The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
17. Air Hujan Yang Asin



Tiba-tiba saja jendral Ryu bangkit dengan rahang kaku.


"Beraninya bocah terkutuk sepertimu membiusku!"


Gelegar suara menyeramkan itu sontak menciutkan nyali Aran. Apalagi Xu Liang, wajahnya langsung pucat pasi di persembunyian.


"A...ku...ugh..." suara Aran langsung hilang saat cengkraman tangan jendral Ryu semakin kuat di lehernya.


Kedua tangan Aran mencengkeram kuat pergelangan tangan jendral Ryu di lehernya, berusaha menjaga keseimbangan. Sementara kedua kakinya dia gerakkan maju mundur, berusaha menendang dada pria berotot itu agar melepaskan cekikannya.


Namun, sepertinya sulit sekali. Karena Aran mulai kehilangan napas.


"Jendral, maafkanlah nona hamba, dia tidak bermaksud..." jerit Xu Liang sambil berlari mendekat, berusaha menolong majikannya. Dan...


"Brak!" tubuh Xu Liang seketika terpelanting dan jatuh menabrak lemari kecil dan menjatuhkan beberapa ornamen.


Efek samping teriakan Xu Liang membuat cengkraman Ryu di leher melonggar.


Aran terbatuk-batuk sambil memegang da.danya yang agak sakit. Hidungnya menghirup rakus udara di sekitar.


Namun, kedua bola matanya mendelik besar saat mengetahui pelayan setianya dilempar hingga terluka.


"Yaaakk! Apa yang kau lakukan pada pelayanku!" tentu saja Aran murka melihat Xu Liang dilempar begitu saja. Apalagi hingga pelayan polos itu meringis kesakitan.


Ingin membalas perlakuan jendral Ryu, Aran bersiap melayangkan tinju dengan tangannya yang mungil. Namun, belum sempat dia bergerak, satu lengan kokoh kembali menjepit lehernya dan mengangkatnya tinggi.


Sekali lagi Aran mulai kehabisan napas. Megap-megap, berusaha keras menghirup oksigen.


Tubuh Aran semakin lemas saat mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa.


"Jendral! Aku mendengar keributan. Apa yang..." kata-kata Ming Ge seketika terhenti saat jendral junjungannya keluar dari tenda dengan cekalan di tangannya.


Putri Phoenix?!


Wajah Ming Ge bercampur antara bingung serta terkejut.


Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa putri Phoenix ada di tenda jendral?! Bau wangi apa ini dari dalam tenda?!


Belum juga Ming Ge menyuarakan apa yang ada di otaknya, suara bedebum keras menghentak konsentrasinya.


"BRUAK!"


Aran jatuh tersungkur ke tanah akibat lemparan sadis jendral Ryu. Satu keningnya mengeluarkan sedikit darah akibat benturan dengan batu kasar.


Xu Liang menjerit panik dan segera berlari menuju Aran dan membantunya bangun.


"Nona! Anda baik-baik saja?"


Aran mengangguk lemah, berusaha menegakkan punggung meski rasanya sekujur tubuh remuk akibat lemparan jendral Ryu.


"Ming Ge!" teriak jendral Ryu lantang.


Tersentak, Ming Ge buru-buru menghadap sambil menundukkan kepala.


"Jen... Jendral?!"


"Apa hukuman bagi seorang penyusup?"


Otak Ming Ge masih terasa kosong melompong.


"Ming Ge!!" bentakan itu membuat suara Ming Ge bergetar.


"Lima puluh cambukan."


"Dan apa hukumannya bagi seseorang yang memasang dupa perayu di tenda jendral?!"


Kedua bola mata Ming Ge membelalak tak percaya. Menatap Aran tak berdaya.


"Hukuman cambuk... seratus kali." desisnya.


Saat itu juga Xu Liang bersujud hingga keningnya membentur tanah. Memohon pengampunan untuk nona majikannya.


