The Dragon's Bride

The Dragon's Bride
4. Ratu Kerajaan Tian



Aran mendesah sangat pelan. Sudah sepuluh menit lebih tiga puluh tujuh detik.


Duduk bersimpuh seperti ini benar-benar menguras tenaga dan emosi. Apalagi jika cidera cambukan di punggungmu masih belum benar kering. Membuat sekujur tubuh pegal.


Memangnya, untuk apa sih mereka dipanggil? Emosi Aran bersiap untuk naik, namun suara Reya memutusnya.


"Jika tujuan kalian memanggil kami kemari hanya untuk ditonton seperti binatang di kebun binatang, lebih baik biarkan kami pergi."


Aran nyengir dan mengangkat dua jempol tangannya. Daebak!!!


Dan, lagi-lagi...


Hening disertai belasan pasang mata yang menatap penuh curiga.


Benar-benar seperti di pertunjukan sirkus. Hanya tinggal menunggu tepuk tangan saja.


Diacuhkan, Reya memilih bangkit berdiri dan menarik lengan Aran untuk mengikutinya.


"Membelakangi Yang Mulia hukumannya adalah potong kaki."


Suara berat menghentikan langkah Aran dan Reya. Ingin sekali Aran membalasnya, namun Reya lebih gesit.


"Seharusnya kau memenggal kami kemarin, maka kami tidak akan membelakangi junjunganmu hari ini..." ada jeda sejenak sebelum Reya menyelesaikan kalimatnya, "... albino!"


Albino?!


Kata apa itu? Apa maknanya? Tentunya itu sesuatu yang asing dan terdengar baru di telinga jendral Liu.


Ada aura aneh yang tiba-tiba menguar. Tatapan tajam mata Reya jelas sekali menunjukkan ketidaksukaan pada pria bersurai perak itu.


Entah mengapa Reya merasakan perasaan tidak nyaman dengan si pemilik netra abu-abu itu. Seolah dirinya akan lebih sering berurusan dengan pria pucat itu di kemudian hari.


Ugh! Semoga saja dirinya bisa segera menemukan jalan pulang! batin Reya menggigil.


Sementara Aran yang menyaksikan wajah Reya yang seolah sedang berhadapan dengan badai itu, tersenyum. Penuh makna.


Sepertinya akan ada drama yang menarik untuk ditonton diantara keduanya, pikir Aran penuh harap.


Pandangan Aran seketika terpaku saat sosok dewa Yunani versi sempurnanya tertangkap lensa beningnya.


Aiihh... si tampan itu lagi, pekik Aran dalam hati dengan riang.


Baru saja mulutnya hendak menyuarakan tembakan cinta, cengkraman tangan Reya di lengan menguat. Menariknya paksa untuk segera hengkang dari aula yang lebih mirip kotak sirkus ini.


"Tunggu dulu!" suara jernih dan lembut tiba-tiba membius kaki-kaki Aran dan Reya. Keduanya menoleh dan terpaku pada satu sosok dibalik tirai. Yang sadari tadi membisu.


Aran dan Reya menarik kedua alisnya ke atas. Menunggu. Sambil menatap sebuah bayangan dibalik tirai.


"Katakan sekali lagi... Apakah benar... kalian adalah keturunanku dari masa depan?" jelas-jelas nada suara yang meminta kepastian.


Aran dan Reya saling menatap.


"Meski kami mengatakan seribu kali bahwa kami adalah keturunanmu, sepertinya akan sia-sia saja jika dasar hatimu menolak kebenaran ini. Jadi, buat apa kami repot-repot mengatakannya lagi." Reya menguraikan.


"Betul sekali." sela Aran, "bahkan, pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah... apakah Yang Mulia adalah nenek leluhur kami?"


Seketika aura ketegangan mengental di dalam aura.


Aran merasakan itu. Namun, entah karena kulit badaknya atau otak bebalnya, bibirnya tetap nyerocos seperti bebek.


