The Crystal

The Crystal
6୭̣༉



Udara dingin bersentuhan dengan kulit membuat empat gadis remaja itu bergulung dalam selimut. Meski mereka bergerak untuk menyelimuti diri, nyatanya mereka masih dalam keadaan tak sadar. Mimpi mereka terlalu indah untuk bangun sekarang, maka dari itu, mereka tidur seolah-olah tak pernah istirahat dari bekerja selama satu bulan.


Dengan mimpi Maya yang sedang menjelajahi pulau permen kapas, mimpi Cellyn yang sedang berenang di lautan seblak, dan mimpi Lishya yang bertemu biasnya. Mimpi Amaya? Entahlah, saya sebagai author juga tak tahu karna isinya dark semua.


Cellyn menggigiti bantalnya seperti ia menggigiti sosis toping dari seblak, sampai akhirnya ia sadar menggigiti bantal dengan air liur di seluruh mulut. Ia duduk di kasur lalu menoleh ke bantal yang ia gigiti, banyak air liurnya disana, bahkan bantalnya hampir robek.


Ketika membayangkan seblak lagi, dirinya merasa lapar dan berjalan ke lantai satu untuk membuat mie agar mengganjal perutnya di tengah malam yang dingin ini.


"Ck, ngapain dapurnya di gabung jadi satu, sih? Di lantau satu lagi, kan males turun tangganya" batin Cellyn menggerutu karna dirinya sedang malas, tapi demi sang perut, apa sih yang enggak buatnya.


"Untung gua nyolong mie dari tas Kak Lishya" gumam Cellyn dengan senyuman jahilnya, ia memasak mie milik Lishya tak memikirkan konsekuensi akan betapa menyeramkan Lishya yang mengamuk. Pecandu mie itu pasti akan memarahi Cellyn habis-habisan dari pagi hingga malam, lebih parah lagi mendiamkannya sampai benar-benar tersiksa.


Cellyn meniriskan mie gorengnya lalu mengaduk hingga semua bumbunya tercampur, hidungnya menghirup wangi mie tersebut dan perutnya mulai bergemuruh lagi merasakan lapar. Cellyn mengangkat mienya dengan perasaan bahagia, saat ia menbalikkan badan, ia terkejut dengan keberadaan sosok putih di depan pintu kulkas yang terbuka lebar.


Cellyn ketakutan, ia mundur perlahan dan justru menyenggol panci mie panas yang baru saja ia gunakan. Suara panci terjatuh dan lengan Cellyn terkena air panas, sosok itu berbalik dan menjatuhkan gelas yang ia pegang karna juga terkejut.


"CELLYN?!"


"KAK LISHYA?!" sosok itu adalah Lishya yang menggunakan selimut dari kepala sampai kaki dan menyeret-nyeret selimut tersebut hingga Cellyn mengira bahwa dia adalah hantu.


"Wait-.." Cellyn perlahan merasakan panas di lengan lalu melihat baik baik pergelangan tangan kanannya.


"GUA KESIRAM AIR PANAS AW AW PANAS BANGSUUUUL!!!!" Cellyn menaruh piring berisi mienya dan memegang lengannya dengan rasa panik. Lishya yang ikut panik pun berusaha menghampiri Cellyn, namun baru selangkah, kakinya menginjak pecahan gelas yang ia jatuhkan karna terkejut tadi.


"AAAAA KAKI GUA KETUSUK! AAA KAKI GUA BOLOOONG!!"


"TANGAN GUA MELEPUH AAA KULITNYA ILANG AAAAA"


"KAKI GUA OASU SAKIT!!" Lishya melompat-lompat dengan satu kakinya yang sehat sembari memegang pergelangan kakinya yang terluka dan pada akhirnya Lishya menabrak kulkas membuat suara lebih berisik lagi.


"SIAPA WOY?! MALING YA?!" suara terdengar membuat keduanya yang hampir menangis kesakitan menoleh, mereka mendapati Haeden mengarahkan tongkat kayu ke arah mereka dengan pandangan tajam setajam silet.


"Eh?" Haeden terdiam melihat kedua gadis di depannya yang terluka.


"Ha?" ucap keduanya kompak melihat Haeden yang menatap mereka heran.


"Den, siapa njir? Lama bener lu ngecek doang-" Makhen yang baru saja muncul dan hendak merangkul temannya membeku melihat kedua gadis itu, sama seperti Haeden ia tak mampu berkata-kata.