Pikiran Aran masih kosong. Berusaha mencerna keadaan sekitar. Bahkan saat dua penjaga membopong masing-masing lengannya lalu mengikatnya di dua buah pilar. kayu yang berdiri tegak.


*****


"Sembilan belas!"


"Cetar!"


"Dua puluh!"


"Cetar!"


"Iishh..." Aran menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga. Berusaha keras menahan rasa sakit akibat kulit punggung yang terkoyak.


Darah segar langsung mengucur dari sobekan baru.


"Jendral! Kumohon, hentikan!" jerit Xu Liang masih terus bersujud. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir.


Tangan Ming Ge yang memegang cambuk semakin gemetar. Apalagi saat darah di punggung Aran mengalir deras.


Gurat ketakutan terpancar saat Ming Ge melirik jendral Ryu yang duduk tegak dengan wajah sedingin granit. Aura monster masih menguar jelas dari tubuhnya.


Ingin sekali dirinya memohon pada sang jendral untuk menghentikan hukuman ini, karena dia tahu Aran mulai kehilangan kesadarannya.


"Apa yang kau tunggu Ming Ge?" mata jendral Ryu menajam. "Lanjutkan!"


"Jendral!" Xu Liang menjerit. "Kumohon hentikan! Ampuni nonaku!" genangan air mata sudah membasahi kedua pipi pelayan polos itu.


"Ming Ge!" nada dingin itu kembali memperingatkan.


"Putri... maafkan aku." bisik Ming Ge penuh sesal.


"Cetar!"


"Dua puluh satu!" teriak satu penjaga.


"Cetar!"


"Dua puluh dua!"


Aran meringis sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah. Matanya mulai nanar. Kesadarannya mulai terkikis habis.


"Aku hanya menyukaimu..." bisik Aran pelan. Bola matanya menatap jendral Ryu nanar. "Mengapa bisa sesakit ini?"


Perlahan Aran mulai menutup kedua bola matanya dengan kedua sudutnya meneteskan butiran bening.


"Cetar!"


"Hoek...!!" Aran menyemburkan darah segar dari mulutnya. Kepalanya terkulai kebawah.


"Nona!" Xu Liang memekik. Gadis itu susah payah bangkit berdiri lalu berlari menuju nonanya yang telah terkulai tak berdaya.


Berkali-kali Xu Liang mengguncang tubuh Aran, namun sama sekali tidak ada respon. Membuat Xu Liang semakin panik.


"Nona, bangunlah! Kumohon! Jangan membuatku takut." tangis Xu Liang kembali pecah.


Tubuh Ming Ge gemetar.


Bagaimana jika dia telah membunuh putri Phoenix?!


Bisa-bisa dirinya dihukum para dewa.


Ming Ge melirik jendral Ryu. Tatapannya penuh permohonan untuk menyudahi saja hukuman ini.


Namun, balasan tatapan tajam jendral Ryu lebih menggetarkan jiwa dan raga Ming Ge.


Ming Ge lagi-lagi tidak berdaya.


Sekali lagi maafkan aku putri. Ming Ge membatin penuh sesal.


Dengan meneguhkan hati, Ming Ge mengangkat cemetinya tinggi-tinggi. Bersiap melecutkannya lagi.


Saat ujung cemeti mulai berayun di udara, tiba-tiba langit berubah terang dalam sedetik, disusul suara menggelegar hebat yang mengagetkan semuanya.


"DUARRR!!!" Guntur itu menggelegar dahsyat. Nyaring dan memekakan telinga.


Semuanya terpana, tak terkecuali jendral Ryu.


Semua mata mendongak ke langit, ke arah belasan gulungan awan hitam yang tiba-tiba datang dan melingkupi Tian.


Beberapa kilat yang disusul guntur menggelegar bermunculan dan saling bersahutan bergantian.


