
Bibi Han berdiri dengan penuh semangat di depan restorannya. Wajahnya sumringah sejak tadi pagi.
Kepalanya menoleh kesana kemari mencari satu sosok yang sudah membuat usahanya semakin maju.
Hingga agak lama barulah sosok yang dinanti itu muncul.
Bersama Xu Liang, Aran berjalan kaki sambil bola matanya sibuk mengamati keramaian jalanan ibu kota.
Tak lupa tangannya memegang tang hulu. Camilan favoritnya.
"Putri! Putri!" pekik bibi Han penuh gembira. Wanita agak tambun itu segera menggamit lengan Aran yang bebas dan menariknya ke lantai atas. Membuat langkah Aran terseok-seok dan beberapa kali hampir terjungkal.
Di lantai atas restoran yang sepi...
Di atas salah satu meja makan, satu peti kecil sudah menanti. Ketika dibuka, sepuluh batang emas berkilat menyilaukan mata Aran dan Xu Liang.
"Ini adalah keuntungan lima puluh persen, sesuai dengan kesepakatan kita, putri." ujar paman Han sambil tersenyum melihat wajah Aran dan Xu Liang yang tak berkedip dengan mulut membuka lebar.
"Penjualan roti roda benar-benar sangat laris. Resep yang putri berikan sangat membawa keberuntungan. Lihatlah..."
Aran melihat ke lantai bawah, dimana banyak orang sedang mengantri untuk mendapatkan donat O. Bahkan antrian mengular hingga ke luar restoran.
Aran tidak bisa berkata apa-apa.
"Pemandangan yang terjadi selalu seperti ini sejak perkenalan menu baru beberapa hari lalu," terang bibi Han. "Dan selalu terjadi kerumunan seperti ini hingga sore. Kami sampai kewalahan menghadapi pelanggan. Stok bahan adonan pun cepat sekali habis."
Ada guratan kelelahan di wajah paman dan bibi Han. Namun, kelelahan yang menyenangkan hati.
Aran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hatinya meringis. Antara senang dan juga was-was.
Kalau Reya sampai tahu aku menjual resep Donat O (brand donat terkemuka di negara A di jaman milenium), bisa-bisa aku dihajarnya. Batin Aran menangis pilu.
Karena sebelum pergi, Reya sudah mewanti-wanti Aran untuk tidak melakukan perubahan dalam bentuk apapun. Karena apa yang terjadi di dunia kuno ini sudah digariskan oleh takdir langit. Mereka tidak boleh bertindak kurang ajar dengan ikut mencampurinya.
Tapi, mereka jelas butuh uang untuk bisa bertahan hidup, meski di jaman kuno ini.
Ah, sudahlah. Toh hanya satu resep. Kecemasan itu seolah lenyap begitu saja. Berganti dengan bayangan ratusan batang emas yang berjatuhan.
Kira-kira, resep apa lagi ya yang bisa kujual ya? Pikir Aran tanpa dosa, pura-pura lupa dengan janjinya.
Kedua bola mata Aran berkedip-kedip cerah membayangkan pundi-pundi cuan yang akan dia dapatkan berikutnya.
*****
Dengan tubuh gemetar, gadis itu sekuat tenaga berusaha menerobos kerumunan orang-orang di sepanjang jalan.
Berkali-kali kaki kurusnya terseok-seok hampir terjungkal.
Saat melewati kerumunan di depan restoran Han, sang gadis tanpa sengaja menabrak beberapa orang yang sedang berdiri mengantri donat O.
"Hei! Dimana matamu hah?!" teriak satu orang.
"Yak! Jangan serobot antrian!" sahut yang lain.
"Dui Bu Qi! Dui Bu Qi!" maafkan aku! maafkan aku!
Sang gadis menggosok-gosokkan telapak tangannya sambil menundukkan kepala berkali-kali.
Berusaha bangkit dengan tertatih, kedua bola matanya membulat lebar saat melihat ke belakang. Wajahnya semakin memucat, kepanikan segera melanda.
Dengan tergesa-gesa, sang gadis segera kembali berlari meski tubuhnya terasa ingin sekali ambruk.
