The Crystal

The Crystal
2୭̣༉



"WAIT WHAT?! PENUH?!"


"Kenapa sih lu kak teriak-teriak" ucap Cellyn kaget karna sang kakak sepupu yang tertiba-tiba teriak bak toa ambulan.


"Ya masa tiba-tiba penginapan nya penuh sih padahal kan waktu itu gua sama Om Chanyeol udah booking" ucap Lishya dengan raut kesalnya.


"Terus sekang kita gimana mau cari penginapan lain?" Saran dari Amaya yang sedari tadi berfikir supaya acara liburan mereka tidak batal. Katanya kasian, soalnya Maya udah nunggu hari ini sampe nggak bisa tidur.


"Nggak pokoknya gua mau tetep dipenginapan ini!" ucap Lishya kekeh dengan pendiriannya.


"Maaf Kak tapi penginapan ini sudah penuh karna ada tamu spesial, jadi tempat yang anda booking terpaksa dipakai. Jika Kakak mau, kita memiliki villa kamar di tempat yang agak terpencil dekat sini" ucap pelayan pria itu dengan sopan dan senyuman ramah.


"Gimana mau nggak, kalo gua sih okeh aja yang penting nyaman terus bersih dan kualitasnya nggak beda sama yang disini" ucap Cellyn menenangkan sang kakak yang sedang di balut amarah.


"Ya udah kita ambil villanya, tapi saya mau kualitas dan pelayanan nya harus sama seperti yang ada disini" setelah menenangkan diri Lishya berucap.


"Baik Kak, mari ikut saya biar saya tunjukan villanya" ucap si pelayan dan berjalan lebih dulu masih dengan senyuman yang sama.


Pada akhirnya Lishya, Cellyn, Maya, dan Amaya pergi mengikuti pelayan hingga sampai disebuah villa yang terlihat antik. Di perjalanan cukup aneh karna memasuki hutan dan jaraknya bisa dibilang jauh tidak seperti yang dikatakan pelayan itu. Bahkan Cellyn dan Maya sudah berteriak berkali-kali karna melihat hewan liar seperti ular, laba-laba, juga beberapa tanaman merambat yang bersentuhan dengan kepala mereka.


"Ini Kak villa nya dan ini kunci untuk kamarnya, jika mbak ingin sesuatu disetiap ruangan kami menyediakan bell yang akan langsung menuju penginapan utama, dan kamar Kakak ada di lantai paling atas, saya permisi ya Kak" setelah sang pelayan menerangkan tentang villa tersebut ia pun kembali ke villa utama.


"Tuh orang kebal banget ngelewatin hutan berkali-kali" ucap Amaya, lalu beralih melihat villa yang mereka tempati. Seperti gedung hotel, dengan 3 lantai dan balkon di setiap kamar. Namun, gedung itu terlihat cukup tua dengan tanaman merambat dan beberapa bunga juga pohon hias untuk memperindah tempat.


"Udah ayo masuk" ajak Cellyn karna sedari tadi kakak dan teman-temannya hanya menatap villa itu dengan tatapan heran.


Dan ketika Cellyn ingin membuka pintu alangkah kagetnya ia yang hampir saja menabrak dada bidang seorang pria, dan ketika ia melihat wajah seorang yang ingin ia tabrak tadi, dia terdiam dengan mulut sedikit terbuka.


"Anjir ganteng banget, pangeran dari kayangan kah?" ucapnya tanpa sadar sembari melihat kegantengan sang lelaki tanpa berkedip.


"Bisa minggir? Gua mau lewat" ucap sang laki-laki membuat Cellyn tersadar dari lamunannya dan segera menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi jalan laki-laki itu. Laki-laki yang baru saja berbicara hanya menatap Cellyn dingin dan berlalu pergi dengan beberapa laki-laki menyusul di belakangnya.


Jika Cellyn berfokus pada laki-laki yang baru saja hampir ia tabrak dan juga satu laki-laki lain yang tersenyum padanya, justru atensi Lishya terfokus pada lelaki yang sedang mengunyah sepotong semangka. Imut, pikir Lishya.


