The Crystal

The Crystal
10୭̣༉



"FWAH! MANTAP!" ucap Cellyn setelah meminum air segar tersebut. Baru saja ingin kembali ke tempat sebelumnya, namun ada sesuatu yang menarik perhatian. Di lantai dapur, sangat banyak bercak darah.


Cellyn bisa saja menjatuhkan gelasnya jika tadi tak menaruh benda tersebut di meja, karna badannya sangat lemas saat ini. Mungkin jika darah yang terlihat sedikit, Cellyn akan biasa saja menghadapinya. Namun, bercak darah itu cukup banyak dan seperti menetes dari sesuatu yang berjalan keluar dapur.


"KAK LISHYA-" baru saja berteriak memanggil sang kakak, ucapan Cellyn terhenti kala melihat noda darah di ujung celana Amaya. Karna warna dari celana itu adalah abu-abu, maka sedikit tersamarkan, namun Cellyn dapat melihatnya dengan jelas meski tadi tidak.


Kerutan alis Cellyn pun terlihat, matanya menatap heran dengan sejuta pertanyaan di kepala.


"Amaya... Kok di kaki lu ada bercak darah?.." ujar Cellyn membuat perhatian yang lain teralihkan ke Amaya, semuanya menatap terkejut, sangat terkejut kala ujung celana tidur Amaya terhias dengan bercak darah segar.


"SEMUANYA!! LIAT ADIK AKU NGGAK?! D-DI KASURNYA ADA BERCAK DARAH DAN DIA MENGHILANG!!" seru seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri mereka. Seketika, atmosfer berubah sangat berat, degupan jantung diri mereka dapat di dengar oleh diri sendiri.


Secepat ini kah pembunuh itu tertangkap? Dan bahkan... Apakah itu benar Amaya?


"Bukan!"


Seruan terdengar membuat orang-orang yang berada di ruang tamu terlepas dari lamunan mereka.


"Maya yakin... Bukan Amaya orangnya!" seru Maya dengan tetesan mata yang mulai mengalir.


"Amaya bukan orang yang kaya gitu!!"


Baik Lishya maupun Cellyn, keduanya sontak tersadar dari bisikan-bisikan negatif dari pikiran mereka. Mereka sudah menduga yang tidak-tidak terhadap Amaya, padahal jelas jelas mereka sudah berteman 6 tahun lamanya.


"Apa-apaan... Hah.. Kenapa gua jadi gini sih?" Lishya mengusap wajahnya kasar dengan senyuman kecewa pada diri sendiri.


"Iya ya.. Gua juga jadi aneh, jangan-jangan gara-gara gua makan mie lu ya, Kak?!" ucap Cellyn.


"Nggak lah njir, bentar- LU MAKAN MIE GUA?!"


"E-ENGGAK!"


"LU SENDIRI YANG BILANG DASAR GAJAH BELANG!!!"


"AAA! AMAYA HELEP!!"


Cellyn bersembunyi di balik tubuh Amaya, sementara Lishya mengejarnya dengan wajah marah, keduanya pun berputar-putar mengelilingi Amaya yang hanya bisa diam tak berkutik sejak tadi.


"Ya... Intinya kita nggak setuju kalau Amaya di tuduh, gua yakin kita mikir hal yang sama tadi" ucap Lishya yang sudah malas mengejar Cellyn meski ia tau kalau kejar-kejaran ia yang menang.


"Bener, jadi... Amaya mau jelasin kenapa ada bercak darah di celana kamu?" ucap Cellyn menatap Amaya dengan serius.


"HEI! TOLONG BANTU AKU CARI ADIKKU DULU HUWEE!!" gadis tadi yang mencari adiknya kembali berteriak dengan air mata yang mengalir di pipi. Tangannya tak bisa diam bergerak tak tentu arah sembari mengepalkan tangannya seakan bisa menghancurkan siapa saja agar menemukan sang adik.


"T-tunggu dulu lah... Kita denger penjelasan Amaya dulu..." gumam Cellyn menghela nafasnya, gadis itu hanya bisa terisak sembari mengangguk kecil.


"Psst, kayanya dia seumuran kita ya? Tapi kok nangis? Ck ck ck, cengeng" bisik Maya ke Cellyn, Lishya dan juga Amaya. Lishya menahan tawanya, sementara Cellyn juga Amaya memasang wajah datar.


"Baru tau kalo ada orang cengeng ngatain orang lain cengeng" ucap Cellyn membuat tawa Lishya semakin besar. Maya mengembungkan pipinya kesal lalu memukul lengan Cellyn.


"Ada ular di dapur" ucap Amaya tiba-tiba, semuanya menatap dan mendengarkannya baik baik, dia pun mulai menceritakan semuanya.


"Oh... Keren juga Maya" ucap Cellyn menatap Maya tak percaya.


