The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
2. Terjebak



Hanya satu inchi saja ketika tepian pedang tajam siap menggores kulit leher, dua petir di langit saling menyambar menghasilkan ledakan cahaya berbayang hitam raksasa. Kedua bayangan itu menukik tajam dan membentur pedang di tangan Jendral Ryu dan Jendral Liu. Mementalkan dua besi tajam itu ke udara lalu menghilang ke balik punggung Aran dan Reya.


Seketika suasana hening. Senyap.


Apa yang baru saja terjadi?


Jendral Ryu dan Jendral Liu bertatapan.


Mungkinkah?


Tapi, itu mustahil!


Hingga keesokan harinya, Jendral Ryu dan Jendral Liu masih memikirkan yang terjadi kemarin. Keduanya pun terdiam dengan pikiran sendiri di aula istana, tempat Ratu Sou Ra mengumpulkan semua orang dan menunggu kedatangan dua orang yang diduga adalah pemilik takdir roh agung. Phoenix dan Qirin.


*****


Sementara itu ...


Aran merasa melayang-layang lalu jatuh dalam sekumpulan awan yang empuk dan hangat. Seperti memeluk seekor domba gemuk dengan gulungan bulunya yang tebal.


Jika mati terasa seenak ini, dirinya rela di pancung berkali-kali. Tapi, tunggu dulu...


Aran meraba lehernya dalam tidur. Masih utuh? Ini aneh.


Aran menggetarkan kelopak mata mencari pencahayaan. Dan kedua matanya ingin segera melompat keluar.


Ini... dimana?


Semuanya terasa sangat asing dan ... kuno. Apakah di surga itu memang ketinggalan jaman seperti ini?


Dan... dimana Reya?


"Sudah sadar?!" suara familiar membuat Aran menoleh.


Reya?! Masih belum percaya dengan bayangan yang ditangkap kedua matanya. Reya berdiri di sisi ranjang dengan mengenakan hanfu putih. Kedua lengannya bersilang di dada. Dan matanya menatap sinis Aran.


"Reyaaa!!!" rengek Aran gembira, langsung melompat dari kasur dan menggelayut di leher Reya seperti bayi monyet.


"Syukurlah, meski kita sudah mati, kita masih bisa berada di surga yang sama."


Mati kepalamu! Reya mengumpat dalam hati. "Apa cambukan di penjara bawah tanah sudah membuat rusak saraf di otakmu? Beraninya kau menyumpahi kita sudah mati!"


Tunggu! Kita tidak jadi mati?!


"Bukankah kita saat itu hampir di pancung? Bagaimana leher kita bisa utuh sampai sekarang?" Aran mengelus lehernya berkali-kali penuh sayang. Leher, mulai detik ini aku akan selalu menjagamu dengan baik.


"Seseorang..." Reya mengambil jeda lantas menggelengkan kepala, "Tidak! Sesuatu telah menolong kita." Apa itu? Reya merasa masih harus memastikannya.


"Yang lebih penting, bagaimana kesanmu terhadap ruangan ini?" Reya mengubah topik. Kedua matanya menatap penuh selidik pada ekspresi Aran.


Aran mengitari ruangan sambil menimbang-nimbang. Mata coklatnya mengamati satu persatu semua objek yang ada di sana. Tidak ada yang luput satupun. Cermin kuno, kursi meja yang jelas-jelas out of date, lukisan kuas bertinta hitam, guci-guci antik serta ranjang dari kayu.


"Tidak banyak." Akhirnya Aran bersuara. "Hanya... kuno, kuno, kuno dan kuno. Benar-benar butuh banyak perbaikan, pembuangan serta keajaiban IKEA jika kau ingin menjadikan ruangan ini kamar hotel bintang lima."


Reya menepuk jidatnya. Dia sama sekali tidak butuh saran design interior saat ini. Mungkin, otak adiknya ini benar-benar sudah konslet.


"Kecuali kalau kau ingin menyewakannya sebagai tempat syuting untuk drama kolosal, semuanya sangat memenuhi kriteria. Kudengar bisnis perfilman kolosal sangat diminati sekarang."


Reya sungguh ingin mencekik saudaranya itu, jika saja Aran tidak segera mengeluarkan argumen yang ditunggunya sejak tadi.


"Intinya... entah bagaimana bisa kita terjebak di dunia kuno ini."


Reya mendesah. Bagus! Sepertinya otak Aran masih bisa diperbaiki.


"Pertanyaan yang bagus Aran." Reya melanjutkan. "Apa yang kau ingat sebelum kita terdampar di antah berantah ini?"


Aran menggumam sambil termenung. Keningnya berkerut, tanda sedang berpikir keras.


"Ini adalah awal liburan musim panas. Dan kau!" Aran menjentikkan satu jarinya pada Reya, "entah bagaimana akhirnya bisa mengambil cuti dari lima kerja sambilan mu untuk menemaniku bermain di pantai. Cuaca cerah dan hangat, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan turun badai, sangat cocok untuk berselancar."


