
"MORNING MAK PAK" teriakan seorang gadis menggelegar keseluruh rumah, membuat kedua orangtua dan sepupunya serasa tuli sementara.
"Lu kenapa sih cell pagi-pagi udah teriak-teriakan aja kaya kera beranak"
"Kenapa nggak monyet aja?"
"Sama aja sih, soalnya kan muka lu vibe's penghuni kebun binatang" dengan datarnya sang sepupu berucap.
"Mukamu tuh mirip kuntilanak nahan berak"
"Wah, lihatlah Ma, kedua anak pungut ini bertengkar pagi-pagi" sindir sang Ayah sembari menyeruput kopinya.
"Ah mantap!"
Istri dari sang Ayah alias si Mama hanya memandangi mereka dengan pandangan acuh, karna motto bendahara di rumah itu adalah janganlah marah saat makan atau dirimu akan tersedak cabai hingga bengek karna batuk berkali-kali. Ya, sebenarnya itu pengalaman sang Mama sendiri.
Cellyn putri eddlyn, gadis yang tadi berteriak sekencang toa abang tahu bulat tadi. Dia pun mendudukan diri di sebelah sepupunya, Lishya Elara Devansyah. Lishya hanya duduk diam di meja sembari memainkan Handphone nya, tidak mengambil lauk maupun nasi di piringnya.
Cellyn yang melihat itu menghela nafas, menyendok nasi dalam jumlah yang banyak beserta lauk nya juga.
"Lu nggak makan?"
"Nanti aja" jawab Lishya masih fokus menonton konser di Handphone nya. Karna tak mau telat jogging, Cellyn pun mengadahkan sendok dengan nasi dan lauk di dalamnya ke mulut Lishya. Secara reflek, Lishya membuka mulutnya meski mata terfokus ke hal lain, Cellyn menyuap makanan ke dalam mulut Lishya lalu menyuap untuk dirinya sendiri.
"Yang kakak sebenernya siapa sih?" ucap Cellyn.
"Nggak tau males pen beli truk" jawab Lishya mengunyah makanannya. Tentu saja Cellyn melakukan itu terus berulang, bahkan hingga nambah dua piring. Saat Lishya sibuk memainkan Handphon nya, Cellyn menyuapnya sembari ikut melihat isi Hanphone Lishya.
"Tau enggak"
"Enggak"
"Ka, gue belom ngomong"
"Ha?"
"Gua belom-"
"Haji bolot" Lishya mengambil paha ayam lalu memakannya, membiarkan Cellyn yang menatapnya kesal sampai ingin membanting sang kakak sepupu.
"Udah tinggal dirumah gua ngelunjak lagi lu, nyed"
"Ini rumah Om sama Tante, lu kan anak pungut, su" Lishya memasang wajah menyebalkannya kembali membuat Cellyn naik darah.
"Kan yang anak pungut lu, soalnya lu ditinggal orangtua lu ke luar negeri dan lu di pungut Mama sama Ayah YAHAAAA!" seru Cellyn menggaplok lengan Lishya kencang. Yang tergaplok hanya bisa meringis kesakitan, lalu menatap tajam Cellyn setajam mulut tetangga.
"You know what, shut up before I slepet your lambe and tak kemplang palak kau until penyok"
Cellyn terdiam setelah mendengar pernyataan Lishya, begitu pula dengan Mama yang berhenti menyuap nasinya, dan Ayah yang berhenti saat hendak berkata 'ah' setelah menyeruput kopi terzeyenk.
"Curang, mainnya bahasa inggris, nggak seru bubar bubar" Cellyn berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas, meninggalkan Ayah dan Mama beserta keponakan mereka yang ikut menyeruput kopi sang Om terzeyenk.
Dikamar Cellyn bersiap untuk jogging bersama kaka sepupu dan kedua temannya.
"KAAA...... LU UDAH SIAP BELOM CEPET IHH NTR DI OMELIN AMA SILUMAN MONYET YANG NUNGGU DI DEPAN TUHH" teriak Cellyn memanggil kaka sepupunya yang leletnya minta ampun.
"Apaan sih teriak mulu heran gua lu mau cosplay jadi tarzan? Atau gorilanya tarzan?"
"Lagian lama udah ayo entar tuh dua silumannya keburu di culik om-om"
"Helehhh..... di culik om-om konon, nggak mungkin lahh lagi siapa sih yang mau nyulik bocah kaya mereka ada-ada aja lu" ucap Lishya sambil berjalan mengikuti Cellyn yang sudah hilang dari penggelihataannya.
"Lishya Cellyn" terdengar suara seorang gadis yang memanggil namanya, mereka pun berjalan menuju gadis yang sedang beelambai-lambai ke arah mereka.
