The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
14. Tanah Hitam



Reya dan Liu Bei memacu kuda mereka semakin ke selatan.


Tiba-tiba hidung Reya berkedut tidak nyaman, membuat gadis itu mengerutkan kening.


Dengan dua jari, dia lantas menggosok-gosok tepi hidungnya. Namun, kedutan itu tidak juga menghilang.


Kening Reya membentuk tiga garis. Hm... apa sesuatu terjadi dengan Aran?


"Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan Liu Bei mengembalikan segala konsentrasi Reya.


Kedua alis Reya terangkat tinggi. Dan gadis itu lantas menggeleng cepat.


Dirinya akan tahu jika kembali ke ibu kota nanti, pikir Reya tak ambil pusing lagi soal kedutan di hidungnya.


Reya menatap heran saat Liu Bei mengurangi kecepatan Ha Ha lalu berhenti.


Reya belum sempat membuka suara untuk bertanya, Liu Bei sudah menjelaskan.


"Jalur berikutnya sangat curam. Sulit untuk dilewati kuda." terang Liu Bei sambil membawa Ha Ha ke dekat sesemakan dimana banyak rumput kehijauan yang bisa dimakan kuda.


"Kita tinggalkan kuda-kuda disini untuk beristirahat. Sementara itu, kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki."


Ingin membantah, tapi sepertinya akan sia-sia, karena jelas sekali si albino lebih tahu tentang geografis wilayah disini. Tanpa GPS serta teknologi, Reya serasa lumpuh total di dunia ini.


Tanpa banyak bicara, Reya lantas mengikuti Liu Bei, membawa Bing-Bing ke sesemakan lalu mengikatnya di dekat Ha Ha.


Liu Bei dan Reya lantas berjalan menuruni tebing. Meski agak curam namun ada sebuah jalan setapak yang sepertinya sering digunakan orang untuk berjalan.


Hingga akhirnya mereka berhenti di dasar tebing dimana sebuah sungai kecil mengalir.


Reya menyempatkan diri untuk membasuh muka serta mencuci tangan serta kakinya. Tak lupa juga mengisi botol minumnya.


Setelah cukup melepas lelah, keduanya kembali berjalan. Kali ini mendaki sebuah bukit. Tidak terlalu terjal, namun cukup membuat napas ngos-ngosan.


Begitu sampai di atas bukit, mendung gelap perlahan menggelayut. Bersiap memuntahkan sang sumber kehidupan.


Desa yang dituju sudah tidak jauh lagi. Mereka perlu bergegas agar tidak terjebak hujan.


Reya segera mempercepat langkah. Ingin sekali segera sampai disana.


Namun, sebuah sentakan di satu tangannya membuat seluruh tubuhnya berputar lalu menabrak sesuatu yang bidang serta hangat. Sebuah lengan kekar menguncinya.


Apa? Apa? Ada apa?!


Netra Reya mengerjap bingung. Namun, sedetik kemudian berubah menjadi perasaan yang aneh. Rasa malu yang tidak pernah dialaminya.


Bagi Reya ini terlalu in...tim.


"A...pa yang kau lakukan?" pekik Reya panik. Bisa dirasakan napas hangat Liu Bei menggelitik satu telinganya.


"Jangan bergerak!" sudut netra abu-abu itu melirik sekilas Reya lalu fokus kembali ke depan.


Bagaimana aku bisa bergerak, bodoh! Kalau kau mengunciku seperti ini?


Ingin sekali Reya memaki, namun sebuah gerakan lembut membawa Reya bergerak ke belakang.


Lalu secara halus, bahkan tanpa Reya sadari lengan Liu Bei memutar tubuh Reya ke samping dengan tatapan tajam pria itu masih terpaku pada satu hal.


Reya bersiap berteriak, namun saat butiran debu hitam laksana arang menerpa ujung-ujung jemarinya, suara itu tersangkut di tenggorokan.


Kedua bola mata Reya membulat lebar.


Mimpi itu menjadi kenyataan!


"Tidak mungkin!" desisan Reya membuat Liu Bei sedikit mengalihkan fokusnya.


Menatap wajah pucat Reya membuat konsentrasi Liu Bei hilang.


Ada apa dengan bocah ini? pikir Liu Bei sedikit heran.


"Kau tak apa-apa?" akhirnya hanya kata itulah yang terlontar.


Reya menggeleng gagu. Bingung dengan pemandangan di depannya juga ekspresi pria albino itu.


Desa selatan yang mereka tuju mungkin hanya tinggal beberapa belas meter lagi dengan berjalan kaki. Namun, entah bagaimana bisa desa itu diselimuti dengan kegelapan yang aneh.


Awan mendung kelabu menggantung tebal di langit. Tidak ada tanda akan turun hujan, dan matahari benar-benar diselingkupi dengan sempurna.


Yang membuat kulit Reya merinding adalah wajah desa itu sendiri.


Mungkin, semula itu adalah desa yang ceria dengan rumah kayu yang dicat beraneka warna, namun seolah terhisap nyawanya, wajah bangunan di desa itu ikut ber aura gelap. Sama sekali tidak hidup.


Lentera-lentera bernyala samar juga terlihat. Namun bukannya menambah cahaya malah semakin menambah kesuraman.


Tanah serta tumbuhan di sekitar pun berwarna pekat juga gosong. Seolah habis terjadi kebakaran hebat.


Seperti desa mati, meski telinga Reya mampu menangkap jerit tawa anak kecil disana.


