
Kasim Li berjalan pelan serta teratur. Sangat anggun dilihat layaknya seorang wanita.
Kipas bulu angsanya disandang dengan elegan di lengan kirinya.
Di belakangnya ada empat pembantu kasim yang mengikuti langkahnya.
Semuanya diam. Tak satupun diijinkan untuk bersuara.
Sudut bibir Kasim Li sedikit tertarik ke atas. Sebentuk senyum tipis menghiasi wajahnya. Itulah ekspresi yang harus selalu ditunjukkannya. Dalam keadaan apapun.
Apa dirinya tidak pernah mengalami kram wajah!? batin Aran setiap kali bertemu pria paruh baya itu.
Kasim Li menghentikan kakinya di depan pintu perpustakaan kerajaan.
Dengan senyum tipis yang masing tersungging, Kasim Li memanggil.
"Kasim ini meminta ijin untuk menghadap putri Phoenix."
Sunyi. Tidak ada sahutan.
Masih dengan senyum tipisnya, Kasim Li kembali berkata, kali ini sedikit lebih keras.
"Kasim ini meminta ijin untuk menghadap putri Phoenix."
Masih senyap.
Menghela napas, Kasim Li lantas melirik dua pembantunya.
Seolah langsung paham, dua pembantu kasim itu mengangguk dan bergegas menarik pintu perpustakaan agar terbuka.
"Kasim ini meminta ijin untuk masuk dan menghadap putri."
Barulah kaki Kasim Li bergerak menaiki beberapa tangga kecil lalu masuk ke dalam.
"Aaakkkhh."
Untuk pertama kalinya seumur hidup Kasim Li memekik. Senyum tipis itu berganti dengan wajah dengan mulut menganga lebar.
Tubuhnya yang oleng ke belakang segera ditahan oleh dua pembantu kasim lainnya. Kipas bulu angsanya jatuh ke lantai karena tangan sang Kasim buru-buru menekan da...danya yang berdenyut kencang.
Pemandangan mengerikan tersaji di depan mata sang Kasim.
Seluruh isi rak kosong melompong.
Ribuan gulungan tua dan langka saling bergelantungan di atas rak, bahkan ada juga yang berserakan di lantai dalam kondisi terbuka.
Buku-buku kuno juga bernasib sama. Jungkir balik dengan segala posisi. Ada yang terbuka, ada yang terbuka dengan posisi telungkup, miring disana-sini. Namun yang terbanyak adalah berserakan di semua tempat, utamanya lantai.
Apa yang sudah terjadi?! batin tua Kasim Li menangis.
Seingat dirinya, semalam dia meninggalkan putri Phoenix beserta pelayannya di perpustakaan dengan kondisi semuanya tersusun rapi. Tapi sekarang...
Dan otak tuanya segera mengingat sesuatu yang lebih penting.
"Putri?!" desisnya. Sambil kedua netranya mencari sosok yang sudah mengguncang negeri Tian beberapa hari ini.
"Putri Phoenix!" Kasim Li mengeraskan suaranya ketika tidak menerima sahutan.
Panik segera menyergap hati sang Kasim.
Jangan-jangan semalam ada pencuri masuk ke perpustakaan lalu menculik sang putri!
Haiya... ini bisa menjadi masalah. Ini bisa menjadi masalah!
Dengan kipas yang terayun cepat, Kasim Li memerintahkan satu pembantunya untuk segera memanggil penjaga di luar.
"Aiyoo... cepat! cepat!" suara panik sang Kasim terdengar tidak pura-pura saat sang pembantu tidak bergegas keluar memanggil penjaga.
Namun,
"Krrooookk... ngiiikk....krrooookk.... ngiiikk... krrooookk..."
Kasim Li dan pembantunya mematung sejenak. Saling bertatapan penuh tanya.
Berjalan pelan sambil berjinjit untuk menghindari menginjak gulungan maupun buku yang berserakan, Kasim Li bergerak mendekati suara yang berasal dari sudut ruangan.
