
Setelah mengganti gelas teh dengan yang baru, gadis pelayan itu menyajikan beberapa mangkuk dengan penutup. Begitu dibuka, menguar aroma beberapa masakan yang masih hangat. Memicu Indra perasa Aran dan Reya kembali.
"Katakan sekali lagi, siapa dirimu tadi?" tanya Aran. Sumpitnya mengambil tahu kukus.
Gadis pelayan itu memberi hormat kemudian berkata, "Nama hamba Xu Liang. Usia lima belas tahun. Hamba diminta Yang Mulia Ratu untuk menjadi pelayan pribadi anda. Ini merupakan kehormatan bagi hamba."
Aran menegakkan punggungnya lantas mengunyah tahunya perlahan. Kedua netranya men-scanning Xu Liang dari atas kepala hingga ujung kaki.
Hm... rambut sedikit berantakan. Kulit wajah agak kusam. Meski mengenakan pakaian pelayan kelas satu, namun kainnya nampak sudah usang. Jelas sekali itu adalah pakaian bekas. Melihat tingkah Xu Liang yang kikuk serta ceroboh pangkat dua, menunjukkan IQ mines delapan puluh. Sisanya hanya berisi kepolosan serta tampang yang mudah di-bully.
Jelas sekali dia adalah pelayan kelas tiga. Bahkan mungkin hanya buruh kasar di istana. Jadi, tidak mungkin Ratu Sou Ra yang mengirimnya. Ini pasti ulah nenek bau bangkai itu.
Tsk... tsk... tsk... benar-benar minta disentil nenek keriput itu.
"Aran!" suara Reya menghentikan seringai jahat Aran. "Berhenti menatap, lanjutkan makan!"
Cih... Reya mengganggu saja pikiran kriminalku, batin Aran. Namun, tetap menurut untuk melanjutkan makan.
Baru saja Aran hendak mengambil nasi dan membuka mulutnya lebar, sebuah teriakan menggelegar membuatnya tersedak.
"Putri Phoenix dan Putri Qirin diminta menghadap Ratu di aula utama!"
Sial! Suara Kasim ini bisa membuat gagal jantung. Aran membatin sambil mengelus dada. Mengamati bajunya yang sudah belepotan nasi, Aran mengeluh. Seharusnya mereka terlempar ke zaman pra sejarah saja. Simpel dan praktis. Hanya harus memikirkan cara bertahan hidup dan lari dari T-Rex.
Melirik Reya, Aran sebenarnya ingin mengulum senyum. Namun, wajah Reya yang sudah menggelap karena teh yang diminumnya tumpah membasahi hanfu putihnya, membuat Aran merinding. Saudaranya itu benar-benar mampu menebarkan aura gelap ke sekitar.
Satu jam berikutnya
Xu Liang berjalan mondar-mandir sambil menggigiti ujung lengan bajunya. Wajahnya pucat pasi. Menatap kedua tuannya yang masih saja bersantai menikmati hidangan di atas meja. Mengabaikan Kasim Ratu yang sedang menunggu di luar.
Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? jerit Xu Liang tanpa suara.
Pertama kalinya! Untuk pertama kalinya Ratu dibuat menunggu! Oleh dua orang asing pula! Bisa-bisa kepala mereka bertiga dicopot paksa kalau terus begini?!
Tapi, hendak menyela dua tuannya ini, Xu Liang tidak tega. Karena wajah kelaparan dua orang di depannya itu sungguh mengenaskan. Seolah sudah tidak makan selama beberapa Minggu.
"Tidak usah takut," suara Reya menyadarkan kepanikan Xu Liang. "Anggap saja ini sebagai kompensasi karena telah menyiksa kami di dalam penjara serta hendak memancung kami." Tangan Reya menepuk-nepuk puncak kepala Xu Liang. Seperti seorang kakak yang berusaha menenangkan adiknya yang berusia lima tahun.
"Kompensasi?!" sebuah kata baru yang sama sekali masih asing di telinga Xu Liang. Ingin sekali dia menanyakannya, namun melihat dua tuannya beranjak berdiri, Xu Liang buru-buru mengambil dua set pakaian ganti bagi Aran dan Reya.
Benar-benar jangan membuat Ratu Sou Ra menunggu lebih lama lagi. Xu Liang masih ingin lehernya utuh.
Berjalan beriringan, ketiganya mengikuti Kasim sang Ratu.
Hingga tiba di depan pintu utama masuk aula Utara, tempat sang Ratu melakukan kerja serta rapat kerajaan.
Reya mencengkeram erat pergelangan tangan Aran saat suara sang kasim dengan lantang mengumumkan kedatangan keduanya.
"Aran!" nada suara Reya memperingatkan. Membuat Aran mengerut dahi.
"Kau ingat kan apa yang diajarkan di kelas Bu Berta?!"
Aran tersenyum. Mana mungkin dia melupakan kelas spesial Bu Berta.
"Tentu saja." jawab Aran dengan pasti sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke dalam aula.
Sementara Xu Liang membungkuk dalam memberi hormat. Dirinya yang pelayan hanya boleh menunggu di luar aula.
"Apa pula itu Berta?" tanya otak mines Xu Liang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story'
"Hatchuuuu..." ini adalah bersin yang kesekian.
Ratu Sou Ra memandang prihatin serta cemas pada pengasuhnya. Ah Ma.
"Apakah kau baik-baik saja Ah Ma? Perlukah aku memanggil tabib istana untuk memeriksamu?"
Ah Ma memijit-mijit hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal.
Ini aneh sekali, udara tidak cukup dingin untuk mengantar flu pada dirinya. Bahkan, ini bukanlah musim semi dimana banyak serbuk bunga diterbangkan angin.
Dan sebagai catatan, dirinya tidak memiliki alergi serbuk bunga!
Jadi, apa yang menyebabkan dirinya bersin-bersin seperti ini?
"Tidak perlu, Yang Mulia." dengan sopan Ah Ma menolak itikad baik sang Ratu.
Tapi, "Hatchuuuu...." Ah Ma semakin merasa tidak enak dengan sang Ratu. Hidungnya semakin gatal, membuatnya ingin bersin lagi.
"Hatchuuuu...." Ah Ma semakin geram dengan hidungnya saat ini.
Mungkinkah dia terjangkit penyakit aneh? Atau... jangan-jangan, ada yang mengutuknya dengan buruk?!
#Meski belum banyak pembaca, yang penting semangat 🤓