"Kita berselancar lalu aku dihantam ombak dan jatuh dari papan selancar ku. Saat aku hendak berenang ke permukaan, kedua kakiku seolah ditarik oleh sesuatu, mungkin pusaran bawah air?" Aran mengangkat kedua bahu dengan acuh lalu melanjutkan.


"Sekuat apapun aku berusaha menarik tubuhku ke permukaan, tarikan di kakiku lebih kuat hingga aku berpikir bahwa aku akan tenggelam. Dan... begitu aku membuka mata, kita sudah terdampar di pantai yang asing."


"Lantas, kita pergi ke ibukota dan mengaku sebagai keturunan kaisar negeri ini. Dan hal itu berakibat kita dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah serta menerima lima ratus tujuh puluh tiga cambukan."


"..." Dia menghitungnya? Batin Reya sambil menghela napas.


Tepat sekali! Sama sekali tidak ada yang terlewatkan! Batin Reya. Semua yang dikatakan Aran adalah hal yang juga dialaminya.


"Oh, aku cinta sekali dengan otak sejuta GB-ku ini." Aran mengelus-elus manja kepalanya.


Reya ingin muntah saat ini juga. Mana pemukul kayu itu? Mana? Mana?


"Tapi..." kali ini wajah Aran berubah serius. "Bagaimana caranya kita bisa kembali ke zaman kita?"


Itulah juga yang sedang dipikirkan Reya. Jika mereka bisa tertarik ke zaman nenek moyang ini, tentunya pasti ada cara untuk kembali pulang ke zaman milenial.


Pada saat keduanya sedang berpikir keras, saat itulah sesuatu jatuh ke lantai dan pecah.


"PRANG!"


"Ma... maafkan saya, Pu... putri Phoenix dan Putri Qirin." Seorang gadis pelayan, berusia belasan langsung bersujud hingga dahinya membentur lantai dengan suara "Duk!" agak keras.


"..." Ugh! Sepertinya itu sakit, batin Aran dan Reya. Menatap kening sang pelayan yang agak benjol itu.


.


.


.


.


.


.


.


Side Story'


"Reya, apa kau yakin kita tidak sedang merasuki tubuh seseorang?" teriak Aran tiba-tiba sambil memeriksa seluruh badannya. Khawatir ada yang janggal. Namun, semuanya tampak normal. Tetap tubuh seorang remaja enam belas dan tujuh belas tahun.


Kening Reya mengernyit. "Maksudmu?!"


"Mungkin kita sedang merasuki tubuh seorang putri lemah yang ditindas oleh keluarganya, dikhianati oleh sahabat serta tunangannya yang kemudian mati mengenaskan. Setelah itu, roh kita merasukinya dan dia hidup kembali untuk membalas dendam pada semua orang yang telah menyakitinya. Lalu, bertemu dengan sosok pangeran atau kesatria yang dingin serta arogan. Dan, keduanya berakhir dengan jatuh cinta."


"..." Otak Aran benar-benar sudah rusak, batin Reya.


"Aran, apa yang kau pelajari di sekolah?" selidik Reya.


"Hal-hal yang membosankan."


Reya lantas mengganti pertanyaan. "Buku apa saja yang kau baca akhir-akhir ini?"


"Manga online, novel online, majalah K-Pop, gosip-gosip selebritis, ng... sesekali nonton film, terus..." Aran mengingat-ingat lagi.


Sementara Reya meremas-remas gemas bantal kuno di sampingnya. Jadi, selama ini uang kerja sambilan ku kau habiskan untuk membeli kuota internet dan hal-hal tidak penting itu?


"Bagaimana dengan SPP?" Mana sekolahmu termasuk sekolah elit! Biaya bulanannya lumayan menguras kantong, batin Reya menangis.


"Karena aku cerdas luar biasa, tentu saja aku selalu juara kelas dan bisa mendapatkan beasiswa. Jadi, biaya bulanan sekolahku gratis."


"..." Reya ingin sekali memuntahkan darah mudanya.


Reya kemudian mengelus perlahan puncak kepala Aran sementara tangan satunya mengelus sebuah tongkat kayu yang entah didapatnya dari mana.


Aran, kau sangat beruntung sekali di tubuh kita mengalir darah yang sama. Jika tidak, sudah kupukul pantat bayimu itu seribu kali!


Tiba-tiba Aran merasa tubuhnya merinding tidak jelas.


#**Hai... hai... hai...


Memikha balik lagi bawa chapter 2 😆


Sengaja di tiap episode ditambahin "side story" berupa cerita pendek/bagian sampingan dari kisah utama sebagai hiburan (semoga aja bisa terus Istiqomah bikinnya 😁)


Jangan lupa jempolnya yang banyak ya kalo kalian suka dengan karya penulis picisan ini 🤗


Selamat membaca 🤓**