
Reya menggigit pelan kelinci bakarnya sambil kedua netranya tak lepas dari menatap pria bersurai perak di hadapannya.
Meneliti. Mengamati. Juga memikirkan.
Dirinya tidak akan minta maaf, batin Reya. Toh, menjambak rambut jelas jauh dari kata sepadan dengan cambukan di punggung serta hukuman pancung.
Itu tidak ada apa-apanya.
Reya menggigit sekali lagi kelincinya dan serta merta kedua matanya membulat sempurna.
Ini enak!
Meski hanya dibumbui ala kadarnya saja dan agak gosong, tapi ini enak.
What! Pria pucat itu ternyata pintar memasak!
Kedua mata Reya semakin menyipit tajam.
Sementara itu...
Tiba-tiba tubuh Liu Bei menggigil tanpa sebab.
Sekujur badan serasa meremang aneh. Seolah ditelan...jangi bulat-bulat oleh gadis di hadapannya itu.
Tatapan tajam gadis itu sama sekali tidak bergeming. Membuat Liu Bei meringis ngilu.
Apa salahnya?! pikir Liu Bei.
Dia sudah berbaik hati menangkapnya saat terjatuh. Mencarikan gua untuk beristirahat. Bahkan memasakkan makanan.
Dimana lagi letak kesalahannya?!
Si Gadis lah yang mencuri kudanya, kenapa jadi Liu Bei yang merasa bersalah. Batin Liu Bei semakin bingung.
"Makanlah yang banyak, lalu beristirahat." ucap Liu Bei kemudian, mencoba mencairkan suasana.
"Lagipula hujan lebat di luar sana. Tidak mungkin lagi untuk melanjutkan perjalanan."
Keheningan masih berlanjut. Reya hanya melirik pintu gua yang ditutupi derasnya air yang jatuh dari langit. Seperti tirai bening yang tak tembus pandang.
Reya kembali menatap Liu Bei, membuat punggung pria itu tersentak ke belakang karena terkejut.
"Apa nenek menyuruhmu mengikutiku?!" suara Reya keluar dengan nada penuh selidik.
Membuat perut Liu Bei mulas tiba-tiba.
Ada apa ini?! pikirnya aneh.
Tidak biasanya dia seperti ini.
Reya hanya menggantung kelinci bakar di tangan. Menanti jawaban.
Ekspresi Liu Bei serba salah. Semakin kikuk jadinya.
Liu Bei sendiri terheran-heran. Dihadapannya saat ini adalah seorang gadis yang bahkan belum matang untuk menjadi seorang wanita. Halloow... dia masih anak-anak!
Seorang bocah!
Tapi mengapa, Liu Bei selalu merasa terintimidasi oleh tatapannya?
Aura menekan itu sangat mendominasi, membuat tubuh Liu Bei serasa panas-dingin.
Masih dengan tatapan yang sama Reya menunggu.
Jadinya, Liu Bei menggigit bibir. Haruskah dia berkata jujur?
Awalnya memang Liu Bei ingin menguntit Reya, lalu saat gadis itu lengah, dia akan membawa Bing Bing pulang. Namun, seolah tanpa beban sang gadis malah mengembalikan (meninggalkan di tengah jalan, lebih tepatnya) Bing Bing begitu saja. Bahkan mengatai kuda cantiknya dengan istilah buruk.
Namun, saat akan pergi, surat perintah dari sang Ratu memaksanya untuk meninjau kawasan Selatan.
Beredar kabar bahwa wilayah selatan sedang dilanda wabah aneh. Ratu memerintahkan dirinya untuk mencari kebenaran tentang berita itu.
Akhirnya Liu Bei memilih menjalankan misi penyelamatan Bing Bing sekaligus tugas negara dari sang Ratu.
Liu Bei hanya bisa menghela napas dengan panjang. Rasanya beban hidupnya teramat berat saat ini.
Karena otaknya sudah mentok, Liu Bei merasa harus jujur pada sang gadis. Dirinya merasa itulah yang terbaik. Lalu mengalirlah cerita si albino.
"Wabah?!" ada kerutan di kening Reya.
Rupanya Liu Bei telah berhasil menarik perhatian si gadis. Sudut bibir Liu Bei sedikit tertarik ke atas.