"Bukannya itu cowo-cowo yang waktu itu?" gumam Amaya kecil hampir tak terdengar.


"Udah lah, jangan liatin cowo mulu, mending kita berenang" lanjut Amaya dengan suara yang lebih terdengar sembari menjitak Maya yang termenung sama seperti Cellyn karna melihat banyak laki-laki tampan.


"Mereka terlalu tamvan dan menggoda untukku berpaling" ucap Cellyn.


"ANJAAAAY" ucap Cellyn dan Lishya serempak.


"Gua tinggal aja lah" Amaya menarik lengan Maya dengan wajah datar tertekannya karna ulah temannya yang berakhlak minus. Lishya yang tak mau di tinggal, berlari mengejar si kembar, meninggalkan Cellyn yang panik karna di tinggal sendirian.


"IIH KAK LISHYA JANGAN TINGGALIN AKUU!" teriak Cellyn sembari berlari mengejar Lishya. Setelah mereka sampai di kamar, Cellyn, Amaya, dan Maya bersiap-siap untuk berenang sedangkan Lishya guling-gulingan di kasur.


"Woy, ayo siap-siap kan kita mau benerang nyed" Cellyn menarik-narik kaki Lishya agar beranjak dari kasur, namun karna kecintaan Lishya pada kasur dingin nan empuk membuatnya sangat menempel dengan kasur seakan kasur adalah pujaan hatinya.


"Gua bakar PC bias lu nih" lanjut Cellyn, mengambil dompet Lishya yang terdapat PC biasnya.


"Gua bakar lu idup-idup" Lishya beranjak dari kasur, merebut dompetnya dan menampar bokong Cellyn membuat sang pemilik mengaduh kesakitan. Lishya membuka hoodie oversizenya dan terlihat baju renang yang sudah tersambung dengan celana juga rok pendek yang juga tersambung pada celana.


"Gua kira lu mau pake bikini" ucap Cellyn tersenyum meledek ke Lishya.


"Lu mau gua di tabok Nenek hah?"


"Pfft- bukan di tabok lagi sih, di geplak pake sapu mungkin"


"Lu aja deh, gua sih no"


Saat Lishya dan Cellyn sedang berbincang tentang Nenek mereka, Amaya menoleh kesana kemari mencari adiknya yang entah sejak kapan menghilang.


"Maya kemana sih? Cari sono Cell, ntar kalo hilang kan nggak lucu apalagi dia nggak tau daerah sini" suruh Amaya agar perdebatan antar sepupu itu berhenti.


"Ih anjir baru juga mau OTW berenang"


"Cari aja dulu, jarang jarang Amaya nyuruh lu kan" ucap Lishya.


"Iya dah, kan gua anak rajin dan baik"


"Iya nona Lishya Elara Devansyah" setelah itu, Cellyn berlari keluar kamar mencari Maya.


"MAYA LU DIMANA?!"


Cellyn yang berfikir jika Maya sudah duluan ke kolam renang pun bergegas menyusul Maya.


Sedangkan disisi lain, Maya yang merasa namanya di panggil pun keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas ke kolam berenang, tetapi ketika saat ingin berlari, tanpa sengaja Maya menginjak sebuah benda yang keras yang membuat gadis imut itu melompat-lompat seperti kangguru sembari memegang kakinya yang sakit.


"Shh, aw aw, Ini apaan sih? siapa lagi yang buang batu sembarangan di lantai" ucap Maya sembari melihat apa yang ia injak tadi.


"Eh, tapi batunya bagus" lanjutnya menatap kagum batu tersebut.


Mendengar suara Maya yang tak jauh, Cellyn menoleh ke arah kamar mandi dan melihat Maya yang matanya bersinar-sinar.


"MAYA LU DISINI GUA CARIIN DI KOLAM EHH MALAH NYASAR DISINI" ucap Cellyn yang kesal karna seorang yang ia cari ternyata baru kelar dari kamar bilas.


