The Crystal

The Crystal
11୭̣༉



Baru saja menabrak seorang gadis dan bertemu penyelamat hidupnya, Taeyu berjalan ke kamarnya dengan senyuman yang mengembang dan senandung merdunya. Merogoh kantung bajunya, lalu mengambil kunci dengan nomor 6 tertera di atasnya.


Saat membuka kunci pintu dan mendorong pintu tersebut, ada yang aneh di dalam kamar itu. Meski dalam keadaan gelap, ia melihat beberapa barang berpindah tempat membuatnya semakin curiga.


Pandangannya mengedar ke seluruh kamar petak dengan ukuran lumayan besar tersebut, dan isinya kosong. Yang di batasi oleh pintu dan tembok hanyalah kamar mandi.


Dengan langkah perlahan, ia berjalan ke kamar mandi lalu mendobrak pintu dengan sebuah panci di tangannya. Entah dari mana panci tersebut, namun merasa ada yang tak beres ia pun mengambilnya tanpa sadar sebagai senjata.


"Nggak ada orang?..." gumamnya. Setelah memeriksa kamar mandi, ia pun menyalahkan saklar lampu membuat ruangan itu menjadi terang benderang. Lalu ia di kejutkan dengan sebuah tali yang menggantung di tengah kamarnya. Anehnya, tali itu di ikat dengan rongga cukup lebar seakan bisa mencekik sesuatu.


Yang lebih membuat Taeyu penasaran, terdapat sticky note yang menempel pada tali tersebut. Ia pun menarik kursi yang tak jauh dari tali tersebut berada, Taeyu naik ke kursi tersebut lalu mengambil sticky note itu serta membacanya dengan perasaan tak tenang. Dan yang tertulis dalamnya membuat jantung Taeyu semakin memicu cepat, di tambah pula dengan suara lemari yang berada di belakangnya terbuka.


"Kau tau kenapa tali ini mengantung? Karna ia siap menggantungmu hidup hidup"


Itu lah isi dari sticky note yang Taeyu pegang, lalu beberapa detik kemudian, Taeyu terdorong ke depan sehingga kepalanya masuk kedalam rongga tali dan mencekiknya. Ia merasa sangat tersiksa, semakin ia banyak bergerak tali itu semakin mencekiknya, bahkan kursi yang baru saja ia naiki sudah jatuh ke lantai.


Pandangannya semakin pudar, wajahnya sudah memucat, dan nyawanya pun sudah melayang.


......𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ⊹ 𖡼.⊹ᤳᤳᤳ......


"Mungkin karna dia depresi, dia jadi bunuh diri... Dia sendiri yang bilang gitu kan? Kalau dia tuh sempet stress..." bahu Cellyn di usap oleh Ryumi yang ikut merasa sedih bersamanya. Padahal baru saja bertemu, namun pertemuan itu adalah yang pertama dan terakhir. Saat ia menemukan Taeyu yang menggelantung itu bukanlah pertemuan terakhir, karna itu hanyalah seonggok daging tanpa jiwa.


"Hm... Kasihan Taeyu..." ucap Cellyn menatap mata Ryumi dengan tatapan sendu. Ryumi yang di tatap merasakan kesenduan yang sama, lalu ia menatap lamat-lamat semua teman barunya yang sedang berdoa di depan makam seorang Lee Taeyu.


"Ayo masuk" Lishya yang pertama kali selesai berdoa, pandangannya datar, dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku jaketnya. Cellyn menoleh, cukup merasa kesal karna tingkah Lishya yang seakan tak perduli.


"Kita baru sebentar disini, setidaknya kita harus banyak berdoa buat dia dan yang lain" ucap Cellyn menatap beberapa makam orang-orang yang meninggal sebelumnya. Untung saja di halaman belakang cuma ada ular-ular kecil, sehingga mereka bisa membunuh semuanya lalu membuat makam di tempat tersebut. Mereka membatasi halaman belakang yang terhubung pada hutan dengan kayu yang di tancapkan serta pecahan kaca yang di tempel di atas kayu tersebut.


"Ayo masuk" ulang Lishya, masih dengan tatapan dan ekspresi yang sama. Cellyn menggertakan giginya kesal, lalu berdiri dan menarik kerah baju Lishya.


"Maksud lu apa hah?! Mereka nggak penting gitu?!" tanya Cellyn dengan wajah merah penuh amarah.


"Kita harus cari pembunuh itu, ayo masuk cari bukti, gua nggak mau lu jadi korban" jawab Lishya diam-diam mengepalkan tangan yang berada dalam saku jaket. Cellyn terdiam sebentar, lalu melepaskan cengkraman pada kerah baju Lishya.


"Cukup dia aja yang bunuh diri karna depresi sama keadaan sekarang, kita cari pembunuhnya biar yang lain nggak tertekan dan malah menyakiti diri sendiri" ucap Lishya memandang makam Taeyu. Cellyn menunduk dan mengangguk, meski terpuruk, dirinya harus tetap kuat untuk bertahan hidup dari neraka dunia ini.


"Cell gua tau lu kasian, lu nggak tenang tapi kita bisa apa? kita nggak akan bisa ninggalin penginapan ini sebelum kasus nya selesai" ucap Lishya yang memperhatikan wajah Cellyn yang lesu dan kusut itu.