"Karena berdasarkan buku sejarah tentang garis keturunan kekaisaran Tian, nenek buyut kami adalah seorang Ratu yang tegas dan pemberani. Bukannya diam dan bersembunyi di balik tirai. Seperti pengecut."


"Tangkap dua orang penghina Ratu Tian itu!" suara Ah Ma menggelegar di aula.


Sialan! Tua-tua tapi pita suaranya setebal uban di kepalanya.


Tiba-tiba Aran dan Reya dikelilingi sepuluh prajurit bayangan sang Ratu dengan masing-masing mengacungkan pedang mereka ke arah leher Aran dan Reya.


Aish... Baru saja mereka menghirup oksigen kebebasan, sekarang sepertinya akan berkunjung lagi ke pengapnya penjara bawah tanah. Reya menggeleng kepalanya yang mulai nyut-nyutan. Saudaranya ini benar-benar tidak bisa menjaga kondusif situasi yang ada. Sukanya main tabrak saja.


"Berhenti!" suara jernih itu kembali bergema. Detik berikutnya, orang-orang yang mengacungkan pedang ke leher Aran dan Reya menghilang.


"Buka tirainya!"


Tentu saja Ah Ma dengan suka rela menciumkan jidatnya ke lantai. Lalu diikuti pejabat istana lainnya.


"Mohon Yang Mulia bijak."


"Mereka keturunanku, maka mereka juga berhak melihatku."


Seketika hening merajai. Yang terdengar selanjutnya hanyalah suara tarikan tirai yang tergulung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Side Story'


Seolah terhisap tiba-tiba, spontan Aran dan Reya menahan napas saat ratu Sou Ra keluar dari balik tirai.


Anggun dengan saosan biru lautnya yang bergambar ombak putih. Rambut legamnya sepanjang kaki. Halus dan berkilat. Hanya disanggul separuh dan dihiasi mahkota emas berbatu biru dengan roncean kecil serta panjang yang bergoyang dan berbunyi 'cring' saat tubuh mungilnya berjalan. Sisanya dibiarkan tergerai hingga ke ujung kaki.


Poni tebalnya menutupi hampir semua keningnya. Membingkai sempurna kedua netra yang berwarna coklat tanah. Kulit putihnya seperti susu murni. Halus tanpa cacat. Semua yang menatap akan seperti tersihir didalamnya.


Demikian juga dengan Aran Dan Reya.


"Kendalikan dirimu, Aran!" desis Reya sambil meremas pundak Aran.


Aran menggeleng. Tidak bisa!


Mati-matian Aran berusaha menahannya. Dan pertahanannya hampir rubuh.


"Kamu harus kuat! Kamu pasti bisa!" Reya berusaha menyemangati. Tentunya sambil menambah kekuatan cengkraman tangannya.


Gelengan kepala Aran semakin kuat.


Tidak bisa! jiwa Aran menjerit.


"Nenek buyut terlalu imut," desis Aran sambil membekap mulutnya sendiri, "aku tidak tahan, ingin sekali mengucel pipinya yang kenyal seperti marshmello dan memeluk tubuh mungilnya yang seperti boneka Jepang."


"Kendalikan dirimu, Aran!" nada suara Reya mengingatkan.


"Tidak bisa. Aku sudah mimisan." desis Aran sambil membekap hidungnya.


Aaahhh.... dasar lolicon! batin Reya lelah.


#**Hai... hai... hai...


Maaf lama baru bisa update. 🤓


Dikarenakan part ini seharusnya tidak ada, tapi kalo gak ditulis, malah rasanya gak nyambung gimana gitu dengan part selanjutnya.


Lha pas ditulis, malah kram otak (ngeblank) 😅 makanya muter-muter dulu cari inspirasi 😁


Mungkin kerasa agak aneh, tapi, semoga tetep menghibur untuk dibaca 🤗**