
"Kita nggak berhasil selamatin orang yang tenggelam" ucap Makhen membuat Lishya dan Cellyn terkejut.
"Ha? Tenggelem? Siapa?" mendengar ada yang tenggelam, tentu saja membuat Yudha kebingungan.
"Ada tadi orang tenggelem di kolam renang" ucap Juan menarik kerah belakang Yudha agar sedikit menjauh dari para gadis.
"Cuy, tuh cowo siapa? Kok sok deket sama cewe-cewe sih?" ucap Haeden yang tiba-tiba saja muncul di samping Makhen.
"Anjir lu, ngagetin aja" ucap Makhen menjauh dari Haeden, sementara laki-laki itu hanya menunjukan deretan giginya.
"Nggak tau, tapi pas kita dateng dia ngerangkul Lishya sama Cellyn" jawab Makhen menghela nafas lagi. Haeden yang mendengar itu tersentak, lalu menatap tajam Yudha dari kejauhan.
"Curang ye lu, sono jauh-jauh" Haeden mendekat ke sofa, lalu mendorong dahi Yudha dengan jari telunjuk membuatnya semakin jauh.
"Lishyaaaaa! Cellyyyyyyyyyyyn!!" Teriakan itu sontak menarik pandangan mereka terutama kedua gadis yang namanya disebut itu.
"Cellynn!! Lishyaa!!"
"Apa? lu ngapain lari-lari sih May?" Tanya Lishya yang sedikit bingung dengan tingkah temannya yang lugu ini, tapi untungnya rasa bingung Lishya tidak bercampur dengan rasa khawatir jika melihat Maya yang sedang berlari, tentu saja, kenapa harus khawatir jika sang Kakak mengikuti adiknya itu?
"Tadi Maya ngeliat ada orang tenggelem di kolam, terus orangnya di makan sama..."
"Sama siapa May?" tanya Cellyn ketika mendengar ucapan Maya yang tidak dilanjutkan lagi, jika dilihat dari raut wajahnya, Maya tampak sangat takut bahkan wajah cantiknya itu berubah menjadi sangat pucat.
"Oh, buaya?" satu kata dari Jaeson, mampu membuat mereka terkejut.
"Buaya? Kok bisa?! Bener May? Mayatnya dimakan buaya?!" Sontak Lishya berdiri dan meninggikan nada bicaranya, tentu saja Cellyn ada untuk menenakan sang kakaknya itu.
Sementara Maya hanya mengangguk sembari menangis dipelukan kakaknya. Sungguh sangat mengejutkan, rasanya Lishya seperti tersambar petir. Ketika ia berjanji untuk tidak ada korban lagi, justru sekarang ia membiarkan orang lain menjadi korban.
"KENAPA LU NGGAK NGOMONG?!" karna di landa amarah, Lishya meraih kerah baju Makhen dan menariknya kasar dengan ekspresi penuh marah.
"Maaf gua cuma nggak mau lu jadi takut" ucap Makhen yang terkejut dengan reaksi Lishya.
"Kak udah, gua tau lu kaget, lu marah tapi ini bukan salah Makhen, Juan atau Jaeson" Cellyn menepuk bahu Lishya dan berusaha menariknya supaya meredakan emosinya yang sedang meluap.
"Maafin gua Shya, gua nggak bermaksud buat nyembunyiin ini dari kalian, tapi gua khawatir sama kalian dari kemarin nggak tidur karna hewan buas" ucap Makhen sembari memegang tangan Lishya yang mencengkram kerahnya dengan wajah khawatir dan mengelusnya pelan berharap Lishya akan tenang.
"Sorry, gua tadi emosi" lirih Lishya dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Makhen, ia menunduk dan cengkramannya sudah mengendur setelah menghela nafas panjang.
"Iya aku juga minta maaf" bisik Makhen kepada Lishya lalu menjauhkan tangan mereka dari kerah Makhen dan menggenggamnya erat.
Setelah hening beberapa saat mereka memutuskan untuk duduk dan melanjutkan obrolannya. Yap, ternyata Makhen memiliki sikap yang sedikit protektif terhadap Lishya. Bagaimana tidak, tangan Lishya bahkan tidak di lepaskan sama sekali. Berbeda dengan Cellyn entah mengapa ia merasa sangat canggung berada di tengah Jaeson dan Juan. Jika saja kakaknya tidak disita oleh Makhen mungkin ia akan memilih duduk dengan Lishya.
