
"Liat tuh"
"Itu apaan anjir?! kok dia enak banget boleh berenang? kita aja belom boleh berenang" ucap Cellyn dengan mulut yang sedikit dimanyun-manyunin.
"Nyesel gua ngasih tau orang yang bego nya natural"
"Eh kak tapi kok dia boleh keluar? bukannya masih ada binatang buas?"
"Emang masih belom boleh keluar Cellyn, makanya gua kasih tau ke lu juga karna ada yang aneh"
"Aneh? oh anjir kok bisa ada orang tenggelem sih? lu gimana si kak kok malah diem aja ayo turun bantuin bego" ucap Cellyn panjang dikali lebar dikali tinggi sembari menarik tangan Lishya, dengan cepat Lishya menghempaskan tangan Cellyn yang membuat sang empu hanya bisa menatap sang kakak.
"Mana bisa kita keluar Cell? di luar masih ada hewan buas, lu mau mati di geprek beruang?!"
"Tapi dia tenggelem terus mau diem disini? pura-pura nggak tau? pura-pura bu-" ucapan Cellyn terpotong ketika mendengar suara decihan Amaya yang sedang menghampiri mereka.
"Kalian lagi ngapain sih?! dari tadi berisik banget" ucap Amaya yang sedikit kesal dengan pertengkaran kakak beradik didepannya ini.
"Ada orang tenggelem di kolam renang" ucap Lishya santai dengan tangan yang terlipat didadanya.
"Tenggelem? kok bisa?" Tanya Amaya sembari berjalan ke dekat jendela.
"Gua nggak tau"ucap Lishya yang masih dengan wajah sedikit datar, ya walaupun wajahnya datar tidak bisa dipastikan hatinya pun biasa saja.
"Gua mau keluar dulu" ucap Cellyn yang meninggalkan Lishya dan Amaya yang hanya menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
"Kok sekarang jadi gini sih? gua takut, gua mau pulang, gua kangen sama ayah kangen sama mamah, gua nggak mau mati disini" ucap Cellyn dengan kaki yang terus melangkah tanpa arah.
"Mah... yah... Cellyn mau pulang" tanpa sadar Cellyn sudah menangis diam-diam. "Cellyn kangen masakan mamah, Cellyn kangen berantem sama ayah" tangis Cellyn semakin jadi ketika ia mengingat saat terakhir ia bercanda dengan sang ayah yang cosplay jadi maling pake sarung sampai di gebukin sama Mama.
"Udah nggak usah nangis" ucap seorang laki-laki yang tertiba-tiba saja berada disamping Cellyn.
"Loh Haeden? ngapain disini?" dengan cepat Cellyn mengapus air matanya.
"Nggak ngapa-ngapain sih cuma gabut aja"
"Ohh..."
"Eh Cell... btw temen-temen lu mana?"
Mendengar itu pun Cellyn sedikit terkejut, karna tertiba-tiba saja Haeden menanyakan keberadaan teman-temannya padahal dirinya sedang menangis. Tapi dengan cekat Cellyn menjawab, "Ada kok dikamar."
Tak lama dari itu terdengar suara yang sangat familiar ditelinga mereka berdua.
"CELLYN!!!"
"Lu ngapain sih kak teriak-teriakan? Simulasi jadi tarzan?"
"Ya anjir songong banget lu, gua tuh khawatir takut lu penasaran terus malah keluar dari penginapan lagi" ucap Lishya yang belum sadar akan kehadiran Haeden.
"Eh, hai Lishya" ucap Haeden sembari tersenyum kecil.
"Eh, hai Haeden, lu sejak kapan disini?"
"Dari tadi anjir"
"Gini nih kalo anak di matanya ada katarak" ucap Cellyn dengan memutar matanya malas.
"Sialan lu adek laknat"
"Nggak perduli" ucap nya yang meninggalkan Lishya dengan wajah yang masih kesal.
"****** lu anak puongot, sensi banget sampe pengen gua banting" ucap Lishya yang dengan cepat mengejar sang adik yang sudah lumayan jauh, tentu saja Lishya meninggalkan Haeden sendiri yang masih menatap aneh kakak beradik yang tak pernah akur itu.
"Kak Lishya lu ngapain ngejar gua?!" ucap Cellyn yang baru sadar jika sang kakak sudah mengejarnya.
"Sini lu siluman gajah"
"Nggak mau!"