"Wabah apa?" lanjut Reya sambil mulai menggigit kembali kelinci bakarnya lagi.
Liu Bei mengedikkan bahu. Tanda dirinya sendiri belum tahu.
"Aku akan tahu setelah sampai disana." Liu Bei membuang sisa tulang kelinci ke dalam api. Lantas berdiri dan berkata, "Selesaikan makanmu lalu istirahatlah. Perjalanan besok masih panjang. Aku akan melihat Bing Bing dan Ha Ha."
Bing Bing?! Ha Ha?! Mulut Reya berdecak. Si albino ini benar-benar punya selera yang buruk dalam memberi nama kuda. Bisik batin Reya.
*****
Entah kemana si albino pergi, hingga beberapa saat lamanya tak kunjung juga terlihat surai peraknya yang menurut Reya konyol.
Padahal ini hanya perkara tidur.
Reya tidak pernah merasa takut. Pada apapun, apalagi mimpi. Hingga saat ini.
Reya berjalan mondar-mandir di dalam gua sambil sesekali mengusap tengkuknya yang meremang.
Seandainya tidak hujan, Reya akan memilih tidur di alam terbuka dengan bintang sebagai atapnya. Hal itu malah membuat Reya merasa lebih aman.
Tak lama kemudian, sesuatu yang berkilat menerjang masuk. Insting bahaya Reya mengaktifkan sikap waspada di tubuh sang gadis.
Wajah pucat Liu Bei membentuk kerutan di dahi.
"Belum tidur?"
Ziiiiiiiiiing....
Kecemasan itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Dan Reya berdiri dengan mata membulat heran.
Ini aneh! Sungguh aneh!
Apa yang terjadi pada dirinya?! pikir Reya semakin bingung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Side Story
Para penjaga gelap benar-benar ingin menangis darah.
Pasalnya tugas baru telah menanti untuk dilaksanakan segera.
Menangkap kelinci hutan.
Kalau disuruh memilih, mereka akan lebih senang dengan tugas membunuh daripada menangkap kelinci.
Membunuh, urusannya dengan menembakkan panah atau jarum beracun bahkan goresan pedang di leher. Semua itu adalah hal yang lebih mudah untuk dilakukan.
Sementara menangkap kelinci hutan, sama saja bersiap untuk berlari kesana-kemari dengan payah.
Mengejar makhluk montok berbulu yang sangat suka sekali melompat lalu bersembunyi di lubang dengan cepat, benar-benar membuat tingkat stres naik drastis.
Apalagi jika harus bergulat dengan kelinci yang masuk lubang. Sudah pinggang encok karena terus berjongkok ke bawah ditambah dengan gigitan gigi tajam sang kelinci saat tangan dimasukkan untuk meraih sang kelinci.
Mana mereka tidak diperbolehkan menggunakan panah ataupun belati untuk menangkapnya. Kata sang jendral sih, rasa daging kelinci akan berubah, tidak sesedap jika ditangkap langsung dengan tangan.
Para penjaga gelap benar-benar mengutuk Liu Bei. Dalam hati.
Kenapa tidak bilang saja kalau ingin menyiksa mereka, pikir salah satu penjaga gelap.
"Jendral, tidak adakah tugas lain?" tanya salah satu penjaga gelap yang sudah kepayahan.
Liu Bei yang duduk santai sambil rebahan dibawah pohon sambil kipas-kipas menatap datar sang bawahan.
Liu Bei berpikir sejenak.
"Ada. Kau bisa memasaknya setelah menangkapnya."
Wajah penjaga gelap itu seketika bergidik ngeri.
Tidak! Tidak! Tidak!
Meski terlihat kelewat santai, Liu Bei adalah jendral yang sangat pemilih terhadap rasa masakan. Satu saja rasa yang janggal di lidahnya, Liu Bei tidak segan-segan untuk menyuruh sang bawahan mengulang masakan itu hingga sesuai dengan seleranya.
Meski harus mengulangnya seratus kali!
Mengulang disini artinya memulai dari awal. Yakni menangkap kelinci lagi.
"Saya memilih menangkap kelinci." sang penjaga gelap buru-buru balik badan dan menjauh segera.
X Sambi, Tengah Malam Jumat 😱
Ommo...