"Eh Cellyn ngapain nyariin Maya? Tadi Maya mau ke kamar mandi di kamar kita tapi ada orang, jadi Maya kesini deh" tanpa sadar Maya memasukan batu itu kedalam tas yang berisikan baju bersih untuk bilas setelah berenang.


"Disuruh kembaranmu tuh" jawab Cellyn menunjuk Amaya dan Lishya yang sedang melompat memasuki kolam renang.


"WAAAH DINGIIIN" ucap Lishya memepuk diri sendiri.


"Iya.. Dingin banget..." Ucap Amaya yang sedikit menggigil. Lishya yang melihat itu pun mendekat ke Amaya dan memeluknya.


"Dih, ngapain peluk-peluk?" tanya Amaya dengan wajah datarnya sudah pasrah di peluk.


"Biar nggak dingin hehe" Jawab Lishya. Dan tak lama setelah itu, mereka berdua diguyur air yang terciprat karna Cellyn dan Maya melompat masuk kolam renang.


"CURANG NGGAK NGAJAK MAYA!" ucap Maya ikut memeluk Amaya.


"IKUT IKUUUT!" Cellyn pun ikut memeluk mereka dari belakang dengan erat.


"WOY SESEK!" Lishya mencoba meronta namun bukan Cellyn namanya jika tenaganya tidak seperti seekor gorila.


"AAAAARG" dibalik teriakan kesakitan Lishya dan Maya yang juga ikut mulai sesak. Diam-diam Amaya tersenyum kecil tanpa di ketahui siapa pun.


"Hangat" batin Amaya.


Setelah sesi berpelukan, Lishya tiba tiba merasa punggungnya berat, ternyata Cellyn naik ke punggung sang gadis dengan cengiran khas.


"WOY NGGAK SADAR LU BERAT YE?!"


"JALAN KUDA! NYIHAA!" ucap Cellyn bertingkah seperti menaiki kuda asli.


"Maya mau juga!" Maya menaiki punggung Amaya membuatnya hanya bisa menghela nafas entah untuk keberapa kalinya hari ini.


"Kita lomba siapa duluan yang sampai ujung kolam renang disana!" lanjut Maya menunjuk ujung kolam renang di hadapan mereka yang jaraknya cukup jauh. Lishya dan Amaya saling bertatapan, lalu Lishya menyeringai.


"Siapa takut" ucapnya menatap remeh Amaya.


"Gua sih enggak" jawab Amaya dengan wajah datar andalan tapi matanya menyiratkan kesombongan.


"Satu... Dua... Tiga!" hitung Maya, Lishya dan Amaya pun berusaha berlari di dalam air agar mencapai ujung kolam meski dibebani oleh manusia di punggung mereka. Saat sudah di tengah perjalanan, Lishya unggul jauh dari Amaya dan Maya.


Namun tiba-tiba kelompok laki-laki yang tadi berpapasan dengan mereka memasuki kolam renang, dengan beberapa yang telanjang dada, dan ada juga yang memakai baju renang hitam ketat memperlihatkan lekuk tubuh. Seketika, Lishya dan Cellyn terdiam terkagum-kagum sampai Lishya lengah dan terpeleset di kolam renang membuat keduanya tenggelam.


"BLUPBLUBLUBLUP!! OHOK OHOK! KAK JALANNYA YANG BENER DONG!" ucap Cellyn setelah berdiri tegak agar tidak tenggelam sembari mengusap matanya yang cukup perih. Setelah membuka mata untuk melihat Lishya, justru yang ia temukan adalah Lishya mengambang terbalik dengan wajah dalam air.


"EH- KAK LISHYA?!" Cellyn dengan paniknya membawa Lishya ke pinggir kolam terdekat dan menampar-nampar pipinya.


"SADAR KAK! NANTI AKU NGGAK ADA TEMEN MAIN PLUS GELUD WOY" ucap Cellyn masih menampar-nampar pipi Lishya hingga merona merah. Tunggu, pipinya memang sudah memerah sejak mereka tenggelam.


"Mleyot gua..." gumam Lishya menutup mukanya yang semakin memerah.


"Njir..."


......꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱......