
"Aran bangun!"
"Aran! Cepat bangun!"
Suara familiar itu menggema di telinga Aran. Membersamai rasa sakit di sekujur tubuh. Aran mengerang pelan sebelum pada akhirnya membuka mata.
Tatapan itu begitu misterius dan membius. Bagai antidote atas rasa sakit yang seketika lenyap.
Pahatan yang sempurna.
Tanpa sadar, Aran menahan napas.
Bersama itu juga, bisikan lirih seketika mengundang petir di langit.
"Aku jatuh cinta."
Telinga tajam Reya menangkap itu. "Apa?" desisnya.
"Aku jatuh cinta." bisik Aran lagi. Kedua matanya sudah tersesat dalam pesona pria bernetra yang sehangat mentari itu.
"Sekarang?!" pita suara Reya hampir putus. Disaat napas mereka sedang di ujung tanduk, bisa-bisanya sang adik mengatakan sesuatu yang menggelikan. Jatuh cinta.
"Lihatlah itu Yang Mulia! Mereka bahkan berdebat sesuatu yang tidak penting di saat akan dipenggal!" Ah Ma, pelayan terdekat sekaligus pengasuh sang Ratu bersuara.
Ratu Sou Ra meremas lengan bajunya. Kecemasan membimbangkan hatinya. Apa yang harus dilakukan? Benarkah mereka bukan takdir roh agung seperti dalam ramalan tua?
"Aran! Tidak bisakah kau membaca situasi kita saat ini?" Reya menggerakkan giginya.
Pria berambut perak dengan pedang teracung di atas kepala Reya berusaha amat keras menahan sudut bibirnya agar tidak bergerak membentuk kurva melengkung. Kedua mata abu-abunya sangat menikmati sekali komedi picisan di hadapannya saat ini.
Benar-benar membuat Reya ingin menjambak rambut itu sekuatnya. Namun, mengingat kedua tangannya terikat, Reya hanya menyimpan rencana itu untuk diwujudkannya lain hari. Itu pun jika napasnya bisa terselamatkan hari ini.
"Aran sadarlah!"
"Jika orang setampan ini mau menjadi kekasihku, aku rela meski harus di pancung."
Mendengar itu, Reya ingin muntah darah.
"Dengar itu Yang Mulia. Mana mungkin mereka yang tidak memiliki kemampuan apa-apa itu adalah keturunanmu." Suara Ah Ma kembali terdengar. " Mereka hanya orang gila yang mengaku sebagai penerus darahmu."
"Hei nenek keriput! Beraninya kau menyebut kami gila!" suara Aran tiba-tiba berubah mengerikan. "Jika kami masih bisa bebas dari drama kolosal ini, akan kupastikan ubanmu kucabuti satu persatu!"
Reya tersenyum, ini artinya adiknya itu sudah sadar sepenuhnya. Memang perlu sedikit stimulasi yang menggelitik ego sang adik agar bisa berwajah iblis betina.
"Yang mulia!" teriak Ah Ma sambil bersujud. "Mereka telah menghina Ah Ma mu ini! Mohon tegakkan keadilan bagi hamba!"
"Ratu! Apa keputusanmu?!" suara menggelegar jendral Ryu terdengar. Pria itu sudah muak melihat tatapan mesum gadis yang menurutnya sudah rusak otak. Siapa lagi kalau bukan Aran.
Seolah hal yang tabu di zaman kerajaan Tian ini jika seorang wanita menyatakan perasaan pada seorang pria. Dan itu, bukanlah pengalaman yang diharapkan jendral Ryu.
Di Tian ini, untuk urusan cinta, pria memiliki kuasa untuk memilih serta menolak. Bahkan di negara ini, wanitalah yang meminang pria dengan memberikan mahar sesuai keinginan si pria. Semakin tinggi kedudukan sang pria, maka semakin mahal mahar yang harus diberikan.
Muka jendral Ryu semakin menghitam melihat senyum usil jendral bersurai perak di punggung, jendral Liu.
Ratu Sou Ra mengepalkan tangannya, mencari keyakinan yang tampak fatamorgana disana. Sebelum akhirnya berucap, "Pancung!"
"Pancung!" teriak Kasim istana dengan lantang.
"Akhirnya selesai juga." bisik Reya seolah telah menunggu klimaks ini sejak tadi.
"Kita bertemu di surga Reya." Aran lantas memejamkan mata. Bersiap menerima rasa sakit luar biasa saat meregang nyawa.
Side Story'
"Hai tampan, siapa namamu?"
Jendral Ryu menggeram dalam hati. Ingin sekali segera diayunkannya pedang di tangan. Namun, tanpa komando dari sang Ratu, kepalan tangannya harus benar-benar bersabar.
"Namaku Aran dan aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
Entah apa yang merasuki gadis ini? pikir jendral Ryu. Dia merasa otak gadis ini perlu diperbaiki. Benar-benar membuat mata serta telinganya sakit dan jijik.
Sementara itu, darah muda Reya ingin sekali dimuntahkan saat ini juga.
"Sudah, pancung saja kepalaku sekarang," bisik Reya dengan pasrah pada jendral Liu.
"Lebih baik telingaku tidak mendengarkan hal memalukan berikutnya yang dikatakan adikku yang norak ini."
Jendral Liu ingin tertawa, namun mati-matian menahannya. Membuat wajah albinonya sedikit merona.
#Hai... hai...
Memikha hadir dengan kisah Time travel yang sudah lama melumut di otak. Akhirnya, sekarang berani tuk disajikan untuk teman-teman NT.
Jika suka, jangan lupa klik like-nya sebagai dukungan buat amatiran ini 🤓 Terima kasih