"Woy! Ayo lanjut maen UNO-" lagi lagi, seorang pria muncul dan lagi lagi membeku melihat gadis yang juga terdiam menatap mereka.


"Malah bengong... BANTUIN ANJIP!!" dengan sifat pemarahnya, Lishya mengamuk melempar sayuran-sayuran yang ada di kulkas entah punya siapa ke arah Haeden, Makhen dan Juan.


"E-eh iya juga... Gimana sih lu pada!" ucap Haeden malah memarahi Makhen dan Juan, yang dimarahi hanya menatap datar lalu menyusul kedua gadis itu tanpa mengucapkan apa-apa.


Makhen menggendong Lishya bridal style lalu membawanya pergi, bagaimana keadaan yang di gendong? Walaupun wajahnya datar, dalamnya salting sampai ingin rumbling.


"Kamu nggak apa apa?" tanya Juan yang sudah berada di depan Cellyn, gadis itu hanya menatapnya datar dan mulai menahan rasa kesalnya.


"Kimi nggik ipi ipi? Hilih disir bicit" ucap Cellyn dengan kekesalan yang sudah menumpuk di dalam hati. Juan yang mendengar itu tertawa lepas dan menggendong Cellyn sama seperti yang di lakukan Makhen.


"Kan yang sakit tangan bukan kaki..." ucap Cellyn, dan Juan hanya tersenyum menatapnya.


"Nggak apa-apa, biar kaki tuan putri nggak pegel jalan" jawab Juan lalu berjalan mengikuti Makhen. Haeden masih diam disana dengan wajah cengo nya, merasa jiwa jomblonya meronta-ronta, ia menggerakan tangan seakan-akan sedang menggendong seseorang lalu berjalan dengan wajah datar dan tanpa di sadari siapa-siapa setetes air mata mengalir.


Lishya dan Cellyn di bawa ke ruang keluarga dimana terdapat Jaeson dan Jidan yang sedang memegang kartu permainannya masing-masing, namun saat mereka menoleh justru mereka melihat Lishya yang di gendong Makhen dengan keadaan kaki yang berdarah, Cellyn yang di gendong Juan dengan keadaan tangan melepuh, dan Haeden yang menggendong angin dengan keadaan mental nggak waras.


"MINGGIR-MINGGIR!" ucap Juan menyuruh Jaeson dan Jidan menyingkir, yang di suruh pun menggeser tempat duduknya di sofa, lalu Makhen mendudukan Lishya di samping Jidan, dan Juan mendudukan Cellyn di samping Jaeson. Cellyn melirik Jaeson yang berada di sebelahnya, namun laki-laki itu justru berdiri dan pergi menjauh membuat Cellyn sedih.


"Jangan peduliin dia, emang gitu orangnya, cuek" ucap Juan mengelus rambut Cellyn.


"Malah mesra-mesraan nih anak... KAKI GUA BERDARAH BANYAK INI WOY! PLIS LAH YA!" ucap Lishya yang sudah frustasi dengan rasa sakit di kakinya ini.


"Oooh, dia Lukaf, temen baru" jawab Jidan dengan senyuman polos membuat Lishya dan Cellyn gemas pengen jodohin sama Maya. Mirip soalnya.


"Halo, kaki sama tangan kalian cukup parah yaa" ucap Lukaf tersenyum canggung melihat tangan Cellyn dan kaki Lishya yang cukup parah.


"Oh, tunggu sebentar!" Lukaf berlari pergi meninggalkan mereka menuju kamar yang tak jauh dari mereka, lalu kembali lagi dengan membawa koper kecil dan menaruh di meja. Lukaf membuka koper teesebut, terlihat peralatan medis yang cukup lengkap membuat mereka sedikit terpukau.


"Masalahnya... Gua nggak tau cara pakai benda-benda ini hehe.." ucap Lukaf menggaruk belakang kepalanya. Makhen menghela nafas lalu menggambil alat pencapit kecil untuk menarik pecahan gelas yang menancap di kaki Lishya.


Saat sudah siap menarik pecahan gelas tersebut, Lishya memegang erat bahu Makhen dengan wajah panik, takut, dan sebagainya.


"Sebentar, ini bakal sakit nggak?..." tanya Lishya dengan keringat dingin bercucuran.