"Hm... Maya juga baru inget kalo Maya yang bunuh ular itu pas mau gigit Amaya hehe"


"Dasar pikun" ucap Lishya.


"CELLYN SIALAN-"


"ADEK?! ADEEEEEK!!"


"KAKAAAK!!"


Seruan lain terdengar ketika gadis yang baru saja mencari adiknya akhirnya bertemu sang adik. Mereka saling berpelukan sembari menangis terhura, Lishya yang melihat keromantisan kakak beradik itu pun menatap lamat Cellyn. Cellyn yang merasa di tatap pun menoleh ke Lishya.


"Apa?" tanyanya dengan suara gugup.


"ADEEEEK!" seru Lishya dan hendak memeluk Cellyn namun dirinya justru kabur dan terjadi acara kejar-kejaran lagi.


"AAARG KAK LISHYA KESURUPAN REOG!!" teriak Cellyn yang panik, saat sedang berlari tanpa ia sadari Lishya dengan kaki pincangnya sudah jauh di belakang meski masih mengejarnya dengan seluruh kemampuan yang ia punya.


"HALOO! NAMA KALIAN SIAPA??" suara Maya menggelegar dan ia oun mendekati gadis yang mencari adiknya tadi.


"Halo, nama saya Upin, ini adik saya Ipin-"


"Jangan ngiklan deh" ucap sang adik menatap datar kakaknya.


"Hehe, namaku Chaeyo, dia Chaeryo" ucap gadis bernama Chaeyon itu sembari merangkul adiknya dengan senyuman lebar.


"Betewe... KAMU KEMANA AJA HAH?! KENAPA ADA BERCAK DARAH DI KASUR KAMU?!" lanjut Chaeyo menjitak dahi adiknya, Chaeryo terdiam dengan wajah ketakutannya.


"Aku... Hampir di bunuh" ucap Chaeryo membuat semuanya membelakkan mata.


"A-awalnya aku tidur... Terus tiba-tiba ada orang yang bawa pisau mau nusuk aku.." lanjut Chaeryo meremas ujung bajunya drngan keringat dingin bercucuran.


"Tunggu, lu liat mukanya nggak?" tanya Juan tiba-tiba dengan wajah serius, begitu pula dengan Makhen, Ryumi, Juan, Haeden, Jidan dan Jaeson. Mereka menatap dengan wajah penasaran dan tegang, bahkan beberapa diantara mereka sedang panik di dalam hati, Haeden dan Jidan contohnya.


Saat menunggu jawaban, sayangnya Chaeryo menggelengkan kepalanya membuat mereka kecewa.


"Aku tidur pas lampunya mati... Yang keliatan cuma item-item kaya masa depan Kak Chaeyo" lanjutnya menghela nafas kecewa juga seperti yang lain.


"Mungkin... Target selanjutnya kamu atau kakak kamu" ucap Ryumi sedikit berpikir apa yang akan di lakukan selanjutnya.


"Apa kita jebak pembunuhnya aja?" tanya Makhen yang ikut berpikir.


"Tapi... Kalau pembunuhnya di antara kita gimana?.." tanya Maya membuat semuanya terdiam.


"Tapi pembunuhan sebelumnya kita bersama kan? Jadi ada kemungkinan bukan kita, kecuali.." setelah berucap, Juan menoleh ke kakak beradik yang baru saja berkenalan dengan mereka. Yang lain juga menoleh kemeraka, dengan tatapan menyelidik dan tajam.


"Kenapa kita malah saling curigaan? Ck, kita selidikin dulu elah, ribet banget, dari tadi juga cuma omong doang mau nyelidikin tapi malah pada bercanda kaya tuh dua cewe absurt" ucap Jaeson menatap perban bekas sisa balutan luka Cellyn dan Lishya. Semuanya menoleh, lalu menyetujui apa yang di ucapkan oleh Jaeson.


Baru saja Jaeson mengucapkan nama keduanya, suara jatuh terdengar dengan keras dan berasal dari lorong tempat Lishya dan Cellyn berlari kejar-kejaran. Setelah beberapa saat setelah suara jatuh tersebut, suara teriakan yang di yakini suara Cellyn menyusulnya membuat yang lain mulai berpikir negatif dan dengan cepat menyusul mereka.


"T-taeyu..." Cellyn yang baru saja terjatuh dan menabrak salah satu pintu kamar hingga pintu itu terbuka menyeret dirinya yang terjatuh di lantai agar menjauh dari pintu itu. Lishya hanya bisa memeluk Cellyn erat dengan keringat dingin yang sudah bercucuran dari tubuhnya.


Lishya memang tak mengenal laki-laki bernama Taeyu itu, namun walaupun begitu, hatinya tetap sakit dan kepalanya di penuhi rasa takut kala melihat tubuh Taeyu yang tak menapak dengan tali yang melilit di leher jenjangnya.


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...



...Lee Chaeyo And Lee Chaeryo...