"Gua takut kak, gua nggak mau kaya mereka, gua mau pulang" ucap Cellyn dengan suara bergetar.


"Ya udah kita selidikin kasusnya, kita cari bukti-bukti mulai dari kasus perempuan jatuh dari atap" ucap Lishya kepada Cellyn dan semua teman-temannya.


"Tapi... Bukannya bisa aja dia juga bunuh diri kaya Taeyu?.. Kenapa kita langsung simpulin kalau dia di bunuh?.." tanya Cellyn membuat yang lain terdiam.


"Pertama, kita pernah berpapasan sama dia dan dia baik baik aja. Kedua, nggak mungkin orang bunuh diri teriak pas jatuh, yang paling mungkin itu karna kecelakaan.." ucap Lishya yang mulai ikut ragu.


"Tapi, Lukaf bilang ada yang janggal sama kematian adik tirinya" suara Jidan pun terdengar membuat mereka sontak menoleh dan berpikir sejenak.


"Kita selidikin aja lah" ucap Haeden.


"Ayok Cell ke atap" ucap Lishya yang mulai serius dengan penyelidikan ini, karna jujur, Lishya sudah sangat lelah dan ia pula tidak ingin membuat adik dan teman-temannya gelisah dan sang adik yang diajak oleh sang kakak pun hanya pasrah.


"Kak, gua males banget deh ngantuk tau mau tidur" ucap Cellyn yang sangat mengantuk sebab belum tidur semalaman.


"Bentar Cell kita cari-cari bukti dulu nanti kita langsung tidur kok, lagian cerewet banget sih lu, lu sendiri yang nggak mau mati tapi lu sendiri yang males cari bukti"


"Iya deh iya" ucap Cellyn dengan wajah yang sudah lesu dan mau nggak mau Cellyn harus membantu teman-temannya menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang berada di penginapan ini.


"Cell lu nemuin sesuatu?"


"Nggak ada apa-apa kak, udah hampir setengah jam kita nyari tapi nggak nemuin apa-apa"


"Ya udah, cari sebentar lagi kalo bener-bener nggak ada yang bisa kita jadiin bukti kita turun terus bilang ke yang lain, mungkin aja yang lain udah nemuin bukti" Lishya menjelaskan sembari terus mencari-cari bukti yang dibalas anggukan kepala oleh Cellyn.


Tak lama dari itu Jidan datang menghampiri Lishya dan Cellyn lalu berkata.


"Shya, Cell, udah dapet bukti?" tanya jidan yang dibalas gelengan kepala oleh Lishya dan Cellyn secara bersamaan.


"Ya udah turun dulu, kak Ryumi nyuruh buat kumpul"


"Tapi di bawah udah ada yang dapet bukti?" tanya Lishya kepada Jidan.


"Nggak tau deh, soalnya kak Ryumi cuma nyuruh gua buat manggil lu berdua doang terus nggak ngasih tau apa-apa"Jelas Jidan dan hanya mendapatkan angukan kepala oleh Lishya, sedangkan Cellyn hanya diam dengan wajah yang sedari tadi ia tekuk seperti baju yang belum di setrika.


Sepanjang perjalanan menuju ruang utama Cellyn hanya diam seribu bahasa karna ketika ia susah capek dan mengantuk ia tak akan nyambung ketika di ajak bicara, berbeda dengan Lishya, kakaknya itu sudah terlalu sering bergadang entah apa yang membuat Lishya begitu kuat untuk bergadang.


Apa mungkin karna setiap bergadang Lishya selalu ditemani oleh sebuah film yang menampilkan oppa oppa korea yang sangat menggoda iman?


Entahlah itu semua hanya Lishya yang tau. Bahkan Cellyn yang adik nya saja dan sudah berada satu rumah selama kurang lebih 3 tahun saja tidak tahu, bukan karena mereka dirumah tidak dekat melainkan karena batas waktu tidur Cellyn yang lebih cepat.


Tapi bukan berarti Cellyn tidak pernah bergadang ia pernah bergadang namun tak sesering Lishya yang hampir setiap malam membuka matanya hingga menjelang pagi datang. Anehnya kantung mata tak pernah melekat pada wajahnya, entah karna memang beruntung, entah karna ia tidur saat matahari bersinar.


"Cell, are you okey?" tanya Lishya kepada adiknya, ya memang dari lantai atas ia hanya mengobrol dengan Jidan sembari sesekali melirik adiknya berjalan duluan dengan wajah yang sudah tak bersemangat.


"Nggak kok, gua nggak apa-apa, eh tuh udah pada ngumpul samperin yuk" ucap Cellyn dengan menggandeng tangan Lishya, jujur Cellyn tak ingin membuat sang kakak khawatir ya walaupun semua itu percuma saja karna sang kakak sudah lebih dahulu khawatir kepada adiknya itu. Sesampainya di ruang utama Lishya, Cellyn, dan Jidan pun ikut berkumpul dengan teman-temannya yang sudah sedari tadi menunggu mereka datang.


"Gimana Shya, Cell, nemuin sesuatu?" tanya Ryumi.


"Gua sama Cellyn nggak nemuin apapun di atas"


"kalian ada yang nemuin bukti lain?" tanya Lishya.


"Gua nemuin bukti"


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...