The Crystal

The Crystal
8୭̣༉



"Jendela juga!" ucap Juan, baru saja berucap, seekor serigala melompat memecahkan kaca dan menggigit leher salah satu orang yang berada di dekat jendela.


Kacau, semuanya kacau, kita pasti akan mati. Pikir orang-orang yang melihat kejadian tersebut.


"SEMUANYA MASUK KAMAR MASING-MASING TERUS LANGSUNG DIKUNCI!" ucap Juan dan merebut palu yang dipegang haeden.


"Cellyn!" teriak Lishya menghampiri sang adik.


"Sini gua aja yang gendong!" ucap Lishya sudah siap menggantikan Jaeson menggendong Cellyn.


"Nggak usah gua aja" jawab Jaeson.


"Gua aja!" Lishya berlari pincang ke arah Jaeson mencoba merebut Cellyn, namun Jaeson dengan mudahnya menghindar membuat Lishya terjatuh ke depan. Ya, nyungsep.


"Kaki lu lagi luka, yang ada kalian berdua jatoh" ucap Jaeson menatap datar Lishya yang jatuh telengkup di lantai.


"Sialan... Idung gua tambah pesek dah.." gumam Lishya mendudukan dirinya sembari mengelus hidung.


"Em.. Kak? You okay? Gweenchana? Daijobu?" ucap Cellyn sedikit mengintip kebawah dimana Lishya berada.


"Nggak apa-apa kok, cuma nyungsep sampe idung pesek doang"


"Kan lu emang udah pesek"


"Bangsa-" baru saja Lishya reflek berdiri hendak gelud dengan Cellyn, kakinya seakan-akan tersambar listrik dan rasa nyeri juga sakit menjalar hingga lutut.


"Kaki gua-" Lishya berjongkok lalu memegangi kakinya, ia meringis kesakitan lalu menatap tajam Cellyn dan Jaeson tajam.


"Bangsad kau, bucin boleh, tapi jangan menyakiti hati mungiel ku ini dong" ucap Lishya bereaksi seperti wanita sinetron yang tersakiti.


"Lebay" ucap Cellyn dengan wajah datar.


"Gua nggak mau di bilang lebay sama orang yang kepletot dikit langsung mlehoy" ucap Lishya mengundang rasa kesal dari Cellyn.


"Mau berantem disini sampai kapan, hm?" Makhen berjongkok di samping Lishya, lalu menepuk pucuk kepalanya.


"Nggak liat tuh serigala udah makan 3 orang? Yang lain juga udah pada masuk kamar masing-masing" Makhen menarik pipi Lishya gemas dan kesal menyatu.


"Oke! Kita lawan!" kali ini Lishya berdiri dengan benar, ia kembali memegang sapu yang mengingatkan akan pukulan emak.


"Mending lari aja sono balik ke kamar, apa mau di gendong?" tanya Makhen, Lishya berkacak pinggang dengan pandangan serius.


"Nggak apa-apa, aku setrong" ucap Lishya membuat Jaeson, Cellyn dan Makhen menatap tak yakin.


"Ya udah aku juga setrong" ucap Cellyn turun dari gendongan Jaeson lalu mengambil pel yang di berikan Lishya dengan bertingkah seperti drama drama, dan di balas juga seperti drama oleh Cellyn, sangat drama bukan? Mereka bertingkah seperti ini saat-saat terakhir mereka hidup.


Tanpa mereka sadari ada seorang Wanita lebih dulu maju dari mereka dan menebas kepala serigala dengan pedang sangat mudah. Lishya dan Cellyn terdiam dengan mulut terbuka, menatap kagum Wanita di depan mereka yang menoleh dengan wajah terdapat sidikit bercak darah.


"KEREEEN!" ucap Lishya dengan lantang. Wanita itu menatapnya, lalu tersenyum.


"WOY! JANGAN MALAH NGOMONG SAMA POHON, GEBLEK!" Haeden menjitak Jidan, karna harusnya mereka segera menutup jendela yang sudah pecah, tapi Jidan malah pergi ke pojokan dengan pohon sementara yang punya palu saat ini hanya dia.


"Palu gua di pake Juan buat getokin uler lagi" batin Haeden menghela nafas kasar, apalagi saat melihat adegan romantis di saat genting seperti ini membuat darahnya meninggi ingin membanting Handphone seseorang.


Jidan termenung sementar, lalu akhirnya sadar dengan keadaan panik, bukannya menutup jendela dengan kayu ia justru menabrak pohon di depannya. Haeden memasang wajah datar, begini amat ngurusin bayi titan, pikirnya.


"Sini gua aja!" ucap Haeden mengambil palu milik Jidan, memukul beberapa ular yang berusaha memasuki jendela dan segera menghalau mereka dengan kayu yang sudah di paku.


