
Mata mereka terbelalak, mereka melihat seorang perempuan. Yang terjun bebas dari lantai 3.
Saat dia sedang terjun, pembatas rooftop yang patah ikut jatuh bersamanya. Dengan cepat, perempuan itu mengikuti gravitasi menuju tanah membuat darahnya berceceran dan tulang-tulangnya patah.
Lagi-lagi Lishya melihat hal mengejutkan, perempuan itu yang baru saja berpapasan dengannya di tangga, namun dalam hitungan menit perempuan itu sudah tak bernyawa tepat di depan matanya. Bukan hanya terjatuhnya perempuan itu yang membuat Lishya terkejut, tapi pembatas besi yang ikut terjatuh dengan perempuan itu menancap di bagian lehernya membuat kepalanya putus tepat setelah dia terjatuh.
Tubuh Lishya bergetar hebat menyaksikan kepala yang menggelinding menghampirinya. Ia mundur perlahan namun justru menabrak dada bidang Makhen. Makhen yang melihat reaksi itu melindungi Lishya di balik punggunya, tak membiarkan sang gadis menatap kepala buntung tersebut.
"Hyung, tolong bawa dia masuk" ucap Makhen menatap Juan dan di jawab anggukan. Juan menutup mata Lishya dan merangkul bahunya membawa masuk ke dalam penginapan.
"KAK LISHYA!" suara teriakan terdengar dari tangga, disana ada Cellyn yang menunjukan wajah khawatirnya bersama Amaya yang hanya diam tak berkutik. Dengan langkah cepat Cellyn berlari menuruni tangga mencoba menghampiri Lishya.
"T-tadi ada cewe jatoh dari rooftop, dia masih selamatkan?!" Cellyn memegang kedua bahu Lishya, namun dirinya langsung tau jawaban tersebut dari raut wajah sang kakak sepupu.
"Aku baru buka pintu rooftop.. Tapi cewe itu senderan ke pembatas terus BRUK! Pembatasnya patah! Terus uwiii! Dia terbang eh- DIA JATOH!" ucap Cellyn dengan paniknya menjelaskan keadaan yang ada di depannya tadi. Dan karna semua orang mendengar suara dari halaman depan, semua nya pun keluar untuk memastikan tetapi malah mendengar cerita yang Cellyn ceritakan.
"Jadi, kamu juga tadi ada di tempat kejadian juga? apa jangan-jangan kamu yang udah dorong dia?" ucap seorang ibu-ibu yang menuduh Cellyn sebagai pembunuhnya.
"What?! Gua pembunuh?! Yaampun kalo ngomong tuh dijaga liat darah aja gua ketar ketir apalagi buat ngebunuh orang, nggak usah asal tuduh gua nggak suka di tuduh-tuduh!" ucap Cellyn membela dirinya.
"Loh ini buktinya kamu mengelak dan malah kembali mmemarahi saya! Jika kamu bukan pembunuhnya kamu nggak akan marah-marah!"
"Jelas dong orang mana sih yang mau harga dirinya di injek-injek apalagi di fitnah kaya gini! lain kali kalo punya otak tuh dipikir jangan dianggurin doang! Udah tua bukannya mikir, Tolol!" ucap Cellyn marah karna sang ibu-ibu itu tetap keras kepala menuduh Cellyn sebagai pembunuhnya.
"Dasar kamu anak yang tidak tahu sopan santun! Berani sekali membentak orang tua!"
"Pfft- bangga jadi tua?"
"Benar-benar tidak sopan kamu ya! Orang tua kamu yang mengajarkan? Ck, ngurus anak aja nggak bisa, berarti mereka emang nggak pantes jadi orang tua" mendengar hal itu, Cellyn dan Lishya mengepalkan tangannya kesal.
"NGGAK USAH NGATAIN ORANG TUA GUA BISA? Lu nggak pantes untuk di hormati dan gua nggak sudi untuk meng-"
"SUDAH, NGGAK USAH BERDEBAT! Sudah kalian tidak perlu asal menuduh biar kita dengar dulu penjelasan Cellyn" ucap Juan melerai pertengkaran antara Cellyn dan ibu-ibu itu.