Diantara tumpukan buku dan gulungan yang bertebaran itulah ada Aran yang sedang terlelap.
Kepala gadis itu jatuh di atas meja dengan beberapa buku terbuka sebagai bantal. Di atas kepalanya terdapat beberapa gulungan yang terbuka dan ditumpuk begitu saja.
Selebihnya, semua berserakan di bawah kaki.
Sementara Xu Liang, tidur di lantai bersandar ke meja belajar Aran. Kedua tangannya memeluk beberapa gulungan awalnya, namun jatuh bertumpuk di pangkuan karena tangan Xu Liang langsung lunglai begitu kesadarannya digantikan oleh mimpi.
Kasim Li semakin mengelus da...da. Pasalnya, semakin banyaknya buku serta gulungan yang bertebaran.
Bola mata sang Kasim sontak mendelik saat mendapati tumpukan buku yang Aran jadikan bantal. Fokusnya pada noda basah disana yang terlihat sangat familiar.
"Aakkkhhh!"
Tubuh Kasim Li limbung ke belakang. Ditahan dua pembantunya. Kali ini kesadarannya benar-benar hampir hilang oleh serangan kejutan ini.
Itu buku langka tentang ajaran Taoisme. Telah ada sejak kaisar pertama Tian bahkan mungkin lebih tua. Banyak berisi tentang ajaran kebajikan. Bahkan dijadikan acuan untuk membuat peraturan istana. Dan gadis itu meni...durinya sebagai bantal dan... meng-ileri-nya.
Bagaimana bisa!?
Jiwa Kasim Li benar-benar melayang. Pria tua itu memijit pelipisnya saat kepalanya serasa berputar-putar.
"Apa?! Apa?! Apa?!" tanya Aran gelagapan bangun.
Bola matanya mengerjap-ngerjap berusaha membiasakan diri dengan pencahayaan yang ada.
Merasa ada yang basah di sudut bibirnya, Aran dengan cepat mengusapnya dengan punggung tangan.
Kerutan di dahinya terbentuk saat melihat Kasim Li yang ambruk dengan satu tangan menekan da...da. Seolah terkena serangan jantung mendadak.
"Buku langka Tao kerajaan..." jerit sang Kasim menatap nanar buku malang di atas meja yang sudah basah separuh oleh air liur Aran. Lalu pria sepuh itu menangis pilu.
Apa pula yang sudah terjadi pada pak tua ini?! pikir Aran bingung sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
*****
Flash Back On
Tadi Malam, Setelah Kasim Li meninggalkan Aran dan Xu Liang di perpustakaan kerajaan...
"Nona," bisik Xu Liang sambil merapat ke sisi Aran.
"Memangnya anda bisa membaca?"
Ada nada meremehkan di suara Xu Liang. Aran hanya berdecak.
Dia lantas mengambil satu gulungan dari rak terdekat. Membukanya, lalu .... beberapa menit kemudian matanya mulai mengerjap-ngerjap. Setelah itu, keningnya mulai membentuk kerutan. Kepalanya lantas miring ke kiri lalu berganti ke kanan. Semua tulisan itu tampak kabur dan berputar-putar di otaknya. Dan berikutnya, bibirnya mengerucut runcing.
Terakhir.... Aran melempar asal ke udara gulungan tua itu lalu mengambil gulungan lainnya.
"Aih... sudah kuduga." desis Xu Liang lalu menepuk keningnya.
"Membosankan! Membosankan! Membosankan!" decak Aran sambil terus melempar beberapa gulungan serta buku ke segala arah.
"Nona..." jerit Xu Liang panik. Karena dalam sekejap satu deret rak isinya sudah berhamburan tidak jelas, meninggalkan rak yang kosong melompong.