"Cakar aja bahu gua kalo sakit"


"Hah... Ya udah pelan-pelan jangan terlalu ka- SAR AAARG SAKIT!" Lishya yang kesakitan benar-benar meremas bahu Makhen kencang dengan kuku yang menancap di bahunya. Meski Lishya tak suka berkuku panjang seperti Cellyn, tetap saja kuku itu bisa melukai bahu Makhen meski terbalut baju.


"UDAH! SAKIT!" teriak Lishya dan di pandang datar oleh Makhen.


"2 pecahan lagi, masih untung yang nancep cuma yang gede bukan yang kecil, susah ambilnya kalo kecil" ucap Makhen kembali fokus dengan telapak kaki Lishya.


"AW! Rasanya ingin berkata kaSAR AANJ-"


"Shut" Makhen menyumpal mulut Lishya dengan roti yang ada di meja hingga gadis itu tak bisa berbicara leluasa. Setelah selesai menyingkirkan pecahan gelas dari kaki Lishya, Makhen perlahan membersihkan dan mengobati luka kaki Lishya membuat sang gadis sedikit merona akan sikap perhatian Makhen.


"Lukaf punya peralatan medis tapi kok nggak bisa makenya?" tanya Jidan menatap Lukaf yang memasang senyum sendunya.


"Itu peralatan medis yang di pake adek tiri gua, dia... Cewe yang tadi jatuh dari rooftop" ucap Lukaf membuat semua yang ada disana terkejut bukan main.


"Kita kesini berdua, dia di kamar nomor 2 yang tadi gua masukin dan gua di kamar nomor 3, makanya gua nggak tau kalau dia pergi diem-diem ke atas..." lanjut Lukaf menatap lantai sendu.


"Tapi gua berterima kasih sama kalian udah ngubur adik gua dengan baik" ucap Lukaf menatap Makhen dan Juan.


"Ya.. Cerita lu emang sedih, tapi gua sedih bukan karna cerita lu doang, tapi karna luka tangan gua masih sakit anjir..." ucap Cellyn hampir menangis lagi membuat Juan dan Lishya panik.


"Jangan gerak, nanti luka lu kebuka lagi bego!" Makhen menjitak kepala Lishya membuat si gadis mengaduh, Makhen melanjutkan membalut luka Lishya dengan perban sementara Juan masih panik dengan Cellyn yang menekuk bibirnya dengan mata berkaca-kaca.


"Minggir" Juan di dorong dari sofa sebelah Cellyn lalu yang mendorongnya duduk di sebelah Cellyn, itu Jaeson. Ia mencelupkan handuk ke dalam wadah berisi air hangat dan mengompres luka bakar Cellyn dengan lembut.


"Nggak usah kasar kali" Juan menatap Jaeson tajam dengan bibir cemberut seperti anak kecil.


"Sadar umur." ucap Jaeson yang mengetahui Juan memasang wajah menjengkelkan meski tak menoleh. Ia masih fokus mengompres luka di lengan kanan Cellyn, lalu saat handuk itu sudah tak hangat Jaeson akan mecelupkan handuk itu ke wadah air hangat dan mengompres luka Cellyn secara rutin.


"Makasih.." ucap Cellyn menggaruk tekuknya dan mengalihkan pandangan dengan rona merah di wajah. Jaeson hanya berdehem pelan, lalu setelah beberapa menit Jaeson pergi lagi mengganti wadah berisi air panas dengan air dingin, ia kembali mengompres lengan Cellyn dengan lemah lembut membuat hati Cellyn berdegup kencang.


"Btw, kaf, kok lu tinggi banget sih? Titisan tiang tower ya lu?" ucap Haeden menunjuk Lukaf yang justru tertawa kencang.


"Mana ada njjr, haha, ngadi-ngadi nih orang" ucap Lukaf, ia mengambil koper berisi peralatan medis itu setelah Jaeson mengembalikan salep untuk luka Cellyn. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya.


"Gua balik ke kamar ya. Udah kemaleman, dadah, sampe ketemu besok. Eh, maksud gua nanti pagi haha" ucap Lukaf lalu kembali ke kamarnya, mereka hanya melambaikan tangan menjawab lambaian tangan Lukaf. Namun, baru saja mereka menurunkan tangan, suara ledakan terdengar dan pintu kamar nomor 3 hancur dengan api ledakan yang keluar dari dalamnya.


"Lukaf?.."


......꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱......



......Wong Lukaf......