk memberi hormat.
"Lapor Ratu, kedua nona ini memang memiliki garis takdir roh agung."
Ada kelegaan di ekspresi ratu Sou Ra.
"Namun..." Da Lao menggantung kalimatnya. Membuat jantung Aran dan Reya berdegup kencang.
Jangan-jangan mereka tidak akan bisa kembali lagi ke jaman modern?! Selamanya!
"Tapi apa Da Lao?" tanya Ratu Sou Ra. Nada suaranya terdengar cemas.
"Mereka berdua... juga menanggung... kutukan roh Phoenix dan Qirin." Da Lao benar-benar berhati-hati dalam mengucapkannya.
Aran dan Reya berpandangan.
Kutukan?! Apa pula itu?!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story'
"Maafkan keterlambatan hamba, Yang Mulia." suara bass asing ditangkap telinga Aran.
"Tidak perlu sopan santun jendral Gyo." balas sang Ratu.
Sedetik kemudian, pria yang dipanggil jendral Gyo ini duduk tak jauh dari posisi sang ratu. Tepatnya di samping Jendral Liu.
Perawakannya tinggi tegap. Rambut hitam arangnya diikat dan dicepol di atas kepala. Ditahan dengan secarik kain panjang yang berwarna hijau, seperti warna saosannya.
Kedua alisnya seperti pedang dengan garis rahang yang kokoh.
Namun, yang membuat Aran tertarik adalah kedua netranya. Seperti zamrud yang berkilau. Indah serta melenakan.
Apalagi jika ikat rambut sang jendral bergerak lembut diterpa angin musim semi yang menerobos perlahan jendela-jendela aula.
Sialan! Satu cogan lagi. Rutuk hati Aran.
Kenapa di dunia jadul ini harus ada cogan-cogan seperti mereka?! jerit jiwa Aran setelah menelaah satu persatu wajah para jendral kerajaan Tian.
"V... Suga... maafkan aku," rintih Aran begitu perih. "Kalau begini caranya, aku harus selingkuh dari kalian."
"Aran!" bisik Reya tajam. Menyadarkan Aran dari ke-halua-annya. "Segera usap air liurmu!"