"Dasar anak zaman sekarang tidak tau sopan santun" ucap ibu-ibu itu sembari meninggalkan tempat perkara pertengkaran. Lishya menatap ibu-ibu itu dengan penuh kemarahan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karna orang tuanya mengajarkan bahwa lebih baik diam saat berhadapan dengan kemarahan orang tua.
"Gua denger apa yang lu bila-" belum selesai berbicara, Cellyn di tenggelamkan dalam dada bidang Juan supaya berhenti bicara. Di saat yang bersamaan, Jaeson dan Makhen masuk ke dalam penginapan melihat pemandangan yang membuat mereka manatap Juan muak.
"Kesempatan dalam kesempitan, dasar buaya" batin keduanya.
"Udah nggak usah diladenin entar lu makin jadi tersangka" ucap Juan memeluk sembari mengelus kepala Cellyn agar sang puan tenang.
"Gua nggak terima dikatain pembunuh!" Cellyn mendorong Juan agar terlepas dari pelukan yang membuatnya sesak nafas itu.
"Udah, mending ceritain kenapa lu ada di rooftop" ucap Jaeson yang malas mendengar perdebatan lagi semenjak masuk penginapan.
"Gua gabut, soalnya kak Lishya ninggalin gua, yaudah deh gue pergi ke rooftop, pas baru buka pintu gua ngeliat mbak-mbak lagi baca surat gitu sambil senderan di pembatas terus pembatasnya patah terus dia tiba-tiba jatuh gua nggak tau apa-apa soal itu" ucap Cellyn menceritakan kejadian saat dia pergi ke rooftop.
"Yaudah kalau gitu dapat disimpulkan kalau kejadian tadi itu kecelakaan bukan salah adik gua" ucap Lishya yang sedari tadi menyimak cerita Cellyn.
"Ya sudah, semuanya kembali kekamar masing-masing biar kasus ini di selidiki lebih lanjut" ucap Makhen membubarkan kerumunan.
"Kak, Maya takut, mau pulang" ucap Maya yang ketakutan dan memeluk lengan Amaya dengan tubuh gemetar dan Amaya pun mengelus-elus lembut tangan Maya.
"Kalian nggak akan di biarkan meninggalkan tempat kejadian oleh polisi" ucap Makhen yang menjelaskan situasi sembari mengelus kepala Lishya yang diam karna kejadian tadi terus-terusan berputar di benaknya, dan makhen tau itu, makanya ia menenangkan sang gadis. Sedangkan Cellyn? Ia ditenangkan oleh Juan.
"Udah Cell jangan marah-marah ntar cantik nya hilang loh emang mau cantiknya hilang?" ucap juan menggoda Cellyn yang masih terlihat kesal dengan tuduhan yang diberikan kepadanya.
"Apaan sih lu lawak banget, nggak lucu tau" ucap Cellyn yang amarahnya sudah tak tertahankan, lalu meninggalkan lima pria itu, kakaknya dan Si kembar Maya dan Amaya.
"Yaudah mending kalian susul Cellyn sekalian menenangkan diri" ucap Makhen yang berhenti mengelus kepala Lishya dan dibalas anggukan oleh ketiga gadis tersebut.
...𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ⊹ 𖡼.⊹ᤳᤳᤳ...
Dikamar mereka Cellyn yang marah pun melampiaskan amarahnya dengan memakan cemilan miliknya.
"Lu nggak apa-apa Cell?"
"Nggak, emang gua kenapa?" ucap Cellyn yang menjawab pertanyaan Amaya sembari memakan cemilan yang ia pegang dan sekarang sudah berada di tangan Lishya.
"Terus Cellyn kenapa ninggalin kita di bawah?" ucap Maya
"Ya gua kesel aja udah abis dituduh terus digombalin buaya darat"
"Kan lu juga buaya beg0" ucap Lishya sembari menempeleng kepala Cellyn.
"Anj jangan main kepala dong, lagian lu bilang gua apa? Buaya? Gua bukan buaya njir" ucap Cellyn yang membela sifat playgirl nya.
"Kalau lu bukan buaya apa? Biawak?"
"Kadal kak hehehe" ucap Cellyn dengan tangan yang membentuk huruf V.