Membungkuk dengan tergesa-gesa, Xu Liang memunguti gulungan satu per satu. Berusaha mengembalikannya ke tempat semula. Namun, tidak sebanding dengan kecepatan melempar Aran.
Xu Liang benar-benar menangis tanpa air mata.
"Nona, kumohon jangan mengacaukannya. Kita bisa dihukum Kasim Li." suara Xu Liang terdengar kelelahan.
"Nona?" panggil Xu Liang. Dan mendapati sang majikan memegang satu buku dengan senyum merekah sumringah.
Xu Liang memiliki firasat tidak baik.
"Nona, Buku apa itu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story
"Xuang... Ni... Jing..." pelan-pelan Aran mengeja goresan lama di salah satu sampul buku di tangannya.
Dahi Aran mengerut sejenak. Terdengar familiar. Sepersekian detik kemudian, senyum merekah menghiasi bibirnya.
"Nona, buku apa itu?" terdengar suara Xu Liang dari balik punggung. Wajah pelayan itu menatapnya curiga.
Dengan gerakan cepat, Aran menarik satu tangan Xu Liang lalu mengajaknya duduk meringkuk di bawah salah satu meja belajar.
"Kenapa kita harus duduk di bawah meja, nona?" wajah Xu Liang terlihat bingung.
"Karena ini," Aran melambaikan buku di tangan sambil kedua bola matanya melirik was-was ke arah pintu masuk. Takut ketahuan.
Memangnya buku apa itu? Sampai membuat mereka berdua harus bersembunyi. Pikir Xu Liang polos.
Dan seketika kedua matanya mendelik lebar saat Aran membuka halaman pertama.
"Bagus, ada lukisannya juga." desis Aran membuat wajah Xu Liang semakin bergidik ngeri.
Xu Liang segera menangkup kedua telapak tangannya di wajah. Namun, Aran segera menariknya untuk membuka.
"Ini pengetahuan penting. Apalagi saat kau menikah nanti."
Tidak! Tidak! Tidak!
Xu Liang menggeleng keras dengan kedua mata terpejam. Meski dirinya tidak pernah mengenyam bangku sekolah tapi Xu Liang tahu buku terlarang itu.
"Nona, bukankah Anda akan mencari jejak kakek buyut anda?" Xu Liang berusaha mengalihkan pembicaraan dan berharap otak sang majikan kembali ke jalan yang benar.
"Aiiishh... itu bisa dilakukan nanti." sergah Aran sambil terus membuka halaman demi halaman kitab terlarang itu.
Dewa di langit, tolonglah hamba! jerit jiwa Xu Liang.
"Lihat! Ada naga bersalto di udara... monyet bersilat... harimau melangkah ringan... dan..."
Terus saja Aran bersuara...
Sementara Xu Liang kini membekap kedua telinganya, kedua matanya masih terpejam erat dan menggeleng keras.
Dewa-dewa di langit! Ampuni hamba. Mata, telinga, hati dan otakku sudah tidak polos lagi!
Ini semua salah majikanku!
Jiwa Xu Liang melolong ke langit malam.
.
.
.
.
.
.
.
Note: Xuang Ni Jing adalah salah satu kitab kuno dari negeri tirai bambu yang dibuat pada abad ke - 5 Masehi. ***Jika diterjemahkan secara harfiah berarti "Kitab Sang Pera...wan".
Berisi tentang teknik ber...cu...mbu, teknik berhubungan se...ksu...Al, kesehatan dan makna filosofis dari hubungan itu sendiri.
Jelasnya nanya aja ke Mbah Google ya 😉
Maaf, author sendiri ga tahu gimana wujud kitabnya (hasil nanya ke Mbah Google soalnya🤭). Entah ada gambarnya atau tidak dalam si kitab, author jg g tahu.
Cuma dalam cerita ini, authornya ngehalu tuh kitab ada gambarnya juga hehehe...
Silakan dibayangin sendiri-sendiri 😁
Salam peace ya readers 🤓***