Benar-benar seperti mendatangi lokasi film horror dan thriller.


Reya melihat pria albino di depannya itu tiba-tiba sudah berlutut dengan satu kaki.


Kesepuluh jarinya terbenam di dalam tanah sehitam jelanga.


Kilatan emas kembali ditangkap Reya di kedua bola mata si albino.


Sesaat setelahnya, urat-urat nadi di punggung tangan Liu Bei tiba-tiba berubah menjadi kehitaman. Lalu bergerak naik ke pergelangan tangan, siku, lengan atas hingga akhirnya nadi di seputar leher ikut menghitam.


Sangat kontras sekali dengan kulit pucatnya.


Tiba-tiba, tubuh Liu Bei bergetar hebat. Seolah sesuatu yang kuat sedang mengguncangnya.


"Hei!" panggil bibir tipis Reya.


Sepersekian detik selanjutnya, tubuh Liu Bei limbung ke samping dan ambruk. Pria pucat itu tak sadarkan diri.


"Yak!" jerit Reya dengan suara membentak.


"Plak! plak! plak!" berharap tamparan itu akan menyadarkannya.


"Yak! Jangan bercanda denganku!" geram Reya.


Sadar masih tidak ada respon, dua jari Reya menekan di bawah hidung Liu Bei. Seketika Reya terperanjat.


Tidak dirasakannya desisan udara yang keluar.


Tidak! Tidak! Tidak!


Dua jari Reya pindah ke leher samping. Tempat pembuluh darah besar berada. Nihil.


****! Aku tidak mau bersama mayat di negeri antah berantah ini!


Wajah Reya berubah ngeri.


"Yak! Albino! Cepat bangun!" telapak tangan Reya kembali sigap mengguncang tubuh yang semakin mendingin itu.


"God!" tangisan jiwa Reya meronta. "Haruskah aku melakukannya di tempat aneh ini?"


Sialan!


Ini demi kemanusiaan Reya, bertahanlah!


Dengan gerakan cepat, jari tangan kiri Reya menjepit hidung mancung Liu Bei. Sementara tangan kanannya menarik rahang agar mulut terbuka lebar.


Ini demi kemanusiaan! Ini demi kemanusiaan! Reya mencoba menetralkan pikirannya yang tiba-tiba kacau.


Perlahan namun pasti Reya menundukkan kepala, hingga bibirnya membekap erat dan mengalirkan udara di rongga mulut Liu Bei.


Setelah itu, dengan cepat telapak kirinya menekan dada kiri Liu Bei dengan dorongan tapak kanannya. Lalu memberikan tekanan kuat berkali- kali hingga hitungan sepuluh.


Kembali memberi udara lalu memberikan tekanan kuat lagi tepat di jantung.


"Sialan kau albino!" geram Reya yang mulai mengeluarkan peluh.


"Aku akan menagihnya berlipat-lipat di masa depan!"


Hingga beberapa menit kemudian, saat Reya hendak menyerah, sebuah gerakan cepat berupa sentakan membuat tubuh Reya oleng.


Dalam sekejap mata, punggung Reya membentur tanah. Sementara satu tangan pucat Liu Bei mengekang leher Reya dengan erat.


Kedua mata Liu Bei mendadak lebih bersinar dengan iris yang keemasan.


"Apa yang kau lakukan padaku, makhluk fana?!"


Reya mendelik gemetar mendengar suara geraman yang tidak biasa dari suara Liu Bei biasanya.


Benar-benar pria tak tahu terima kasih!


Ingin sekali Reya menonjok wajah tampan di atasnya itu, namun pasokan oksigen di otaknya menurun drastis, melemahkan semua sistem dalam tubuhnya.


Disaat Reya bersiap menerima kematiannya, sebuah suara asing memecah suasana thriller itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Side Story


"Yak! jika ingin begituan kenapa tidak mencari penginapan saja!"


Entah bagaimana, kesadaran Liu Bei kembali. Dengan wajah terkejut, pria pucat itu segera menarik tangannya dari leher Reya. Lalu membantu gadis itu berdiri namun segera ditepis oleh Reya yang terbatuk-batuk.


"Dasar anak muda jaman sekarang." ibu tambun dengan tumpukan kayu bakar di punggungnya itu berjalan melewati Reya dan Liu Bei sambil menggelengkan wajahnya dengan terheran-heran atas tingkah anak muda generasi sekarang.


"Memangnya darimana romantisnya! Apa ibu itu rabun, hah?!" omel Reya dalam hati.


"Aku ini dicekik! dicekik!" ingin sekali Reya berteriak, namun suaranya sama sekali tidak mendukung.


"Kau... tidak apa-apa kan?"


Dengan segera mata Reya menatap tajam sang sumber suara. Membuat Liu Bei salah tingkah dan semakin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa dengkulmu!" teriak Reya akhirnya meledak.


Liu Bei mengkerut. Mimik wajah kucing melas langsung terpasang.


"Cih! Sekarang, dimana kau sembunyikan wajah psycopath-mu tadi hah!" desis Reya cuek lalu melewati Liu Bei dengan cepat. Berusaha mengejar langkah ibu pembawa kayu bakar.


Liu Bei mendesah pelan, sangat mengutuk kecerobohannya tadi.


.


.


.


.


.


***Aku kembali!


Maaf terlalu lama berkutat dengan tragedi di dunia nyata, lupa mampir lg ke dunia halu 🤣


Selamat membaca 🤓***