The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
6. Mencari Peramal Selatan



Reya masih mengingat jelas apa yang disampaikan Da Lao kemarin.


"Hanya kegelapan yang terlihat." kata Da Lao saat mencoba mencari cara jalan pulang bagi Aran dan Reya.


Semua terkesiap. Tak terkecuali Aran dan Reya. Mimik cemas langsung tergambar jelas di wajah mungil sang Ratu.


Apa maksudnya itu?!


"Maafkan hamba, Ratu, nona berdua," hormat Da Lao membungkuk dalam bergantian, pada sang ratu lalu pada Aran dan Reya.


"Kegelapan disini bukan berarti sesuatu yang buruk. Hanya saja, ilmu hamba tidak bisa menjangkaunya dalam arti... hamba tidak bisa membacanya. Karena ini berhubungan dengan takdir langit. Sesuatu yang tidak boleh hamba campuri."


"Jadi intinya..." Aran menarik kesimpulan. "Kami terjebak di jaman ini selamanya?"


"Apakah seperti itu Da Lao?" tanya ratu Sou Ra.


Da Lao segera membungkuk dalam. "Hamba memang pantas mati Yang Mulia."


"Namun," lanjut Da Lao. "Hamba pernah mendengar tentang tingginya ilmu dia yang disebut sang peramal selatan. Mungkin sang peramal selatan inilah yang bisa membantu nona berdua."


"Peramal selatan?! Siapa dia?" Reya mulai tertarik.


"Hamba sendiri tidak tahu. Rumor mengatakan dia adalah seorang laki-laki, yang lain berucap dia seorang wanita. Berita lain mendengungkan bahwa dia seorang renta. Ada juga yang melihatnya sebagai seorang pemuda. Tidak ada yang tahu pasti. Namun, yang jelas, peramal selatan ini suka sekali melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, dari negara satu pindah ke negara lain bahkan dikatakan dia juga melakukan perjalanan masa."


Time travelling?! Seperti mereka saat ini! Aran dan Reya berpandangan. Mungkin memang sang peramal selatan inilah jawaban yang mereka cari.


Da Lao lantas melanjutkan. "Dia dikenal sangat bijaksana, memiliki ilmu pengobatan yang tinggi serta pengetahuan akan dunia yang luas. Namun, satu hal saja. Dia hanya akan muncul kepada mereka yang benar-benar memerlukan bantuan darinya."


*****


"Apa kau yakin akan pergi mencari peramal yang seperti bunglon ini?" Aran ingin memastikan.


"Tidak ada salahnya untuk dicoba kan." tukas Reya lalu menyesap teh mawarnya.


"Dengan apa kau akan mencarinya? Tidak ada mobil, kereta, pesawat maupun GPS."


"Biarkan aku yang memikirkannya." jawab Reya penuh keyakinan.


Tapi mengapa mesti dirimu Reya? Enak sekali kamu berpetualang di alam liar, melihat pemandangan. Sementara aku? Harus terjebak di istana ini.


"Itu karena aku bisa sedikit ilmu bela diri, sedangkan kau... tidak." jawab Reya lalu menyesap lagi cangkir tehnya.


Aran mengerucutkan bibirnya. Kesal sekali karena Reya selalu bisa membaca pikirannya.


"Terkunci bukan berarti tidak bisa sama sekali kan."


"Lagi pula lebih mudah mencari kakek dari lingkungan istana. Banyak dokumen maupun arsip-arsip yang bisa kau baca. Toh nenek juga sudah memberi ijin kita untuk melakukan pencarian di istana dan sekitarnya."


Huh! Menyebalkan sekali! Rutuk Aran masih berwajah masam.


Dan Reya sudah siap dengan jawaban pamungkasnya.


"Kalau kau di istana, kau bisa mengejar cinta jendral tampanmu itu." meski sebenarnya Reya tidak menyukai gagasan itu, namun demi membuat Aran tetap di istana, apapun akan dilakukan.