"Makhen" Panggil Cellyn yang hanya dibalas dengan raut wajah sang pemilik.
"Kok bisa ada Buaya?"
"Bisalah, kan diluar masih banyak binatang buas. Mungkin di sekitar sini ada danau, namanya juga hutan" ucap Juan dengan telunjuk yang mendorong dahi Cellyn.
"Kenapa lu nggak ikut species lu aja sono"
"Species palakmu, lu kira gua hewan"
"Iya, kan lu juga BUAYA" ucap Cellyn dengan menekan kata buaya.
"Kalo Juan Buaya lu apa Cell? Kudanil?" tanya Lishya.
"Bukan Nying! Kalo gua tuh crocodile" ucapan Cellyn mampu membuat mereka tertawa terutama Makhen dan Lishya.
"Sialan, sini lo!" Cellyn menarik Lishya, membuat genggaman gadis itu dan Makhen terlepas. Melihat hal itu, Cellyn merasa puas lalu menggelitiki Lishya yang justru membuat gadis itu kegelian juga kesakitan.
"W-woy! Perut gua sensitif! Sakit bego!"
"Btw, dia siapa?" tanya Maya sembari menunjuk Yudha.
"Oh gua Yudha" ucap Yudha memperkenalkan diri.
"Aku Maya, ini kakak aku Amaya" dengan senyuman lebar Maya memperkenalkan dirinya dan sang kakak.
"Oh, pantes mirip" ucap Yudha sembari tertawa kecil, namun saat ia menatap Amaya justru ia di beri tatapan sinis.
"Gua nemu jejak aneh" ucap Amaya setelah mengaluhkan pandang dari Yudha.
"Hah? Dimana?" tanya Lishya seketika menghentikan kedua tangan Cellyn.
"Woy lepas!!" ucap Cellyn yang panik karna tiba-tiba kakaknya menjadi sangat kuat hingga tangannya tak bisa di lepas.
"Di pintu belakang yang ngarah ke kolam renang, jejaknya sampe gudang" Amaya berjalan duluan, sementara yang lain termenung heran. Karna merasa penasaran, mereka pun mengikuti Amaya yang mengarah ke dapur.
"Kok ke sini?" tanya Juan. Amaya menghiraukan pria itu, membuat yang lain menahan tawa karna untuk pertama kalinya ada wanita yang tak perduli akan dirinya.
"Haruskah gua taklukan?" gumam Juan memperhatikan Amaya dari belakang.
"Jangan macem-macem lu" ucap Cellyn yang mendengar gumaman Juan.
"Bodo amat"
"Heh!-" baru saja ingin menggampar Juan, tangan Cellyn sudah di tahan olehnya.
"Ape? Ape?" Juan menarik pergelangan tangan Cellyn dan menjulurkan lidahnya untuk meledek Cellyn.
"Ih, bau jigong" ucap Cellyn menjepit hidungnya.
"Mulut gua bau surga kok" ucap Juan dengan bangganya. Melihat pertengkaran Juan dan Cellyn, yang lain justru menatap mereka dengan datar seakan berpikir 'mereka berantem atau mesra-mesraan?'.
"Jangan berisik" ucap Jaeson membuat Juan juga Cellyn tersadar dan menjauh.
"Mau sampe kapan kalian di sana?" suara dingin dari Amaya membuat mereka mengalihkan pandangan ke dirinya.
"Sejak kapan ada tangga?..." tanya Haeden menatap ke bawah di mana Amaya sedang berdiri di tangga menghadap mereka.
"Di bawah karpet dapur" jawab Amaya dengan dingin.
"Wah, ruang rahasia" suara tak di kenal membuat mereka lagi-lagi mengalihkan pandangan menghadap ke belakang Maya. Asal suara dari seorang pria, dan itu adalah Yudha, Maya yang berada di depannya terkejut lalu menjauh selangkah darinya.
"Deket-deket adek gua, mati." ucap Amaya dengan penekanan menatap Yudha tajam. Yudha menyeringai, lalu merangkul Maya.
"Hm.... Coba aja" ucap Yudha dengan seringai, dengan cepat Amaya berlari keluar dari tangga dan meraih pisau dapur yang berada di dapur.
Amaya menarik Maya dengan cepat dan dengan pandangan dingin ia pun mengarahkan pisau itu kepada Yudha.
"Mati."
......꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱**......