The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
16. Dupa Gairah



Aroma samar nan asing itu jelas ditangkap indra penciuman Ryu.


Halus. Sangat samar. Namun hidung Ryu terasa digelitik. Tidak bisa dibohongi.


Kedua netra Ryu menatap sekeliling. Menscanning benda-benda yang ada di tenda peristirahatannya.


Sama sekali tidak ada yang ganjil. Semua barang juga tepat berada di tempatnya masing-masing.


Lantas, dari mana asal aroma manis ini?!


Ryu merasa pernah mencicip aroma ini. Sekejap saja. Namun otaknya mulai terasa kacau dan membingungkan. Sehingga sulit bagi Ryu untuk ingat.


Ketika pening itu mulai menghantam kepala, langkah kaki Ryu menjadi semakin berat. Tubuhnya pun berangsur-angsur mengeluarkan keringat. Seolah ada api mulai membara di dalam perutnya.


Benar-benar memabukkan. Seolah habis menenggak belasan kendi arak.


Terhuyung, satu tangan Ryu bertumpu pada tepi meja. Ryu menutup kedua matanya rapat-rapat lalu menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha menghilangkan rasa pening yang menghujam otak serta kesadaran.


Sial! Maki Ryu.


Tubuhnya semakin terasa panas dan tidak nyaman. Apalagi perut bagian bawah menegang seolah siap untuk meledak saat ini juga.


"Ming Ge!" geram Ryu disela-sela kesadarannya.


Namun, sama sekali tidak ada sahutan dari luar tenda.


"Ming Ge!" suara Ryu berubah serak.


Ming Ge tidak juga muncul.


Menyerah. Ryu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Meninggalkan suara 'Bruk!' yang cukup keras.


Ryu mengepalkan kedua tangannya. Berusaha meredam gelora aneh di dalam tubuhnya sambil berharap kesadarannya akan terus terjaga, meski sepertinya sia-sia.


Detik berikutnya, Ryu merasa tubuhnya melayang di awang-awang.


***


Suara cekikikan yang tertahan terdengar dari salah satu sudut.


"Nona..." bisik satu suara. "Kita bisa dipenggal kalau jendral sampai tahu." ketakutan jelas menyergap hati Xu Liang.


Kesialan apa yang diterimanya hingga mendapat majikan yang tengil seperti Aran. Berkali-kali Xu Liang menepuk dahinya, berusaha mengusir ketidak beruntungannya sejak mengabdi pada Aran.


"Tidak akan. Tenang saja." jawab Aran penuh keyakinan. Sangat percaya diri sekali.


Misi menakhlukkan jendral Ryu tercinta dengan dupa gairah harus sukses.


Xu Liang menggelengkan kepalanya dengan mulut komat-kamit tak jelas. Membaca doa apapun pada dewa agar leher mereka kali ini bisa selamat.


"Aku hanya ingin satu kecupan saja kok." bisik Aran sambil terkikik geli. Kedua tangannya menekan selembar kain basah untuk menutupi hidung. Asap dupa sangat kuat, membuat Aran tidak mau kehilangan kendali kesadaran.


Xu Liang hanya tersenyum sinis melirik sang majikan. Satu kecupan? Yang benar saja. Dengan otak kotor Aran, bisa-bisa menjadi ratusan kecupan.


Suara 'Bruk!' seolah benda berat baru saja jatuh mengalihkan perhatian keduanya.


Satu mata Aran mengintip. Dan sudut bibirnya pun tertarik ke atas. Benar-benar sukses sesuai rencana.


Aran bersiap keluar dari persembunyian, namun satu tangan memegang lengan kanannya dengan kuat.


Aran melirik si pemilik. Xu Liang dengan wajah memelas menggelengkan kepalanya, mencoba menghalangi sang majikan dari kekonyolannya yang absurd. Karena yang dipertaruhkan adalah nyawa mereka.


Siapa yang tidak mengenal kekejian jendral Ryu. Xu Liang tahu. Semua penduduk Tian tahu. Bahkan musuh-musuhnya pun sangat mengenal watak tak berbelas kasih sang jendral.


"Lepaskan!" mata Aran melotot meminta Xu Liang untuk melepas cengkeramannya. Namun Xu Liang terus menggelengkan kepalanya, tanda menolak. Dirinya benar-benar masih menyayangi lehernya.


Selama beberapa detik keduanya saling tarik-menarik yang tidak jelas. Hingga akhirnya dimenangkan oleh Aran yang tersenyum puas.


Aran keluar dari persembunyiannya sambil mengendap-endap. Mendekati tubuh sang jendral yang terkapar di lantai.


Sementara Xu Liang memukul-mukul kepalanya. Menyesali kebodohannya karena menunjukkan dupa terlarang itu pada Aran. Seharusnya tadi dirinya langsung membuang benda terkutuk itu.


