The Crystal

The Crystal
7୭̣༉



"Gua balik ke kamar ya. Udah kemaleman, dadah, sampe ketemu besok. Eh, maksud gua nanti pagi haha" ucap Lukaf lalu kembali ke kamarnya, mereka hanya melambaikan tangan menjawab lambaian tangan Lukaf. Namun, baru saja mereka menurunkan tangan, suara ledakan terdengar dan pintu kamar nomor 3 hancur dengan api ledakan yang keluar dari dalamnya.


"Lukaf?.."


"LUKAF?!"


Lishya dan Cellyn berdiri, lalu berlari menuju ke kamar Lukaf meski Lishya berlari kaki yang pincang. Kedua gadis itu mengintip isi kamar Lukaf, dan isinya, hancur lebur hanya menyisakan barang-barang yang terkoyak.


"Lukaf dimana?..." gumam Cellyn mencari Lukaf di kamarnya.


"C-cell..." Lishya menepuk bahu Cellyn, menunjuk tepat di samping Cellyn dimana Lukaf bersandang pada dinding dengan banyak Luka dan darah bercucuran, terutama dari dada kirinya yang tertancap kaca.


"Lukaf!" mereka menghampiri lelaki itu, Cellyn pun mengecek denyut nadinya di tangan.


"Cell... Dia udah meninggal, jantungnya ketusuk kaca.." lirih Lishya, Cellyn melihat lagi sekeliling kamar Likaf, penuh kaca yang menamcap di dinding. Seketika, tubuh Cellyn melemas, matanya memanas, perkataan Lishya yang sebelumnya terus terngiang di kepalanya. Ia mulai tak yakin, bahwa akan aman berada disini.


"Kenapa bisa?..." Jidan yang baru masuk melihat sekitarnya, dirinya terheran-heran dengan kejadian yang sangat mendadak ini.


"Pasti bom" ucap Makhen mengepalkan tangannya kesal. Begitu pula dengan Juan.


"Oh... Bomnya di taruh di dalam kotak kaca ya..." ucap Jaeson membuat semuanya menoleh dengan wajah penasaran. Jaeson yang mengerti tatapan itu pun menghela nafasnya dan menunjuk ke arah tengah ruangan yang ada bercak hitam.


"Disana, ada bekas ledakan bom" ucap Jaeson lalu menunjuk salah satu kaca yang menancap di dinding.


"Kaca yang menancap ini terpental karna ledakan, perkiraan gua sih biar pecahan kacanya nyebar keseluruh ruangan, bomnya di taruh di dalam kotak kaca" Jaeson mulai menjelaskan memperkirakan apa yang baru saja terjadi.


"Kok lu tau?... Apa jangan jangan lu yang-"


"Jaeson emang pinter" ucap Makhen memotong ucapan Lishya, gadis itu hanya menatapnya heran, lalu menghela nafas berusaha tak mencurigai temannya.


"Dia anak detektif soalnya, jadi udah biasa ngeliat kasus kaya gini" Juan mendekati mayat Lukaf, lalu menutup matanya yang kasih terbuka sedikit. Ia menghela nafas menatap sendu Lukaf, lalu menutup wajah Lukaf dengan kain putih yang kebetulan ada di kamar Lukaf.


"Baru aja temenan..." gumam Jidan menatap Lukaf dengan mata berkaca-kaca.


"Kita harus basmi pembunuhnya, kalo enggak kita bakal mati disini" lanjut Jaeson bersandar pada pintu sembari bersedekap dada. Semuanya mengalihkan antensi ke Jaeson.


"Ngapain kita basmi?! Mending kita minggat aja dari nih penginapan pembawa sial!!" tanpa mereka sadari, ternyata orang-orang sudah keluar kamarnya masih-masing karna ledakan yang ditimbulkan di kamar Lukaf.


"Iya kita pergi aja!" ucap orang lain menyahuti, lalu mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk berkemas dan pergi. Lishya dan yang lainnya keluar dari kamar Lukaf, mereka melihat orang-orang yang berjalan keluar dari penginapan dengan wajah marah dan ketakutan.


Mereka sudah menghubungi penginapan dengan memencet bel selama dua kali pembunuhan, namun penginapan sama sekali tidak menanggapi dan membiarkan 3 orang mati mengenaskan.


"Kita juga harus pergi" Lishya menggenggam tangan Cellyn, lalu menariknya.


"Oh... Amaya, Maya, ayo kita juga pulang" Lishya menunjukan senyumnya, namun mereka tau, kalau Lishya sedang memaksakan hal tersebut. Cellyn hanya bisa diam, memikirkan kenapa nasibnya menjadi seperti ini. Lishya kembali menarik tangan Cellyn, namun, suara teriakan terdengar dari luar membuat mereka terkejut.