"Sekalian aja komodo"
"Bukannya itu merek odol gigi anak?"
"... Cel, bego boleh, tapi jangan tolol juga dong, itu kodo-"
"Udah-udah nggak usah berantem Maya laper nih belum sarapan"
"Makan ini aja dulu" ucap Amaya memberikan roti kepada Maya, ia yang terlihat senang diberikan makanan pun membuka bungkusan roti tersebut dan membelahnya menajadi dua.
"Wah, isi stowberry, nih sebelah lagi buat Amaya" ucap Maya lalu memberikan potongan roti ke saudari kembarnya. Lishya yang melihat itu terdiam menatap selai yang berada di roti, karna warnanya merah, itu mengingatkan Lishya dengan darah korban yang terciprat kemana-mana bahkan hampir mengenai kaki Lishya sendiri.
"Kayanya... Gua bakal trauma sehabis keluar dari penginapan ini.. Itu pun kalau Gua emang selamat" Lishya menunjukkan senyum sendunya. Cellyn, Amaya dan Maya yang melihat itu terdiam.
"Kakak bakalan selamat kok" Cellyn merangkul Lishya dengan senyuman lebar menyemangati sang sepupu.
"Iya kah?... Entah kenapa aku nggak yakin, orang-orang udah pencet bel tapi nggak ada balasan apapun dari pihak villa, padahal udah seharian kita nungguin mereka tapi nggak dateng juga... Ada yang aneh sama penginapan ini.." ucapan Lishya membuat yang lain terdiam mengingat apa yang sudah terjadi di penginapan ini. Lishya melepas rangkulan Cellyn dan berjalan ke jendela untuk membukanya lebar-lebar.
Udara segar masuk membuat perasaan Lishya lebih baik, ia sedikit tersenyum lalu membalikkan badannya untuk menatap ketiga gadis yang selalu disisinya itu.
"Kalau pun aku beneran mati, kalian harus selamat, oke" ucapnya merekahkan senyumnya lebih lebar, helaian rambutnya terbang terbawa angin yang masuk ke kamar, begitu pula cahaya matahari yang seperti sengaja menyinari Lishya.
"Kalo kakak mati aku bakar kakak sampe mati. Terus HP kesayangan kakak sama kasur kesayangan kakak aku ikut bakar sama kakak" tiba-tiba Cellyn berucap.
"LAH KOK GITU?!"
"Habisnya kakak ngeselin"
"ELAH GUA UDAH KEREN KEREN DI BANTU ALAM LU MALAH NGOMONG KEK GITU, KAN JADI NGGAK KEREEN!!" Lishya berjalan ke kasur dan memukul-mukul bantal untuk meredakan rasa kesalnya.
"Makanya jangan ngomong kaya gitu, kita pasti selamat kok, pasti" Lishya menoleh ke Cellyn, rautnya tampak sedih tak seperti tadi. Seketika Lishya tersadar, bahwa dirinya sudah membuat adik sepupunya sakit hati hanya dengan ucapan.
"Hah... Iya iya, aku usahain biar kita hidup" ucap Lishya setelah menghela nafasnya.
"Maya bakal lindungin Lishya kalau begitu!"
"Gua nyimak aja" ucap Amaya memakan rotinya.
"MANA BISA GITU!" teriak ketiga gadis itu bersamaan, mereka terdiam dan tertawa bersamaan menghantarkan perasaan hangat.
"Makasih ya, aku janji bakal lindungin kalian dan diri aku sendiri kalau terjadi apa-apa" ucap Lishya memeluk Cellyn dan Maya, menoleh ke Amaya dan mengulurkan tangannya. Amaya hanya bingung lalu menerima uluran itu, dengan cepat Lishya menarik Amaya pada pelukan grup mereka.
Amaya menghela nafas lalu ikut memeluk kedua teman dan saudarinya itu. Mereka sedikit tertawa melihat reaksi Amaya yang malu-malu untuk membalas pelukan itu, ruangan pun diisi oleh canda tawa mereka serta pelukan hangat yang membuat mereka tenang.
Dan tanpa mereka sadari, saat mereka tertawa lepas, entah apa yang tengah menunggu mereka di masa depan.
...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...