Melirik ke sebuah gang kecil di samping restoran, sang gadis dengan napas memburu segera berbelok lalu menghilang disana.
Kening Aran membentuk kerutan seketika, aneh.
Apalagi saat tak berapa lama, segerombolan pria asing dengan wajah tidak baik berlari sambil melihat sekeliling dengan tatapan kejam.
Menerobos kerumunan antrian dengan kasar. Sama sekali tidak perduli dengan protes orang-orang.
"Sialan!" umpat salah satunya. "Kita kehilangan jejak!"
"Cepat berpancar!" perintah yang lain.
Dalam sekejap, para pria berwajah keji itu menyebar ke segala arah lalu hilang ditelan keramaian.
Kerutan di kening Aran semakin dalam.
"Eh, Xu Liang." Aran menyenggol lengan Xu Liang yang berniat menggigit donat O -nya yang kelima.
"Hm?"
"Kita tidur disini malam ini."
"Lagi?!" pekik Xu Liang dengan pipi gembung penuh donat.
Aran hanya meringis. Menunjukkan deretan giginya yang putih cemerlang.
"Aish... bagaimana anda bisa segera menemukan kakek buyut kalau bermain-main seperti ini terus." gerutu Xu Liang lalu pergi menemui paman Han untuk meminta ijin menginap.
Senyum Aran semakin mengembang. Wajah tengilnya benar-benar terlihat menggemaskan.
Sepeninggal Xu Liang, senyum Aran menghilang seketika.
Keberadaan sang kakek menurut Aran seolah sangat misterius. Dirinya sama sekali tidak menemukan itu di arsip manapun di perpustakaan. Jadi, percuma saja kembali ke perpustakaan kerajaan.
Mungkinkah keberadaan sang kakek memang sejak awal tidak ada!?
Ataukah memang sang kakek bukan berada di kerajaan Tian? Kalau benar adanya, dimana sekarang sang kakek berada?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story
Ratu Sou Ra memandang penuh rasa penasaran atas sebuah kotak yang baru disuguhkan Kasim Li.
Dua benda bulat dengan lubang di tengahnya. Satu beroleskan krim mentega, aromanya terasa gurih menggugah selera.
Satunya bertabur bubuk gula halus. Berwarna seperti salju. Benar-benar mengundang perut untuk berbunyi.
"Apakah ini roti roda yang sedang jadi pembicaraan beberapa waktu ini?"
Kasim Li membungkuk. "Benar Yang Mulia."
Menarik. Ratu Sou Ra mengangguk sekali lantas mengambil donat O yang berkilat akibat lumeran mentega. Menggitnya sekali dan... ledakan rasa menguasai mulutnya.
Perpaduan antara rasa yang tidak terlalu manis serta gurih asinnya mentega begitu serasi dan lumer di mulut. Sangat unik namun lezat.
Kedua bola mata sang Ratu mendelik lebar. Cukup kaget dengan rasa baru di lidahnya itu. Setelah itu, senyum gembira tersungging di bibir mungilnya.
"Bukankah ini sangat lezat, Ah Ma?"
Ratu Sou Ra menatap sang pengasuh yang berwajah rumit dengan senyum sempurna.
Wanita tua itu hanya mengangguk kaku, sambil memaksakan diri untuk tersenyum pada sang ratu.
Wajahnya terlihat menderita sekali. Berusaha keras menahan ledakan rasa yang lain di mulutnya.
Pedas serta panas mendominasi mulutnya. Tenggorokannya serasa terbakar. Wajahnya memerah.
Dasar anak durhaka! Beraninya mengisi roti rodaku dengan cabai!
Jiwa gelap Ah Ma menjerit pilu.
*****
Sementara itu di penginapan paman Han....
"Hatchuuuu!"
"Anda baik-baik saja nona?" tanya Xu Liang. Sang pelayan menghentikan aktivitas menyisir rambut sang majikan.
"Apa anda terkena flu? Perlukah aku memanggil tabib?"
Aran menggeleng keras sambil menggosok hidungnya yang gatal.
"Tidak perlu. Seseorang mungkin sedang mengutukku." Senyum jail itu langsung terbit.