Fenomena aneh dan tiba-tiba itu membuat semua orang saling berbisik dan bertanya. Karena selama beberapa tahun terakhir ini, musim penghujan seolah enggan menghampiri Tian. Meski begitu, sumber air bawah tanah tetap melimpah.


Intinya, negeri Tian tidak pernah kekurangan pasokan air, meski jarang turun hujan.


Tak berapa lama, titik-titik bening kecil mulai berjatuhan dari langit. Masih, membuat semuanya terpana.


Khususnya jendral Ryu. Sang jendral lantas berdiri sambil menyipitkan mata. Dia seolah familier dengan situasi seperti ini.


Dulu. Dulu sekali.


Namun, suara melengking Xu Liang mengambil kembali kesadarannya.


"Jendral!" Xu Liang berteriak. "Nonaku sudah tidak berdaya. Kumohon, hentikanlah hukumannya." ratap Xu Liang dengan suara yang semakin serak akibat terus berteriak sejak tadi.


"Biarkan hamba membawa nona untuk diobati." teriak Xu Liang lagi. Kali ini Xu Liang membungkukkan kepalanya hingga menyentuh tanah yang mulai menghitam basah.


"Hamba berjanji akan menjaga nona agar menjauhi anda. Dan akan mencegah nona untuk kembali ke camp ini. Kumohon jendral!" Xu Liang bangkit dengan punggung tegak, namun kaki masih bersimpuh.


"Ijinkan hamba membawa nona untuk diobati." Xu Liang kembali membungkuk hingga keningnya mencium tanah yang sudah berubah menjadi lumpur karena gerimis mulai berganti menjadi hujan deras.


"Jendral..." Ming Ge menatap junjungannya dengan pandangan memohon. Dia tidak mau lagi menegang cemeti berdarah itu, dan Ming Ge lantas membuangnya ke tanah basah.


Pria itu lantas bersimpuh dan ikut memohon.


Hening. Rahang sang jendral masih mengeras kaku. Namun, mengingat kebaikan ratu Sou Ra, jendral Ryu akhirnya mengangguk lantas kembali menatap awan hitam di atasnya.


"Terima kasih jendral." Ming Ge dan Xu Liang saling menatap sebentar saat mereka berucap hal yang sama bersamaan.


Keduanya lantas berdiri dan mulai membuka ikatan tangan Aran dan memapahnya menuju kereta.


Saat kereta Aran sudah menjauh itulah, hujan berubah semakin deras.


.


.


.


.


.


Side Story'


"Jendral, air hujannya..." Ming Ge bertanya dengan hati-hati.


Jendral Ryu mengangkat satu tangannya mengisyaratkan agar Ming Ge diam.


Ming Ge pun bergeming.


Jendral Ryu mengangkat wajahnya menengadah ke langit. Bajunya sudah basah kuyup sejak tadi.


Perlahan namun pasti, Jendral Ryu mulai membuka mulutnya sedikit, membiarkan tetesan air hujan itu jatuh membasahi lidah.


Asin.


Lantas, sang jendral pun memejamkan mata. Meresapi apa yang baru saja dikecapnya.


Akhirnya.


*****


Ratu Sou Ra memandang bergantian. Antara cawan kecil berisi air di tangannya dan wajah Ah Ma yang menatapnya dengan serius.


Ah Ma mengangguk penuh keyakinan meski wajahnya sudah pucat sejak tadi.


Ratu Sou Ra menyesap air di cawan. Rasa asin itu mendominasi lidahnya.


Kedua bola mata sang Ratu membulat lebar. Keterkejutan mendominasi wajah mungilnya.


"Menurutmu jendral Ryu sudah tahu?"


Ah Ma mengangguk. "Seharusnya sudah, Yang Mulia."


Ratu Sou Ra menganggukkan kepalanya. Lantas berkata.


"Segera terbitkan surat perintah pencarian!"


"Sang Pengantin naga api harus segera ditemukan."


Ah Ma menunduk hormat lantas pamit undur diri.