The Crystal

The Crystal
4୭̣༉



"Ini... Tubuh siapa?.." gumam Lishya dengan tubuh yang bergetar.


"Cellyn, kenapa?!" ucap Maya yang mendengar suara teriakan Cellyn dan segera menghampirinya, diikuti dengan Amaya. Saat sudah berada di depan pintu, yang mereka libat hanyalah Lishya yang terduduk di tanah dan di depannya terdapat kotak yang berisikan potongan-potongan tubuh manusia.


Dengan ketakutan Maya menggenggan tangan Amaya yang saat ini juga membelalakan mata karna terkejut. Harusnya ini jadi liburan mereka, tapi kenapa jadi horor begini?


Karna suara teriakan Cellyn yang cukup kencang, 15 orang penghuni lantai satu pun keluar dari kamarnya masing-masing dan berlari menuju sumber suara.


"Mayat?!" teriak salah seorang yang melihat isi kotak tersebut, teriakan-teriakan lain pun mulai terdengar dari kaum laki-laki maupun perempuan. Lishya masih terdiam membeku, jantungnya berdegup kencang, ketakutan menghantui pikirannya. Melihat kondisi Lishya yang seperti itu, Cellyn menarik Lishya agar dirinya menjauh dari kotak tersebut.


"Ada apa?" suara lelaki terdengar dari belakang kerumunan orang-orang penghuni lantai satu. Saat mereka menoleh, terlihat Haechan yang sedang memasukan kedua telapan tangannya ke saku. Dia terdiam sesaat ketika melihat mayat di kotak itu, lalu berjalan menuju kotak itu untuk menutupnya.


"Kalian, pencet bell di setiap kamar kalian!" ucap Haeden menatap kerumunan itu satu persatu, lalu ia terpaku pada Lishya dan Cellyn yang cukup terkejut pada keadaan. Mereka berdua saling berpelukan, mencoba memberitahu semuanya akan baik-baik saja namun kenyataannya mereka ketakutan.


"Kalian orang pertama yang nemuin mayat ini?" tanya Haeden mendekati keduanya, yang tersadar pertama adalah Cellyn, lalu ia menggangguk sementara Lishya masih diam.


"Aku kenal orang itu... Dia yang duduk di bangku depan penginapan pas kita baru sampai..." batin Lishya yang sedang memutar otak sebenarnya apa yang baru saja terjadi. Saat sedang risau, sebuah elusan di kepala terasa di kepala Lishya, perlahan menoleh ke atas, dan mendapati Haeden mengelus kepalanya lembut dengan senyuman menenangkan.


"Tenang, pembunuhnya pasti ketangkep kok" ucap Haeden lalu mengacungkan jempolnya.


"Sebaiknya kalian masuk kaya yang lain, kalo disini takutnya masih ada si pembunuh" lanjutnya menatap sekeliling dengan tajam.


"Iya, makasih" jawab Lishya lalu menggandeng tangan Cellyn dan segera masuk. Di perjalanan saat menaiki tangga, mereka berpapasan dengan Juan, Makhen, dan Jaeson.


"Kalian nggak apa apa? Tadi kita denger suara teriakan.." Juan yang pertama menghampiri dan bertanya keadaan mereka dengan raut khawatir. Cellyn menjelaskan keadaannya, membuat ketiga lelaki itu mebelalakan mata karna terkejut.


"Gua cek keluar dulu" Makhen menuruni tangga dengan cepat melihat keadaan di lantai satu diikuti dengan Juan. Jaeson hendak melewati mereka, namun melirik sebentar dan berucap.


"Kalian jangan keluar kamar dulu, disini ada pembunuh" ucap Jaeson lalu pergi berlalu membuat Cellyn dan Lishya terdiam sebentar.


"Hah... Harusnya emang dari awal kita nggak terima penawaran pelayan itu.." gumam Lishya mengepalkan kedua tangan kesal, dan Cellyn pun menepuk bahunya pelan.


"Bukan salah kakak, lagian emang gua, Amaya sama Maya yang maksa" ucap Cellyn mengelus bahu Lishya. Lishya menjawabnya dengan anggukan, lalu mereka masuk ke kamar dimana ada Amaya dan Maya sedang duduk termenung di kasur.


"Hei, kalian nggak apa-apa?.." Cellyn mendekati keduanya membuat mereka tersadar dari lamunan.


"Bagaimana kita nggak apa-apa habis ngeliat mayat di mutilasi.." ucap Maya menghela nafas setelahnya.


"Untuk sekarang kita tidur aja dulu, lupain sementara, besok pasti udah di selidiki pembunuhnya" Lishya merebahkan diri di salah satu kasur. Kedua lengannya di rentangkan menguasai kasur berukuran kingsize itu.


"Geser woy!" Cellyn mendorong-dorong Lishya agar dirinya bisa tidur, namun Lishya tetap dalam posisi itu tak bergerak sedikit pun membuat Cellyn kesal.