"Aaargh!" Xu Liang hanya bisa menjerit dalam hati.


Semoga saja para dewa di langit melindungi dirinya dan sang majikan dari amukan sang jendral. Hanya doa itu yang terus dikomat-kamitkan Xu Liang tanpa henti.


***


Aran berjalan sepelan mungkin.


Sesekali gadis itu melirik pintu tenda. Khawatir Ming Ge, tangan kanan sang jendral, tiba-tiba masuk.


Meski Aran sudah mengantisipasinya dengan memasang dupa tidur di luar tenda , tetap saja rasa cemas itu ada.


Merasakan keheningan di luar tenda, Aran kembali fokus pada tubuh seperti binaraga di hadapannya.


Kedua bola mata Aran membulat bercahaya. Semangatnya meningkat tiba-tiba setelah memandang pahatan dewa Yunani di hadapannya.


Aran menangkup telapak tangan dan menggosoknya. Aran menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Deru nafasnya berangsur-angsur berubah menjadi agak cepat.


Kening Aran bertaut, ada yang salah.


Jemari Aran meraba cepat wajahnya. Selendang basahnya sudah raib kemana. Mengekspos hidungnya yang tiba-tiba serasa digelitik.


Gawat!


Asap dupa mulai menjajah rongga hidungnya!


Tidak! Kesadaran, bertahanlah!!! jerit Aran mulai linglung.


Satu kecupan!


Hanya satu kecupan saja, Aran! Tidak lebih.


Dua kaki Aran bersimpuh di samping kepala jendral Ryu. Dengan gerakan lambat, gadis itu mulai membungkukkan badannya.


Fokus utamanya adalah bibir sek.si sang jendral yang terlihat sangat menggiurkan.


Hanya tertinggal satu senti saja, saat itulah Aran merasakan hembusan hangat dan agak panas menerpa wajahnya.


Kedua bola mata Aran membulat seketika saat dua netra kuning keemasan menatapnya dengan ganas.


Naf.su membunuh itu sungguh nyata.


Aran tersentak dan hendak beranjak berdiri untuk lari. Namun, sebuah lengan sekuat besi mencekal lehernya dengan sangat kuat.


"Beraninya bocah terkutuk sepertimu membiusku!"


Ups!


Aran sudah yakin dirinya akan mati saat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Side Story'


"Aroma apa ini? Kenapa bisa wangi?" tanya Aran saat berjalan-jalan di pasar.


"Ah, itu wangi dupa, nona." terang Xu Liang. "Disini banyak kuil pemujaan, sehingga banyak pedagang penjual dupa."


Aran menganggukkan kepalanya, lantas menghampiri salah satu kios penjual dupa beraneka bentuk dan ukuran.


"Aku tidak tahu jika dupa bisa beragam ukuran seperti ini."


"Karena mereka juga memiliki aroma yang berbeda, nona." Xu Liang kemudian menjelaskan.


"Jika ingin ke kuil dewa air, orang akan membawa dupa beraroma lavender. Jika pergi ke kuil dewa angin, mereka cenderung memakai yang beraroma Krisan. Wangi melati adalah aroma untuk kuil naga bumi. Sedangkan dupa mawar untuk menghormati dewa api."


Aran mengangguk saja mendengar penjelasan Xu Liang.


"Kalau ini?" Aran mengambil satu dupa yang beraroma agak manis.


"Itu adalah dupa musim semi, nona." jelas sang pemilik kios dengan ekspresi agak malu.


"Dupa musim semi?" kening Aran semakin berkerut.


Xu Liang menjadi salah tingkah. Sementara paman penjual kios dengan sopan meminta kembali dupa di tangan Aran.


"Ah... itu... dupa untuk... pasangan pengantin baru." jelas paman pedagang. Ekspresi wajahnya mendadak bersemu merah.


Aran masih mengernyit bingung.


"Jika nona sudah menikah nanti, akan paham dengan sendirinya." buru-buru sang paman mengembalikan dupa itu ke tempat semula.


"Apa maksudnya dupa itu untuk pengantin baru?" kali ini Aran menatap Xu Liang.


Yang ditatap semakin salah tingkah.


"Itu dupa gairah." desis Xu Liang pelan ke telinga Aran. "Dinyalakan untuk pasangan pengantin yang akan melakukan malam pertama." telinga Xu Liang semakin memerah, menahan malu.


Seketika wajah Aran berubah cerah. Menatap paman pemilik kios dengan penuh semangat.


"Paman! Aku beli semua dupa musim seminya."


Mulut Xu Liang menganga. Termasuk paman pemilik kios.


"Nona, ide ganjil apa lagi yang muncul di kepalamu?" desis Xu Liang dengan wajah rumit.


Aran hanya meringis. Memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Oh tidak! Jangan lagi!


Xu Liang memiliki firasat buruk.