"Jangan lari ******"
"Nggak, nggak, nggak"
Baru saja hampir berhasil mengejar Cellyn, justru tiba-tiba Cellyn berbelok menghindari seseorang di depannya yang justru membuat Lishya menabrak orang tersebut.
"Oh anjir sakit nyed"
"hahaha... mampus siapa suruh ngejar gua, gua tau gua the realy realy beautiful tapi kalo lu yang ngejar berasa di kejar banci arab anjir" ucap Cellyn dengan menjulurkan lidahnya kearah sang kakak.
"Bahasa inggris masih remedial epet-epetan jangan belagu" ucap Lishya menoleh ke Cellyn yang berada di sampingnya.
"Lagian siapa sih yang nambrak gua?" Kesal Lishya dengan cepat ia pun mendongak melihat wajah pemilik dada yang sangat karas itu.
"Loh, Makhen?"
"Kenapa? kaget?" tanya Makhen yang menunduk menatap Lishya.
"Kok lu bisa ada disini?"
"Bukannya yang harus nanya itu gua?" ucap Makhen yang mendapat tatapan tak paham dari Lishya.
"Nih anak di tanya malah balik nanya" batin Lishya yang terheran-heran dengan makhluk satu ini.
"Katanya mau istirahat, kok malah maen kejar-kejaran sama Cellyn?"
"Itu tuh dari gua liat ada orang tenggelem di kolam berenang" ucap Lishya sembari menunjuk arah kolam renang.
"Hah? tenggelem?" ucap Juan yang tiba-tiba muncul membuat Cellyn yang berada di depannya terkaget. Ia menoleh ke belakang, ternyata, di belakang Makhen ada Juan dan Jaeson yang mengikuti.
"Kok bisa?" tanya Jaeson.
"Nggak tau"
"Bocah pen gua lempar ke sungai amazon deh rasanya" ucap Juan yang mendengar jawaban singkat dari Cellyn.
"Lempar aja gua sih setuju banget"
"Lu mau kemana?" ucap Jaeson sedikit berteriak.
"Mau kekolam berenang" ucap Cellyn tanpa menoleh sedikit pun.
"Nggak bisa" ucap Jaeson yang mengejar Cellyn lalu mencengkram lengannya.
"Shh.. sakit anjir" ucap Cellyn sedikit menghempaskan tangan Jaeson kasar.
"Kanapa nggak bisa?" tanya Cellyn lagi.
"Mau mati?" tanya Jaeson dengan dingin dan tatapan tajam, hanya karna dua kata itu, Cellyn terkejut dengan takut. Lalu Cellyn menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Yaudah makanya diem disini, biar gua aja yang periksa" ucap Jaeson mengerutkan alisnya sebal.
"Gua ikut Jae!" ucap Juan mengikuti Jaeson yang sudah berjalan menjauh.
"Bentar ya gua periksa kesana dulu" ucap Makhen, mendengar hal itu tentu saja membuat Lishya tersentak dan mulai merasa khawatir. Melihat hal tersebut, Makhen mengerti ada apa dengan Lishya.
"Tenang aku bakal jaga diri kok" dengan senyuman yang sangat hangat yang manis, mampu membuat jantung Lishya berdetak kencang, dan jangan lupakan wajah Lishya yang sudah sedikit memerah.
"Tunggu sini jangan kemana-mana dulu ya..." ucap Makhen dengan mencubit pipi Lishya yang masih sedikit memerah.
"Yaudah sana cepet" Lishya membalikkan badannya karna tak ingin Makhen melihat wajah merahnya.
Setelah para lelaki keluar untuk mengecek siapa yang tenggelam, Lishya dan Cellyn menunggu mereka di dekat dapur, ya karna jarak pintu belakang yang mengarah kolam berenang tidaklah jauh dari dapur.
Jadi karna mereka malas berjalan kearah ruang tamu mereka memutuskan untuk duduk sebentar di kursi pantry, setidaknya hingga mereka lapar dan memutuskan untuk memakan mie.
"Cell..."
"Hm?"
"Nggak usah sok dingin anjrot" Lishya pun menjitak Cellyn karna sebal.
"Apaan sih ******"
"Lu ngapain lagi cuma hm hm hm hm doang, mau nyanyi sholawatan lu?"
"Bacot banget anjir, anak siapa sih ini?" karna moodnya yang buruk, Cellyn pun mulai panas karna perdebatannya dengan Lishya.