"Bodo amat" ucap Cellyn lalu melomoat ke kasur, untung saja Lishya menyadarinya dan dengan cepat menghindar. Kalau tidak badannya sudah sakit-sakit kalau tertiban badan Cellyn.


"Mana bisa kita tidur sehabis liat kejadian tadi.." ucap Cellyn menoleh ke Amaya dan Maya di kasur sebelahnya, Maya menatap langit-langit dengan ekspresi khawatirnya, dan Amaya juga menatap langit-langit kamar seperti sedang berpikir.


Ia membalikkan badannya mencoba menatap Lishya, namun yang ia dapatkan justri Lishya yang sudah tertidur memeluk gulingnya.


"Padahal tadi dia yang paling ketakutan..."


Matahari terbit sedikit demi sedikit mengintip manusia-manusia di bumi yang enta belum bangun atau sudah melakukan aktivitas. Seperti Lishya saat ini, ia memang tidur paling awal, namun 3 jam kemudian ia terbangun saat yang lain tidur dengan nyenyak. Dia cuma termenung dan mengganti-ganti posisi tidur berusaha tidur namun setiap menutup mata yang terlihat pemandangan di dalam kotak.


"BANGUUUUUUN!" teriak Lishya membuka tirai lebar-lebar membuat cahaya matahari masuk menerpa wajah ketiga gadis yang masih tertidur.


"Em.. Maya masih mau tidur.." ucap Maya memeluk Amaya erat, Amaya yang merasakan sesak hendak menendang pelaku, namun saat melihat pelaku adalah Maya ia urungkan kembali.


"Aarg, gua masih ngantuk.." Cellyn mengganti-ganti posisi tidurnya hingga kaki berada di bantal.


"Najis kebo" ucap Lishya, setelah menghela nafas Lishya memutuskamemutuskan untuk keluar kamarnya lalu melihat sekeliling penginapan.


"Kayanya aku belum ngelilingin penginapan ini" batin Lishya, ia pun memutuskan untuk melihat-lihat penginapan yang ia tempati.


Bangunan yang simpel, letak kamar seperti hotel dengan kamar yang berurutan. Ia sekarang sedang di lantai 3 yang terdiri dari 4 kamar yang hanya di tempati 2 kamar dan ada pintu untuk rooftop, lalu menuruni lantai ke lantai 2. Kamarnya ada 5, terisi semua, dan sangat biasa.


Lishya berjalan lagi ke lantai paling bawah, lantai satu. Lantai dengan kamar paling banyak di antara lantai lain, kamar di lantai satu ada 8 dan semuanya terisi. Entah kenapa orang-orang lebih memilih lantai terbawah dari pada teratas, mungkin karna di lantai atas agak menyeramkan? Dan juga di lantai satu terdapat dapur utama juga ruang makan serta ruang TV yang di pakai bersama-sama, merepotkan bukan?


Lishya menuju keluar, saat membuka pintu dirinya terdiam karna teringat kejadian kemarin yang menimpanya dan Cellyn. Karna tak ingin terus-terusan teringat, ia melangkahkan kaki menuju halaman depan ingin tau jika polisi sudah sampai atau belum.


Saat melangkah, ia melihat Makhen beserta Jaeson dan Juan. Ketiganya sedang berbincang-bincang seperti sedang menunggu sesuatu, mungkin tujuan mereka sama seperti Lishya.


"Makhen!" Lishya menyapa Makhen, yang namanya terpanggil pun menoleh dan mendapati Lishya melanbaikan tangan sembari berjalan menuju dirinya dengan senyuman lebar membuat matanya menyipit.


"Oh, hai Lishya" ucap Makhen ikut menyapa dengan senyuman.


"Kalian nunggu pihak hotel juga?"


"Iya, mereka lama"


"Kok yang jawab malah buaya ya?" ucap Lishya menatap Juan datar, sementara yang di tatap hanya menunjukan cengiran.


"Oanjir, silau" batin Lishya melihat cengiran Juan yang justru terlihat tampan dan bersinar.


"Cellyn dimana?" tanya Juan menoleh kebelakang Lishya meski tau Cellyn tidak berada disana.


"Masih ngebo, tidurnya kemaleman" jawab Lishya membayangkan Cellyn yang masih tidur dengan posisi tidur acak acakan.


"Wah, pasti cantik" ucap Juan mengira bagaimana tidur Cellyn dengan cantik layaknya diiklan TV.


"Matamu" Lishya memasang wajah datarnya menatap Juan, sementara yang ditatap tertawa lepas bersamaan dengan Makhen yang ikut mendengarkan. Jaeson? Hanya memasang wajah datarnya dan diam menyimak.


Tiba-tiba suara teriakan seorang perempuan terdengar melengking membuat perhatian mereka teralihkan ke rooftop. Mata mereka terbelalak, mereka melihat seorang perempuan.


Yang terjun bebas dari lantai 3.


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...