"Lama banget ngapain aja si, sampe jamuran gua disini" ucap seorang gadis berambut panjang lurus dengan kulit putih mulus layaknya pantat bayi.
"Hehehehe...... sorry, abisnya nih si Lishya kelamaan segala nonton konser dulu"
"Songgong banget lu manggil gua nggak pake kakak, gua bilangin om sama tante lu ya, lagi juga yang lama kan lu tadi dandan dulu ya.... gua nungguin sambil nonton konser suami gua lah"
"Udah si nggak usah berantem udah siang jadi jogging nggak?" ucap seorang wanita berambut panjang ikal yang melerai pertengkaran mereka.
"Ya udah ayoo jalann" ucap Maya yang bersemangat layaknya kelinci yang dikurung di kandang selama satu pekan dan baru di lepakan oleh pemiliknya.
"Udah yuk istirahat dulu gua, cape nih dada gua udah nyesek banget sumpah dah" ucap Cellyn yang mengeluh kepada kakak dan kedua temannya ini.
"Baru juga 2 puteran masa udah cape si Cell"
"Iya Shya, kita istirahat dulu aja si Maya juga kayanya udah nggak kuat tuh" ucap Amaya membela Cellyn dan adik kesayangannya.
Amaya Louve Narendra, gadis berambut panjang ikal dengan wajah yang mirip dengan Maya. Karna mereka kembar, yang membedakan mereka hanyalah bentuk rambut dan bentuk mata mereka.
Maya memiliki bola mata hitam dan besar yang bersinar seperti adanya bintang-bintang di mata tersebut. Sementara Amaya, ia memiliki mata yang lebih kecil dari maya, dan pandangannya sangat malas seperti enggan untuk hidup.
"Huhhh... gembel lu Cell baru juga sebentar udah cape aja"
"Jantung lu nggak cape apa Shya? gua aja udah nyesek banget njirr"
"Udah napa ribut mulu, katanya cape, udah istirahat dulu kalo udah nggak cape kita pulang"
"Lohhh kok pulang kak? Maya masih mau disini tauu..."
"Ya udah gini aja, gimana kalau kita bahas soal rencana liburan besok?" ucap Cellyn melerai perdebatan antara kakak beradik itu.
"Kita jadi liburan Cell?" Tanya Maya.
"Jadilah, orang si Cellyn udah bilang ke Om sama Tante Eddlyn, udah gitu sama Om udah survei juga tempatnya"
"Terus kita berangkat kapan? besok?"
"Hmm.... boleh tuh, berarti besok kita kumpul dibasecamp jam 8"
"Dah yuk pulang, gua ada kencan nih" ajak Lishya.
"Dih, kencan sama siapa lu?" Cellyn menatap heran kakak sepupunya yang satu itu, Lishya hanya tersenyum dan mengibas rambut sebahunya.
"Sama kasur, HYAHAHAHAHA" ucapnya membuat Cellyn, Amaya dan Maya memasang wajah datar. Mau heran, tapi itu Lishya.
Ketika mereka sedang berjalan menuju rumah mereka berpapasan dengan lima orang laki-laki. Saat Cellyn menoleh dengan wajah datarnya, netranya bertubrukan dengan netra lelaki tinggi yang memakai topi, membuat degupan kencang di dada.
"Cell, lu liatkan cowoknya ganteng-ganteng banget anjirrr"
"Iya njir ganteng bangettt itu mah Mayaaaa, apalagi yang tadi pake topi hitam gantengnya bikin meleyot, mana kita tadi bertatapan" ucap Cellyn mulai salah tingkah sendiri karna ditatap cogan.
"Apaansih lu pada" Lishya menatap Cellyn dan Maya dengan tatapan heran. Mereka kalo salting gayanya kaya orang gila.
"Tapi gantengan yang pake hoodie item njir, gantengnya kan maen" lanjutnya ikut mengsalting.
"Anjir lu Shya, gua kira lu mau ngomelin mereka karna ngomongin anak cowo eh malah ikut-ikutan bangsad" ledek Amaya menepuk dahinya pelan.
"Kalo Maya suka yang pake poni, ganteng bangett" ucap Maya sambil membayangkan betapa gantengnya cowok yang mereka lihat tadi.
"Udah yok masuk Cell byee guys"
"Inget jangan lupa besok jam 8.00"
"Iya bawel nih byee kita duluan yaa" pamit Maya kepada Cellyn dan Lishya, lalu melangkahkan kaki pulang ke rumah bersama Amaya.
...✧۫۫᭢₍ Next Chapter ⁾۪۪✧۫۫...
...
...
......Chanyeol Eddlyn......
...(Ayah Cellyn)...
...Wendy Eddlyn...
...(Mama Cellyn)...