"Anaknya emak sama bapak gua lah"
"Ohh... bukannya anak pongot?"
"Bangk-" ucapan Lishya lagi-lagi terpotong karna mendengar suara berat milik lelaki yang sedari tadi mengawasi mereka yang sedang asik beradu bacot.
"Masih lama debatnya?" tanya laki-laki itu.
"Nggak bentar lagi kelar kok" jawab Lishya tanpa melihat wajah lelaki itu.
"Ohh... yaudah lanjutin nanti kalo udah kibarin bendera putih"
"Sip, kak udah yok gua laper pen makan mie" ucap Cellyn.
"Ayok, tapi lu yang masak"
"Berhubung gua males debat lagi jadi okeh deh gua bikinin"
Setelahnya pun Mereka berpencar Cellyn memasuki dapur sedangkan Lishya berjalan kearah ruang tamu. Disisi Cellyn, perempuan itu sedang asik memasak mie, sembari mengecek beberapa bahan yang ada di kulkas. Siapa tau bahannya bisa menjadi korban kegabutannya yang sudah mendarah daging.
Dan karna Cellyn tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa ia olah akhirnya Cellyn memilih untuk cepat-cepat menyusul sang kakak yang sudah meninggalkan Cellyn layaknya seorang babu. Ralat Cellyn bukan babu tapi adik yang dipaksa untuk menjadi seorang pemasak mie untuk sang kakak durjanah.
"Nih mie lu" ucap Cellyn menaruh pesanan Lishya di meja depannya.
"Ngapa muka lu di tekuk gitu?" tanya Lishya saat sudah menyeruput kuah mienya.
"Nggak ada bahan makanan buat nambahin mienya" jawab Cellyn memakan mienya karna sudah kelaparan.
"Setidaknya kita liat cogan" Cellyn menoleh ke arah Lishya yang sedang menaik turun kan kedua alisnya.
"Iya juga" ucap Cellyn lalu mereka berdua tertawa meresahkan seperti orang mesum.
"Siapa cogan?" secara tiba tiba Cellyn dan Lishya di rangkul, dengan wajah terkejut mereka menoleh ke seseorang di antara mereka. Saat menoleh, ternyata dari belakang sofa ada seorang laki-laki yang tadi di dapur.
"Nggak sopan ya lu..." ucap Cellyn dengan wajah datar, sementara Lishya masih mematung karna ia tak pernah sedekat ini selain kejadian waktu itu saat bertemu dengan teman lelaki barunya dan Cellyn.
"Nggak apa-apa sehat, kenalin gua Yudha" ucap lelaki bernama Yudha tersebut tersenyum.
"Cellyn, ini kakak sepupu gua Lishya" ucap Cellyn menyadari Lishya yang masih syok.
"Oh, pantesan sama cantiknya, saudara ternyata" ucap Yudha menunjukan seringai gombalnya.
"Makasih, gua tau kalo gua biyutipul" ucap Cellyn.
"Cellyn, Lishya! Kita nggak ber-" baru saja Juan kembali dan ingin berbicara dengan kedua gadis tersebut, justru ia melihat pemandangan yang membuatnya kesal.
"Ngapa?" tanya Makhen yang baru saja muncul dengan Jaeson, Juan menjawab pertanyaannya dengan menunjuk Lishya dan Cellyn yang di rangkul oleh seorang laki-laki.
Melihat hal itu, tentu saja mengundang rasa marah dari ketiga lelaki tersebut, bukan kah sangat tak sopan ada lelaki yang seenaknya merangkuk seorang gadis? Namun, karna tak ingin mengundang keributan mereka hanya bisa memandang lelaki itu dengan tatapan tajam.
Jaeson mendekati mereka dan mencengkram pergelangan tangan Yudha, lalu menariknya agar menyingkir dari bahu Cellyn.
"Jangan sentuh dia." ucap Jaeson dengan tatapan tajam.
"Eh? Kenapa?" tanya Lishya yang sudah sadar kembali karna Cellyn menepuk-nepuk paha Lishya, alasannya adalah Celllyn salah tingkah oleh ucapan Jaeson. Makhen menghela nafasnya untuk menenangkan diri, lalu menjawab pertanyaan Lishya.
"Kita nggak berhasil selamatin orang yang tenggelam"
...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...
...Nakamoto Yudha...