"Bye bye, you are going mati now, yang tenang di haeven ya" ucap Cellyn mendorong lemari agar menibani ular-ular yang sudah masuk penginapan dalam jumlah yang banyak.


"Gua tau lu nggak terlalu pinter bahasa inggris, tapi nggak gitu juga lah anjir. Yang bener tuh, omae wa mou, shindeiru"


"Ih wibu"


"Berisik wibu" Lishya mengambil mayat ular yang sudah ia injak kepalanya dan melemparkan itu ke Cellyn membuatnya teriak histeris.


"Udah, sama sama wibu tidak usah meledek wibu"


"Lu... Ngapain disini?" tanya Cellyn.


"Bantuin kalian lah" Amaya melemparka beberapa tingkat besi yang ujungnya tajam ke Lishya, Cellyn, Makhen, dan Jaeson.


"Lu dapet dari mana?..." ucap Lishya terheran-heran.


"Husss, jangan bersisik, nanti jadi mermed. Bantuin tuh mbak-mbak, gua emang udah kasih dia pedang tapi tetep aja dia bisa kecapean" ucap Amaya menunjuk wanita yang di kagumi Lishya dan Cellyn tadi. Ia sedang mengelap keringat yang berucucuran ke lehernya, dan Lishya justru menatap itu kagum.


"Gila tuh mbak-mbak, cakep banget"


"Kak... Lu lesbi?"


"Matamu sini ku colok"


"Udah jangan berantem woy! Lu Lu yang disono! Ada lubang di pintu belakang, tutup sana!" ucap Amaya menunjuk Haeden dan Jidan, yang di tunjuk kebingungan, namun dengan segera berlari ke pintu belakang penginapan.


"Hm? Kok lu bisa tau?" Makhen menatap Amaya bingung.


"Hm" jawab Amaya membuat Makhen menatapnya curiga.


"Pantesan dari tadi gua getokin uler gak abis-abis..." ucap Juan yang sudah kesal dengan aksi pergetokannya yang tak kunjung selesai.


"Neng, bantuin saya dari belakang ya, ngeri tuh uler matok tiba-tiba hehe" ucap wanita yang memegang pedang tersebut. Lishya dan Cellyn saling pandang, lalu mengangguk dan menjaga wanita itu dari belakang.


"Mbak jago pedang mbak, keren ugha" ucap Cellyn memukul ular tepat di kepalanya dan menendang ular itu menjauh menjadi tumpukan mayat. Berbeda dengan Lishya, gadis itu justru menusuk-nusuk ular yang mendekat dengannya hingga seperti sate ular siap di makan. Kalo siap makan berarti siap keracunan juga.


"Namanya siapa Mbak?" tanya Lishya sembari memperbaiki posisi tusukan sang ular hingga benar-benar mirip seperti sate.


"Nama saya Shin Ryumi, kalo kalian?"


"Panggil aja Lishya, dan ini adik sepupu saya Cellyn" ucap Lishya yang justru malah asik mengobrol dengan wanita yang kita ketahui namanya ada Ryumi.


"Betul betul betul!"


"Lu ngapain ngikutin kartun hah?"


"Karna saya cantik"


"Najis"


"Pfft-, ahahaha, kalian adik kakak yang unik ya. Saling mencaci maki" ucap Ryumi sembari menyisir rambutnya kebelakang. Melihat keadaan sekitar yang sudah aman dari puluhan bahkan ratusan ular, ia sedikit tenang. Ia sedikit tertawa ketika melihat Jaeson, Juan dan Makhen menata mayat ular seperti permainan ular tangga di lantai yang kebetulan berbentuk kotak-kotal, serta Haeden dan Jidan sedang bertengkar berebutan Palu.


"Kalian aneh, lagi situasi kaya begini malah santuy. Padahal aku udah panik kalang kabut..." ucap Ryumi lagi-lagi terkekeh.


"Padahal wajah mbak Ryumi tadi cool banget, cantik lagi" ucap Lishya membuat Ryumi sedikit malu, Cellyn menggangguk semangat.


"Pas ngayunin pedang, mbak tuh kaya wuss! Terus wiuus! Shuiuiush!" ucap Cellyn sembari mengayinkan tongkat besinya dengan mulut maju kedepan.


"Lu ngapain sih?... Kasian mayat ulernya, kena hujan jigong lu" ucap Lishya menggeleng-gelengkan kepala.


"Cot"


"Ada yang kita harus omongin" Amaya duduk bersila di lantai menatap mereka serius. Ryumi, Lishya dan Cellyn terdiam, lalu dengan wajah yang ikut serius mereka duduk bersila di depan Amaya. Para lelaki yang masih di luar kamar melihat dengan pandangan penasaran ke arah mereka, lalu ikut duduk mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.


"Ayo kita bahas soal pembunuhan ini"


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...



...


...Shin Ryumi...