Sontak, orang-orang yang masih di dalam berlari keluar. Semuanya terkejut, membeku, dan tak sanggup berkata-kata kala melihat seorang ibu-ibu yang di terkam harimau.


"A-.. AAA!" salah seorang lelaki mulai panik membuat orang-orang melihatnya, ia berlari ke arah kanan menjauhi harimau tersebut. Saat berhasil melompat melewati pagar, sesuatu terjatuh dan melilit di lehernya.


"AARG! ULAR!" lelaki itu menarik ular yang melilit di lehernya, namun yang ia tarik adalah buntut sang ular membuat ular tersebut mematuk tepat di mata kanannya.


Lagi-lagi korban menambah, Maya memeluk lengan Amaya, dirinya kembali ketakutan ketika lelaki tersebut di lilit tak hanya satu ular, namun lebih dari 5.


"K-kak Ama-" saat menoleh ke kiri, Maya mendapati seekor seringala melompat kearahnya dan siap menerkam. Amaya yang melihat hal tersebut memeluk Maya untuk melindungi sang adik, hampir saja punggungnya terkena cakaran sang seringala, namun serigala itu terpental jauh setelah terpukul sapu dengan sangat kencang.


"AMJINK LO! MATI LO! JANGAN DEKET DEKET TEMEN GUA ******!" sembari menginjak-injak serigala itu, Lishya memarahi dan juga memukul membuat serigala itu berlari ketakutan.


"Lo nggak apa ap-" baru saja ada ular yang ingin mematuk Lishya, Cellyn melempar tong sampah ke arah ular tersebut, dan membuatnya terhempas.


"Itu serigala bukan anjink, Kak" ucap Cellyn memegang pel dengan tangan bergetar. Lishya tersenyum, lalu menarik nafas panjang.


"MASUK KE PENGINAPAN SEKARANG, TOMLOOOL! MALAH PADA BENGONG! INI BANYAK HEWAN LIAR WOY PLIS LAH YAA!!!" dengan suara menggelegar Lishya berteriak membuat orang-orang tersadar dari lamunannya menatap ibu-ibu yang separuh badannya sudah dimakan.


Saat mereka tersadar, mereka pun berteriak dan masuk ke penginapan dengan langkah cepat. Ada yang beberapa terbunuh oleh beruang mengamuk, ada juga yang hanya terluka karna serangan ular. Yang harusnya malam sepi dan tenang, kini harus terisi oleh teriak-teriakan orang yang lari dari serangan hewan buas.


"Oanjir... Hewan buasnya banyak banget ***" ucap Lishya menodongkan sapu di genggamannya, begitu pula dengan Cellyn.


"Udah pada masuk kan ya?.." ucap Cellyn dan di jawab anggukan dari Lishya.


"Kita masuk dalam hitungan, satu... Dua... Tiga!!" Cellyn dan Lishya berlari sekuat tenaga memasuki bangunan. Namun Cellyn tersandung, Lishya yang hendak menutup pintu melihat Cellyn di dekati oleh beruang besar.


"K-kak Lishya..." Cellyn menatap beruang di hadapannya, dan mundur dengan keadaan masih terduduk di tanah.


"CELLYN!" Lishya bergegas menghampiri Cellyn, namun Makhen menarik tangannya mencegah agar dirinya tak terluka.


"LEPAS! ADEK GUA-"


"Tenang, biar dia aja yang urus" sesaat setelah Makhen berbicara, Lishya melihat siluet seseorang yang berlari keluar. Lishya menoleh ke arah dimana Cellyn berada, ia hampir saja di cakar jika sang sosok yang Lishya lihat tak memotong lengalengan beruang itu.


"Bangun, lemah banget lo" ucap sang lelaki.


"Jaeson..." lirih Cellyn, Jaeson menarik lengan Cellyn agar berdiri, dan Cellyn hanya bisa berterima kasih terus menerus membuat Jaeson menghela nafas dengan wajah datarnya. Melihat beruang yang kembali menyerang, Jaeson mengangkat pedangnya dan kembali mengayunkan menebas kepala si beruang.


"Eh? Dari mana pedang-"


"Udah lari cepet!" Jaeson menarik lengan Cellyn, namun Cellyn yang kakinya sakit hanya bisa berlari dengan pincang. Karna merasa kesal, ia pun menggendong Cellyn bridal style dan berlari memasuki bengunan. Dengan cepat Lishya menutup pintu dan menguncinya, Jidan dan Haeden yang sudah siap dengan kayu, palu dan paku memperkuat pertahanan pintu.


"Jendela juga!" ucap Juan, baru saja berucap, seekor serigala melompat memecahkan kaca dan menggigit leher salah satu orang yang berada di dekat jendela.


Kacau, semuanya kacau, kita pasti akan mati. Pikir orang-orang yang melihat kejadian tersebut.


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...