Berhasil! Wajah Aran berubah sumringah seketika. Semangat baru berbinar di kedua netranya. Meski Reya ragu itu adalah semangat untuk mencari keberadaan kakek buyut mereka.


Reya lantas bangkit lalu pergi keluar gazebo, meninggalkan Aran sendiri bersama Xu Liang.


Saat sosok Reya menghilang, barulah Aran menyadari sesuatu.


"Reya! Bagaimana bisa aku menemukan kakek buyut?!" jeritnya tanpa tahu malu.


"Nama kakek buyut kita aneh!"


Suara melengking Aran membuat beberapa pelayan yang berjalan didekat gazebo hampir saja terjengkang dan menumpahkan teh di nampan.


Xu Liang sendiri hampir saja dibuat kejut jantung oleh suara cempreng majikannya yang mendadak.


Apa benar gadis itu keturunan sang Ratu? Jiwa para pelayan saling berbisik. Benar-benar meragukan keabsahan genetik Aran.


Side Story'


Jendral Liu berbaring tenang di gazebo sambil memainkan kipas kertasnya. Hari ini cukup terik membuat sang jendral malas melakukan kegiatan apapun selain rebahan.


"Jendral... Jendral.... gawat!"


Jendral Liu melipat kipas kertasnya lalu bangkit. Mendapati dua pengawal berpangkat rendah berlari menghampiri sambil kehabisan napas.


"Bicaralah."


Keduanya saling melirik dan saling senggol lengan. Antara takut serta bingung bagaimana menyampaikannya.


Kedua alis jendral Liu terangkat tinggi.


"Cepat katakan!"


Keduanya spontan membungkuk dalam. "Kami pantas mendapat hukuman dari jendral." ucap si gendut.


Kerutan di kening jendral Liu semakin dalam.


Si kurus menyenggol lagi lengan penuh lemak si gendut.


"Se... semalam seorang pencuri menerobos istal kuda kita dan mengambil satu kuda." jelas si gendut dengan leher penuh peluh.


"Hm... hanya satu kuda. Biarkan saja." tukas jendral Liu kembali rebahan dan membuka kipas.


Bukannya lega, dua prajurit rendahan itu semakin gemetar ketakutan


Setelah mengucapkan informasi berikutnya ini, pastilah mereka akan dicambuk.


Si kurus mendorong pundak si gendut. "Cepat sampaikan!" desis si kurus.


Si gendut mengusap peluh di kening dengan tangan gemetar.


"Ma... ma... masalahnya, yang dicuri a...ada...lah... kuda... j... je... ndral." nada suara si gendut mengecil saat menyebut kata 'jendral'.


Lensa abu-abu sang jendral yang semula terpejam, membuka seketika.


Apa?! Dia mencuri Bing Bing?!


Dua pengawal rendahan itu bersujud dalam hingga mencium lantai. Siap menerima hukuman apapun dari sang jendral.


"Tidak! Bing Bing kesayanganku diculik?!" pekik sang jendral histeris.


"Segera panggilkan penjaga gelapku!" jerit sang jendral.


Si gendut dan si kurus mengangguk lalu keluar.


Tak berapa lama, lima orang berbaju putih dengan wajah yang juga ditutupi topeng putih membungkuk di hadapan sang jendral.


"Aku perintahkan kalian mencari Bing Bing dan membawanya pulang!"


Para penjaga gelap saling melirik dari balik topeng.


Tugas apa ini?! Bukannya membunuh, mereka disuruh mencari kuda?!


Namun, karena ini perintah tuannya. Mereka tetap membungkuk meng-iya-kan.


"Dan pastikan bulu-bulu halusnya tidak kotor!"


Benar-benar panik yang berlebihan, gerutu para penjaga gelap dalam diam lalu pergi menghilang.


Si gendut dan si kurus saling melirik.


Sepertinya jendral mereka itu butuh seorang wanita dengan segera, agar obsesinya pada kuda putih montok itu bisa segera dihentikan.